ABU DHABI, ODIYAIWUU.com — Praktisi maritim Indonesia asal Nusa Tenggara Timur Marianus Wilhelmus Lawe Wahang meminta pemerintah pusat merancang desain besar (grand design) pariwisata nasional dengan menjadikan Labuan Bajo di ujung barat Pulau Flores sebagai destinasi pernikahan maritim kelas dunia (floating wedding tourism).
Langkah tersebut, kata Marianus, penting dalam rangka penguatan Labuan Baju sebagai pariwisata premium dunia dan pusat wisata maritim nasional di wilayah timur Indonesia.
Menurutnya, konsep floating wedding tourism akan memberi efek yang luas pada pembangunan jangka menengah dan panjang di wilayah timur serta peningkatan pendapatan nasional sekaligus pendapatan asli daerah (PAD). Hal ini sejalan dengan upaya penyerapan tenaga kerja lokal dan merawat tradisi dan budaya.
“Nusa Tenggara Timur memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor Wisata Pernikahan di atas kapal di Indonesia bahkan dunia. Potensi itu tersedia di NTT khususnya Labuan Bajo dengan keunggulan panorama alam, budaya, dan identitas maritim yang dimilikinya” ujar Marianus melalui keterangan tertulis dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Senin (20/7).
Marianus yang kini tengah bekerja di Perairan Teluk Hormuz, Timur Tengah, menambahkan, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Dalam orientasi bisnis masa depan, laut tidak hanya sekadar dipandang sebagai pemisah pulau, tetapi harus menjadi pusat ekonomi masa depan. Karena itu Labuan Bajo sangat layak dikembangkan sebagai pusat wisata pernikahan maritim dunia.
Selama ini, Marianus, praktisi maritim kelahiran Pulau Lembata, concern dengan isu-isu pariwisata Indonesia dan daerah di Tengah kesibukannya sebagai seorang kepala kamar mesin (chief engineer) kapal pelayaran internasional.
Ia sering membagikan pengalamannya dan memberi masukan bagi pembangunan daerah di timur Indonesia, khususnya di bidang kelautan, maritim dan pariwisata.
Marianus menilai, sektor pariwisata harus dikembangkan lebih jauh dari sekadar wisata kunjungan biasa. Pemerintah daerah diingatkan Marianus, perlu mulai mengambil langkah-langkah kebijakan pembangunan pariwisata yang mengakomodir industri pengalaman eksklusif di bidang wisata yang memiliki nilai tambah (added value) secara ekonomi.
“Konsep wisata pernikahan terapung dapat memberikan dampak ekonomi besar terhadap daerah karena mampu menggerakkan banyak sektor sekaligus. Satu kegiatan pernikahan premium bisa menghidupkan hotel, restoran, kapal wisata, jasa dekorasi, fotografi, transportasi, UMKM, hingga tenaga kerja kreatif lokal. Ini bukan hanya soal pesta, tetapi pengungkit ekonomi rakyat. Pembangunan daerah pun semakin maju dan modern,” katanya.
Menurutnya, negara-negara seperti Maldives, Santorini di Yunani dan Bora Bora telah berhasil membangun ekonomi wisata premium dengan menjual pengalaman romantis dan eksklusif kepada wisatawan dunia.
“Dari pengalaman di dunia maritim, saya mengusulkan agar pemerintah daerah menodorong investor menghadirkan kapal wisata moderen yang dapat difungsikan sebagai ‘gedung terapung’ untuk kegiatan-kegiatan eksklusif dan acara keluarga premium lainnya,” ujar Marianus, praktisi maritim lulusan Universitas Trisakti, Jakarta.
Marianus menjelaskan, kapal tersebut tidak hanya menjadi alat transportasi laut tetapi juga ruang multifungsi yang dapat digunakan untuk resepsi pernikahan, bulan madu, konser privat, hingga pertemuan bisnis.
“Kita harus mulai berpikir bahwa gedung pernikahan tidak hanya ada di darat. Gedung juga bisa terapung di laut, bergerak dari pulau ke pulau, dengan pemandangan laut Flores yang sangat indah,” kata Marianus lebih lanjut.
Marianus menambahkan, destinasi wisata Labuan Bajo yang berkelas dunia seharusnya mendapat dukungan pemerintah pusat agar siap dengan konsep floating wedding tourism. Konsep tersebut sangat cocok diterapk mengingat daerah itu telah memiliki fasilitas dasar yang cukup memadai dan dikenal dunia internasional.
“Labuan Bajo memiliki seluruh syarat untuk menjadi pusat wisata maritim premium karena didukung panorama alam tropis, gugusan pulau, matahari terbenam, serta keberadaan Taman Nasional Komodo yang telah mendunia,” kata Marianus.
Selain itu, ketersediaan infrastruktur seperti bandara, hotel, pelabuhan, dan fasilitas wisata dinilai menjadi modal besar bagi pengembangan wisata premium internasional.
Dengan kapal terapung, wisatawan maritim bisa diajak berlayar mengitari daerah NTT lainnya sambil berkegiatan secara eklusif dan menikmati berbagai obyek wisata alam dan kekayaan tradisi budaya yang menakjubkan. Dari kampung tradisional, gunung api, Kelimutu, taman laut, wisata rohani, hingga penangkapan ikan paus.
“Secara umum Labuan Bajo sudah cukup akseptabel bagi wisatawan dunia. Tinggal bagaimana menghadirkan gagasan baru yang lebih visioner dan berbeda dari daerah lain,” ujar Marianus.
Marianus juga mendorong pemerintah daerah untuk secara serius menarik kelompok ekonomi atas dari Indonesia maupun dunia agar bisa datang dan melaksanakan kegiatan eksklusif seperti acara keluarga hingga pernikahan maritin di Labuan Bajo. Masyarakat kelas atas global saat ini tidak hanya membeli barang, tetapi juga membeli pengalaman eksklusif dan simbol prestise.
“Pernikahan di atas kapal di Labuan Bajo bisa menjadi simbol kemewahan baru Asia Tenggara. Kita perlu mengundang orang-orang kaya dunia datang ke Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur dan menikmati pengalaman maritim terbaik di Indonesia,” katanya.
Marianus juga menyarankan agar pemerintah daerah mulai membangun kerja sama dengan investor global, mengadakan festival pernikahan maritim internasional serta menggandeng influencer dan tokoh dunia untuk terus mempromosikan Labuan Bajo.
Selain meningkatkan PAD, ia menilai konsep wisata pernikahan maritim juga dapat menciptakan efek ekonomi berantai bagi masyarakat lokal.
Produk tenun Flores, kopi Flores, kerajinan tangan, dan kuliner khas daerah juga dinilai dapat menjadi bagian penting dalam paket wisata internasional premium seperti ini.
“Pariwisata harus menjadi ruang pertumbuhan ekonomi rakyat. Masyarakat lokal harus menjadi pelaku utama, bukan hanya penonton,” katanya.
Ia berharap agar Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur mulai menyusun regulasi khusus terkait wisata maritim premium serta membuka ruang kebijakan untuk menghadirkan kapal wisata modern melalui kerja sama investasi.
Selain itu, perlu terus melakukan promosi internasional secara lebih agresif agar Labuan Bajo semakin dikenal sebagai destinasi wisata premium dunia.
“Labuan Bajo bukan hanya milik Nusa Tenggara Timur. Labuan Bajo adalah wajah baru Indonesia maritim. Bapak Presiden bersama jajaran menterinya juga sudah memiliki komitmen kuat memajukan Indonesia termasuk sektor pariwisata seperti Labuan Bajo,” ujar Marianus. (*)










