OPINI  

Pendidikan Emansipatorik: Melampaui Multa Menuju Multum

Ben Senang Galus, Esais, tinggal di Yogyakarta. Foto: Istimewa

Oleh Ben Senang Galus

Esais, tinggal di Yogyakarta

PENDIDIKAN pada hakikatnya bukan sekadar proses memperbanyak pengetahuan, mengumpulkan informasi, atau memenuhi ingatan dengan berbagai konsep. Di tengah arus informasi yang semakin deras, manusia justru berhadapan dengan pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa pengetahuan itu diperoleh, bagaimana pengetahuan dimaknai, dan ke mana pengetahuan tersebut membawa kehidupan manusia?

Pendidikan emansipatorik menempatkan proses pendidikan sebagai jalan pembebasan manusia dari ketidaktahuan, ketergantungan, dan cara berpikir yang membelenggu. Pembebasan tersebut bukan terutama tentang seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang.

Pembebasan juga terkait kemampuan untuk memahami, mempertanyakan, merefleksikan, dan menggunakan pengetahuan secara kritis dan bertanggung jawab. Pendidikan tidak sekadar menghasilkan manusia yang “tahu banyak”, tetapi manusia yang mampu memberi makna terhadap apa yang diketahuinya.

Karena itu, pendidikan emansipatorik mengundang kita untuk menggeser orientasi pendidikan: dari sekadar menambah isi kepala menuju pembentukan cara berpikir; dari menghafal jawaban menuju keberanian mengajukan pertanyaan; dan dari akumulasi pengetahuan menuju pemahaman yang membebaskan.

Pada titik inilah pendidikan menemukan maknanya sebagai proses memanusiakan manusia —membantu setiap pribadi bukan hanya mengetahui lebih banyak, tetapi memahami lebih dalam dan bertindak lebih bermakna.

Karena itu, pertanyaan paling mendasar tentang pendidikan bukanlah “berapa banyak yang diketahui anak?”, melainkan “menjadi manusia seperti apakah anak itu setelah menjalani pendidikan?” Pertanyaan ini menjadi semakin penting di tengah dunia yang berubah begitu cepat.

Teknologi digital, kecerdasan buatan, otomatisasi, perubahan sosial, krisis ekologis, dan transformasi dunia kerja membuat pengetahuan yang hari ini dianggap penting dapat menjadi usang dalam waktu yang relatif singkat. Dalam situasi seperti ini, pendidikan yang hanya mengajarkan hafalan justru sedang mempersiapkan manusia untuk menghadapi masa lalu.

Kedalaman Pengetahuan

Pendidikan harus diarahkan kepada proses emansipasi para mitra didik. Non multa sed multum: bukan banyaknya yang diketahui, melainkan kedalaman pengetahuan. Adagium Romawi klasik ini mengandung kritik mendasar terhadap pendidikan yang terlalu mengejar kuantitas pengetahuan.

Anak tidak perlu mengetahui segala sesuatu secara dangkal. Yang lebih penting adalah kemampuan memahami, mempertanyakan, menghubungkan, menemukan makna, dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Pendidikan yang berorientasi pada drill dan hafalan cenderung menghasilkan manusia multa: tahu banyak hal, tetapi belum tentu memahami kedalamannya. Anak dapat menghafal definisi, rumus, tanggal, nama tokoh, bahkan mampu memperoleh nilai tinggi dalam ujian. Namun, ketika berhadapan dengan persoalan nyata, ia belum tentu mampu berpikir secara mandiri.

Di sinilah paradoks pendidikan muncul. Kita dapat menghasilkan manusia yang sangat terdidik secara administratif, tetapi belum tentu tercerahkan secara intelektual.

Sistem pendidikan yang terlalu menekankan hafalan juga berisiko melahirkan manusia “siap pakai” dalam arti yang problematis: siap disuruh, tetapi tidak selalu siap bertanya; siap mengikuti instruksi, tetapi tidak selalu siap menciptakan; siap menjawab soal, tetapi tidak selalu siap menghadapi persoalan.

Padahal, pendidikan sejati justru harus melahirkan manusia yang mampu mengatakan: mengapa? Pertanyaan “mengapa” merupakan awal dari kebebasan berpikir.

Socrates telah menunjukkan hal ini melalui metode dialog. Ia tidak memulai pendidikan dengan mengisi kepala murid dengan jawaban, tetapi dengan pertanyaan.

Bagi Socrates, kesadaran akan ketidaktahuan merupakan pintu menuju pengetahuan. Manusia yang merasa sudah mengetahui segala sesuatu justru sulit belajar. Pendidikan dengan demikian harus menghidupkan kembali keberanian untuk bertanya.

Pendidikan Sebagai Proses Emansipasi

Gagasan pendidikan sebagai emansipasi mendapat artikulasi kuat dalam pemikiran Paulo Freire. Dalam Pedagogy of the Oppressed, Freire mengkritik apa yang disebutnya sebagai “pendidikan gaya bank”, yakni pendidikan ketika guru diposisikan sebagai pihak yang memiliki pengetahuan sementara peserta didik hanya menjadi tempat penyimpanan pengetahuan.

Dalam model seperti itu, guru berbicara dan murid mendengar. Guru bertanya dan murid menjawab. Guru menentukan kebenaran dan murid menerima. Hubungan pendidikan menjadi vertikal dan satu arah.

Freire menawarkan pendidikan dialogis. Guru dan peserta didik sama-sama menjadi subjek pembelajaran. Guru memang memiliki pengalaman dan pengetahuan tertentu, tetapi peserta didik juga datang dengan pengalaman hidup, kebudayaan, bahasa, imajinasi, dan pengetahuan yang diperoleh dari lingkungan sosialnya.

Karena itu, peserta didik bukan gelas kosong yang harus diisi. Anak datang ke sekolah membawa dunia. Ia membawa keluarga, kampung, bahasa, pengalaman, rasa ingin tahu, kegembiraan, ketakutan, imajinasi, dan berbagai potensi yang belum seluruhnya berkembang.

Pendidikan tidak boleh mematikan semua itu demi keseragaman. Pendidikan justru harus membantu potensi tersebut menemukan bentuknya. Dalam konteks tersebut, pendidikan perlu diarahkan kepada tiga sasaran emansipatorik utama: manusia eksplorator, manusia kreatif, dan manusia integral.

Pertama, manusia eksplorator. Manusia eksplorator adalah manusia yang tidak takut memasuki wilayah yang belum diketahui. Ia memiliki rasa ingin tahu. Ia berani bertanya, mencari, mencoba, meneliti, membandingkan, dan menemukan. Pendidikan harus mengubah rasa ingin tahu anak menjadi energi intelektual.

Anak yang bertanya terlalu banyak jangan buru-buru dianggap mengganggu kelas. Bisa jadi, justru pertanyaannya merupakan tanda bahwa pikirannya sedang bekerja. Sekolah seharusnya menjadi laboratorium pertanyaan.

Mengapa sungai tercemar? Mengapa masyarakat miskin meskipun daerahnya kaya sumber daya alam? Mengapa hutan harus dilindungi? Mengapa konflik terjadi? Mengapa teknologi dapat membantu manusia sekaligus mengancam manusia? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu jauh lebih penting daripada sekadar menghafalkan jawaban.

Kedua, manusia kreatif. Kreativitas bukan sekadar kemampuan menghasilkan karya seni. Kreativitas adalah kemampuan melihat kemungkinan baru. Ia merupakan kemampuan menghubungkan berbagai hal yang sebelumnya tampak terpisah.

Dalam dunia yang berubah cepat, manusia kreatif memiliki daya adaptasi lebih besar. Ketika sebuah cara tidak lagi relevan, ia mencari cara baru. Ketika menghadapi persoalan, ia tidak berhenti pada keluhan, tetapi mencari kemungkinan solusi. Karena itu, sekolah jangan hanya mengajarkan “jawaban yang benar”. Sekolah juga harus memberi ruang bagi anak untuk menemukan kemungkinan jawaban.

Ada kalanya seorang anak menghasilkan jawaban yang berbeda dari buku teks. Guru tidak harus langsung mengatakan salah. Pertanyaan yang lebih produktif adalah “mengapa kamu berpikir demikian?” Pertanyaan itu membuka ruang dialog.

Ketiga, manusia integral. Pendidikan tidak boleh hanya mengembangkan otak dan mengabaikan hati. Manusia bukan mesin kognitif. Ia adalah makhluk yang berpikir, merasa, mencintai, berelasi, bermoral, beriman, dan hidup bersama alam.

Manusia integral adalah manusia yang berkembang secara utuh: intelektual, moral, sosial, emosional, spiritual, dan ekologis.

Pengetahuan tanpa moral dapat menjadi berbahaya. Kecerdasan tanpa empati dapat berubah menjadi manipulasi. Kreativitas tanpa tanggung jawab dapat menghasilkan kerusakan. Karena itu, pendidikan harus menyatukan kecerdasan dengan kebijaksanaan.

Anak Bukan Tabula Rasa

Salah satu kesalahan mendasar dalam pendidikan adalah menganggap anak sebagai tabula rasa, papan kosong yang dapat ditulisi sesuka hati. Setiap anak hadir dengan keunikan.

Ia memiliki daya hidup, temperamen, minat, kecenderungan, bakat, pengalaman, dan cara belajar yang berbeda. Bahkan dua anak yang lahir dalam keluarga yang sama dapat berkembang menjadi pribadi yang sangat berbeda.

Karena itu, pendidikan tidak seharusnya menjadi mesin produksi manusia seragam. Pendidikan bukan pabrik. Sekolah bukan industri yang mencetak produk dengan ukuran sama.

Metafora ini penting karena pendidikan modern kadang terjebak dalam logika industrial: semua anak masuk melalui pintu yang sama, menerima kurikulum yang sama, diuji dengan cara yang sama, lalu diukur menggunakan standar yang sama. Padahal manusia bukan produk pabrik. Manusia adalah proyek yang selalu menjadi.

Di sinilah pemikiran Ki Hadjar Dewantara menjadi sangat relevan. Pendidikan harus menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Kata penting di sini adalah menuntun. Guru bukan penguasa atas kehidupan anak. Guru adalah penuntun.

Guru Sebagai Bidan

Gambaran guru sebagai bidan memiliki akar filosofis yang menarik. Socrates menyebut metode dialognya sebagai maieutics, dari kata Yunani yang berkaitan dengan seni kebidanan. Bidan tidak menciptakan bayi. Bidan membantu proses kelahiran.

Demikian pula guru tidak menciptakan potensi anak dari ketiadaan. Guru membantu potensi yang sudah ada dalam diri anak agar dapat lahir, berkembang, dan menemukan bentuknya.

Analogi ini mengubah secara radikal cara kita memahami profesi guru. Guru bukan “pengisi kepala”. Guru adalah pendamping kelahiran intelektual dan kemanusiaan.

Guru membantu anak menemukan pertanyaannya sendiri. Guru menemani kegagalan. Guru memberi ruang bagi eksperimen. Guru membantu anak membaca kesalahan bukan sebagai akhir, tetapi sebagai bagian dari proses belajar.

Dalam pendidikan seperti ini, kesalahan tidak selalu menjadi sesuatu yang harus dihukum. Kesalahan dapat menjadi sumber pengetahuan. Anak yang salah menjawab bukan berarti gagal sebagai manusia. Ia sedang belajar.

Pembentukan Manusia Secara Utuh

Gagasan ini juga sejalan dengan konsep Yunani kuno tentang paideia. Pendidikan bukan sekadar instruction, melainkan pembentukan manusia secara utuh. Namun, maknanya jauh lebih luas daripada pengertian pendidikan sebagai kegiatan sekolah atau transfer pengetahuan.

Dalam tradisi Yunani, paideia menunjuk pada proses pembentukan pribadi manusia agar menjadi manusia yang baik, berbudaya, berpikir kritis, memiliki keutamaan, dan mampu menjalankan kehidupan bersama secara bertanggung jawab.

Karena itu, yang dibentuk bukan hanya kecerdasan, tetapi juga karakter, kepekaan moral, tubuh, rasa keindahan, kemampuan berbahasa, dan kecakapan hidup sebagai warga polis.

Paideia tidak hanya bertanya: apa yang diketahui seseorang? Ia bertanya: manusia macam apa yang sedang dibentuk? Pertanyaan tersebut sangat penting bagi pendidikan Indonesia.

Kita dapat memiliki sekolah dengan gedung megah, teknologi canggih, jaringan internet cepat, laboratorium modern, dan kurikulum yang terus diperbarui. Namun semuanya akan kehilangan makna apabila pendidikan tidak berhasil membentuk manusia yang merdeka, bertanggung jawab, kritis, kreatif, dan berkarakter.

Teknologi Tidak Boleh Menggantikan Manusia

Justru semakin kuat teknologi, semakin penting dimensi kemanusiaan pendidikan. Kecerdasan buatan, artificial intelligence dapat menghasilkan informasi dalam hitungan detik. Tetapi AI tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan bertanya, menilai, memilih, dan bertanggung jawab.

Tantangan pendidikan masa depan bukan lagi sekadar bagaimana manusia mengetahui lebih banyak daripada mesin. Tantangannya adalah bagaimana manusia tetap menjadi manusia ketika mesin semakin cerdas.

Karena itu, sekolah harus bergerak dari paradigma hafalan menuju paradigma pengalaman. Anak perlu belajar melalui proyek, penelitian, dialog, observasi, eksperimen, seni, alam, masyarakat, dan kehidupan nyata. Sekolah harus menjadi ruang di mana anak mengalami dunia, bukan sekadar membaca tentang dunia.

Belajar tentang sungai tidak cukup dengan membaca definisi sungai. Anak dapat diajak mengamati sungai di lingkungannya. Belajar tentang kemiskinan tidak cukup dengan menghafalkan definisinya.

Anak perlu memahami kehidupan masyarakat yang mengalami kemiskinan dengan cara yang etis dan bermartabat. Dengan demikian, pendidikan menjadi pengalaman eksistensial. Anak tidak hanya mengetahui sesuatu, tetapi mengalami dan memaknainya.

Pada akhirnya, non multa sed multum merupakan panggilan untuk mengembalikan pendidikan kepada kedalaman. Pendidikan tidak perlu mengejar manusia yang mengetahui segala sesuatu, tetapi manusia yang mampu memahami sesuatu secara mendalam, berpikir secara kritis, bertindak secara kreatif, dan hidup secara integral.

Manusia eksplorator membuka pintu pengetahuan. Manusia kreatif membuka kemungkinan masa depan. Manusia integral memastikan bahwa masa depan itu tetap manusiawi.

Inilah pendidikan emansipatorik: bukan mencetak manusia untuk memenuhi kebutuhan sistem, melainkan membantu manusia menemukan kemampuan untuk membentuk dirinya dan ikut membentuk dunia.

Sebab pendidikan yang paling tinggi bukan ketika anak mampu menghafal sebanyak-banyaknya, melainkan ketika ia berani bertanya, mampu berpikir, sanggup mencipta, memiliki hati nurani, dan akhirnya mampu berkata kepada dunia: aku hadir bukan untuk sekadar mengikuti kehidupan, tetapi untuk ikut memberi makna kepada kehidupan.

Pendidikan emansipatorik pada akhirnya bukanlah pendidikan yang mengejar sebanyak mungkin pengetahuan, melainkan pendidikan yang mengubah pengetahuan menjadi pemahaman, kesadaran, dan tindakan yang bermakna.

Di tengah ledakan informasi dan perkembangan Artificial Intelligence (AI), manusia semakin mudah memperoleh multa —banyak informasi, data, jawaban, dan pengetahuan.

Namun, kelimpahan tersebut tidak dengan sendirinya menghasilkan manusia yang bijaksana. Justru ketika informasi semakin melimpah, kemampuan untuk memilah, mempertanyakan, memahami, dan memberi makna menjadi semakin penting.

Karena itu, pendidikan perlu bergerak dari multa menuju multum: dari banyaknya pengetahuan menuju kedalaman pemahaman. Pergerakan ini merupakan inti dari pendidikan yang membebaskan, karena manusia tidak hanya diajak untuk mengetahui dunia, tetapi juga membaca, menafsirkan, mengkritisinya, dan mengambil tanggung jawab terhadap perubahan yang dihadirkannya.

Dalam konteks AI, pendidikan emansipatorik memperoleh tantangan sekaligus peluang baru. AI dapat membantu manusia memperoleh dan mengolah pengetahuan, tetapi tidak semestinya menggantikan refleksi, pertimbangan moral, tanggung jawab, dan pencarian makna manusia.

Dengan demikian, tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan manusia yang mampu menggunakan teknologi, melainkan manusia yang tetap memiliki otonomi dalam berpikir dan bertindak.

Pada titik inilah pendidikan menemukan kembali hakikatnya: bukan memperbanyak apa yang diketahui manusia, tetapi memperdalam siapa manusia itu dan untuk apa pengetahuannya digunakan. Dari multa menuju multum, pendidikan menjadi jalan menuju manusia yang lebih sadar, merdeka, reflektif, dan bertanggung jawab.