Obituari: Oscar Wambrauw, Uncen, dan Masa Depan Pendidikan di Tanah Papua

   Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen) Almarhum Prof Dr Oscar Oswald Octovianis Wambrauw SE, M.Sc.Agr. Foto: Istimewa

UNIVERSITAS Cenderawasih (Uncen) bukan sekadar sebuah institusi pendidikan tinggi. Bagi tanah Papua, Uncen merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah pembangunan manusia Papua.

Dari kampus inilah lahir banyak intelektual, birokrat, akademisi, politisi, pendidik, pemimpin gereja, profesional, dan tokoh masyarakat yang kemudian mengambil bagian dalam pembangunan Papua.

Karena itu, ketika Uncen menghadapi berbagai persoalan, yang dipertaruhkan bukan hanya kepentingan internal universitas, tetapi juga masa depan pendidikan dan sumber daya manusia Papua.

Wafatnya Rektor Uncen Prof Dr Oscar Oswald Wambrauw, SE, Msc.Arg, Kamis (17/9) pagi menjadi momentum untuk melakukan perenungan yang lebih mendalam. Kepergian seorang pemimpin universitas tidak seharusnya hanya dikenang melalui seremoni dan ucapan belasungkawa. Warisan kepemimpinannya perlu diteruskan melalui kerja nyata untuk memperkuat universitas dan pendidikan di tanah Papua.

Pertama. persoalan Uncen adalah persoalan bersama. Sebagai perguruan tinggi negeri yang memiliki sejarah panjang di Papua, Uncen tentu menghadapi tantangan yang kompleks.

Tantangan tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek: tata kelola kelembagaan, kualitas sumber daya manusia (SDM), pengembangan penelitian, publikasi ilmiah, kualitas pembelajaran, sarana-prasarana, kesejahteraan sivitas akademika serta hubungan universitas dengan pemerintah dan masyarakat.

Universitas tidak boleh hanya menjadi tempat memperoleh gelar akademik. Universitas harus menjadi pusat produksi pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan Papua.

Papua memiliki persoalan yang sangat kompleks: pendidikan, kesehatan, kemiskinan, ketimpangan pembangunan, pengelolaan sumber daya alam, konflik sosial, perubahan lingkungan, perlindungan masyarakat adat, pemberdayaan perempuan dan anak, serta transformasi ekonomi.

Karena itu, Uncen harus mampu bertanya: apa kontribusi ilmu pengetahuan yang kita hasilkan untuk menjawab persoalan nyata masyarakat Papua?

Pertanyaan tersebut penting karena ukuran keberhasilan perguruan tinggi bukan hanya berapa banyak lulusan yang dihasilkan, tetapi juga seberapa besar ilmu pengetahuan memberikan perubahan bagi masyarakat.

Kedua, tantangan tata kelola universitas. Salah satu persoalan penting perguruan tinggi modern adalah tata kelola. Universitas membutuhkan kepemimpinan yang transparan, akuntabel, profesional, dan partisipatif. Pengambilan keputusan harus berbasis data, aturan, serta kepentingan institusi jangka panjang.

Perbedaan pendapat di lingkungan akademik merupakan sesuatu yang wajar. Bahkan, perbedaan pendapat adalah bagian dari tradisi universitas. Namun, perbedaan tersebut harus diselesaikan melalui dialog akademik, mekanisme kelembagaan, dan penghormatan terhadap aturan.

Universitas tidak boleh kehilangan energi karena konflik internal yang berkepanjangan. Energi akademik harus diarahkan kepada tiga hal: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ketiga, membangun dosen sebagai kekuatan utama universitas. Tidak ada universitas yang kuat tanpa dosen yang kuat. Karena itu, pengembangan Uncen harus memberikan perhatian besar kepada pengembangan karier dosen, jabatan fungsional, doktorisasi, profesor, penelitian, publikasi internasional, kerja sama akademik, serta pengembangan kompetensi digital.

Dosen Papua harus diberikan ruang untuk berkembang menjadi produsen pengetahuan tentang Papua, bukan hanya menjadi pengguna teori yang dikembangkan di luar Papua. Papua membutuhkan teori, konsep, model kebijakan, dan pendekatan pembangunan yang lahir dari pengalaman masyarakat Papua sendiri.

Keempat, Uncen harus menjadi pusat pengetahuan tentang Papua. Uncen mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki banyak perguruan tinggi lain: Uncen berada di tanah Papua dan hidup bersama masyarakat Papua.

Karena itu, Uncen memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk menjadi salah satu pusat utama studi tentang Papua. Penelitian tentang masyarakat adat, budaya, bahasa, lingkungan, ekonomi, politik, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, gender, anak, dan pembangunan Papua perlu diperkuat.

Pengetahuan lokal tidak boleh ditempatkan sebagai pengetahuan kelas dua. Pengetahuan masyarakat adat adalah sumber epistemologi yang harus dihargai dalam pembangunan ilmu pengetahuan.

Kelima, membangun kerja sama internasional. Masa depan Uncen juga sangat bergantung pada kemampuannya membangun jejaring internasional. Kerja sama dengan perguruan tinggi di Pasifik, Selandia Baru, Australia, Asia, dan berbagai kawasan lainnya harus diarahkan bukan hanya kepada penandatanganan MoU.

Namun, kepada program nyata: penelitian bersama, pertukaran dosen, pertukaran mahasiswa, publikasi bersama, konferensi internasional, pengembangan program studi, dan penguatan kapasitas akademik serta pengembangan pusat-pusat studi. Dengan demikian, Uncen dapat menjadi jembatan akademik antara Papua, Indonesia, dan dunia Pasifik.

Keenam, pendidikan harus berpihak kepada generasi muda Papua. Persoalan terbesar Papua pada akhirnya kembali kepada manusia. Tanah Papua memiliki kekayaan alam yang besar, tetapi kekayaan tersebut tidak akan otomatis menghasilkan kesejahteraan apabila tidak disertai sumber daya manusia yang berkualitas.

Karena itu, investasi terbesar Papua haruslah investasi pada manusia. Anak-anak Papua harus mendapatkan pendidikan sejak usia dini yang berkualitas. Remaja Papua harus mendapatkan pendidikan menengah yang kuat.

Mahasiswa Papua harus mendapatkan pendidikan tinggi yang mampu membawa mereka menjadi pemimpin masa depan. Universitas Cenderawasih harus menjadi salah satu lokomotif dari proses tersebut.

Ketujuh, mengenang Rektor Uncen Prof Dr Oscar Oswald O Wambrauw, SE, MSc.Arg melalui kerja nyata. Wafatnya seorang rektor adalah kehilangan bagi keluarga, universitas, dan masyarakat akademik.

Namun, cara terbaik untuk menghormati seorang pemimpin yang telah meninggalkan kita bukan hanya dengan memasang nama di sebuah ruangan atau menyelenggarakan acara peringatan. Warisan seorang pemimpin harus diteruskan melalui nilai, gagasan, dan pekerjaan yang baik.

Karena itu, wafatnya Prof Oscar Wambrauw hendaknya menjadi momentum untuk bertanya: Uncen seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi Papua berikutnya?

Apakah kita ingin mewariskan universitas yang sibuk dengan persoalan internal, atau universitas yang menjadi pusat keunggulan akademik Papua? Apakah kita ingin menghasilkan lulusan yang hanya mencari pekerjaan, atau lulusan yang mampu menciptakan perubahan?

Apakah kita ingin penelitian tentang Papua terus ditulis oleh orang lain atau Uncen menjadi salah satu pusat dunia dalam menghasilkan pengetahuan tentang Papua? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pekerjaan bersama.

Kedelapan, membangun Uncen sebagai “mesin peradaban Papua”. Uncen harus ditempatkan sebagai mesin peradaban Papua. Peradaban tidak dibangun hanya dengan infrastruktur.

Peradaban dibangun melalui manusia yang berpendidikan, berkarakter, memiliki pengetahuan, mampu berpikir kritis, menghargai budaya, serta memiliki keberanian untuk membangun masa depan.

Karena itu, Uncen harus menjadi rumah bagi kebebasan akademik, penelitian, dialog, inovasi, dan pengembangan kepemimpinan Papua. Kampus harus menjadi tempat di mana anak Papua belajar bahwa mereka bukan hanya objek pembangunan, tetapi subjek yang memiliki kemampuan menentukan masa depan tanah dan bangsanya melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kerja nyata.

Kesembilan, agenda pembenahan ke depan. Untuk membangun pendidikan tinggi di tanah Papua, beberapa agenda strategis dapat didorong. Pertama, reformasi tata kelola. Memperkuat transparansi, akuntabilitas, profesionalisme, dan partisipasi sivitas akademika.

Kedua, penguatan SDM. Mendorong peningkatan kualifikasi dosen, profesor, peneliti, tenaga kependidikan, dan pemimpin akademik. Ketiga, peningkatan mutu pendidikan. Memperkuat kurikulum, pembelajaran berbasis teknologi, kualitas program studi, serta sistem penjaminan mutu.

Keempat, penguatan penelitian. Mendorong penelitian yang menjawab persoalan strategis Papua. Kelima, hilirisasi pengetahuan. Hasil penelitian tidak boleh berhenti di perpustakaan atau jurnal.

Pengetahuan harus diterjemahkan menjadi kebijakan, inovasi, dan program pembangunan. Keenam, penguatan pendidikan karakter. Universitas harus melahirkan manusia Papua yang berintegritas, memiliki etika, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap masyarakat.

Ketujuh, memperkuat hubungan dengan masyarakat adat. Universitas harus hadir bersama masyarakat, bukan hanya berbicara tentang masyarakat. Kedelapan, memperluas jejaring internasional. Papua harus menjadi bagian dari jaringan pengetahuan global, khususnya kawasan Pasifik.

Melanjutkan Warisan untuk Papua

Kepergian Prof Dr Oscar Wambrauw seharusnya tidak hanya meninggalkan kesedihan. Kepergian beliau hendaknya menjadi panggilan untuk melanjutkan pekerjaan besar membangun pendidikan di tanah Papua.

Uncen memiliki sejarah, memiliki sumber daya manusia, memiliki pengalaman, dan memiliki posisi strategis untuk menjadi salah satu pusat pendidikan tinggi terpenting di kawasan Pasifik.

Tetapi masa depan itu tidak akan datang dengan sendirinya. Ia membutuhkan keberanian untuk melakukan pembenahan, kerendahan hati untuk berdialog, keteguhan untuk menjaga integritas akademik, dan kesediaan untuk menempatkan kepentingan pendidikan Papua di atas kepentingan pribadi dan kelompok.

Kita boleh kehilangan seorang pemimpin, tetapi jangan sampai kita kehilangan cita-cita yang diperjuangkannya. Kita boleh berduka atas kepergian Rektor Oscar Wambrauw, tetapi duka itu harus diubah menjadi energi untuk membangun Universitas Cenderawasih.

Sebab membangun Uncen berarti membangun manusia Papua. Membangun manusia Papua berarti membangun masa depan tanah Papua. Dan membangun masa depan tanah Papua adalah tanggung jawab kita bersama.

Tulisan ini saya berikan untuk kita sekalian warga kampus:  dosen, mahasiswa, tenaga pendidik, dan semua insan pendidikan di tanah Papua. Senjata terbesar untuk Papua maju adalah pendidikan. Janganlah kita merusak mesin peradaban orang Papua ini. Kita harus rawat dan jaga.

“Temanku Oscar O Wambrauw, engkau adalah bagian dari proses merawat mesin peradaban ini di ladang kerja nyata. Kini, engkau telah pergi. Terima kasih atas kerja kerasmu. Pulanglah dalam damai. Bapa di Surga menyambutmu.

Prof Dr Vince Tebay, S.Sos, M.Si

Guru Besar Universitas Cenderawasih, Jayapura