Kementerian Kehutanan Sebut Balai Taman Nasional Lorentz Memiliki 40 Orang Tenaga Fungsional

Taman Nasional Lorentz, taman nasional yang luasnya 2,3 juta hektare dan terbesar di Indonesia. Sumber foto: tempo.co, 14 November 2025

WAMENA, ODIYAIWUU.com — Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan Republik Indonesia menyebut Balai Taman Nasional Lorentz memiliki tenaga fungsional kurang lebih sebanyak 40 orang.

Kepala Badan Taman Nasional Lorentz Manuel Mirino mengatakan, jumlah tenaga fungsional sangat terbatas dalam membantu mengelola taman nasional yang begitu luas.

“Balai Taman Nasional Lorentz memiliki tenaga fungsional kurang lebih 40 orang, dan jumlah ini sangat terbatas untuk dapat mengelola taman nasional yang luasnya 2,3 juta hektare,” ujar Manuel Mirino di Wamena, Jayawijaya, Papua Pegunungan, Jumat (21/8).

Menurut Manuel, dengan terbatasnya tenaga fungsional, untuk mengelola Taman Nasional Lorentz harus memiliki strategis khusus. “Untuk mengelola taman nasional yang sangat luas seperti ini harus memiliki strategi khusus, sehingga pengelolaannya dapat berjalan maksimal,” katanya.

Manuel menjelaskan, Tanam Nasional Lorentz memiliki luasan 2,3 juta hektare dan terluas di Indonesia, karena mencakup tiga provinsi, yakni Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

“Dengan keterbatasan sumber daya manusia, upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga Taman Nasional Lorentz adalah melakukan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat di tiga provinsi tersebut,” katanya.

Manuel menambahkan, pihaknya memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian di Taman Nasional Lorentz. Dalam upaya menjaga kelestarian Taman Nasional Lorentz, masyarakat menjadi poin utama untuk diberdayakan membantu melestarikan taman nasional tersebut.

“Sosialisasi yang kami berikan adalah bagaimana masyarakat dapat mengelola Taman Nasional Lorentz dengan arif dan bijaksana, tetapi juga mereka harus dapat menjaga keseimbangan alam,” ujar Manuel.

Manuel mengatakan, kegiatan yang dilakukan bersama masyarakat yang berada di Taman Nasional Lorenzt adalah program pemberdayaan seperti di Walay, Nabire, dan Timika.

“Pada intinya pemberdayaan itu kami lakukan untuk mengalihkan masyarakat supaya tidak lagi melakukan aktivitas di dalam kawasan Taman Nasional Lorentz, dan pemberdayaan ini kami lakukan secara bertahap mengajarkan masyarakat supaya kawasan taman nasional ini terus terjaga,” kata Manuel. (*)