IDAKEBO, ODIYAIWUU.com — Uskup Keuskupan Timika Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru, OSA, Selasa (6/10) siang memimpin Misa sekaligus pemberkatan Gua Maria di Paroki Santa Maria Ratu Rosari, Idakebo, Dogiyai, Dekanat Kamuu–Mapia (Kammapi), Keuskupan Timika, Papua Tengah.
Saat memimpin acara pemberkatan Gua Maria yang terletak di samping Gereja Katolik Santa Maria Ratu Rosari Idakebo, Distrik (Kecamatan) Kamuu Utara, Uskup Bernardus didampingi Pastor Paroki RD Richardus Buang Lela, Pr dan Pastor Benny Magai, Pr.
Prosesi pemberkatan dihadiri langsung tokoh Katolik yang juga Bupati Dogiyai Yudas Tebai, S.Pd, M.Si beserta jajaran pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), umat Paroki Santa Maria Ratu Rosari, dan umat Katolik dari berbagai paroki di Dekanat Kammapi.
Uskup Bernardus dalam sambutannya mengatakan, Gua Maria tersebut merupakan yang pertama di wilayah Paroki Idakebo dan Kamu Utara. Karena itu, kehadiran Gua Maria tersebut diharapkan menjadi tempat doa dan devosi umat Katolik dalam kehidupan sehari-hari.
“Umat sekalian yang terkasih, inilah Gua Maria pertama di paroki ini, di Kamu Utara, Kabupaten Dogiyai. Gua Maria ini kiranya menjadi sarana doa yang indah, tempat ziarah serta tempat untuk mengadu dan memohon kepada Tuhan bersama Bunda Maria,” kata Mgr Bernardus, Uskup kedua putra asli Papua.
Uskup Bernardus juga berharap agar Gua Maria tersebut tidak sekadar menjadi tempat doa bagi umat Katolik, tetapi juga terbuka bagi siapa saja yang datang untuk memohon perlindungan dan kasih sayang Bunda Maria.
Sebagai ungkapan syukur atas pemberkatan, umat bersama-sama menyanyikan lagu-lagu Maria dan mendaraskan doa kepada Maria, Bunda Kristus dan Bunda Gereja.
Sementara itu, Pastor Paroki Santa Maria Ratu Rosari Idakebo Richardus Buang Lela juga berharap agar Gua Maria tersebut dapat menjadi tempat yang memberikan ketenangan dan kekuatan rohani bagi umat.
“Kiranya Gua Maria ini menjadi rohani di tengah kesibukan dunia, tempat umat dapat beristirahat, berdoa, dan merasakan pelukan kasih Bunda Maria yang membawa kita kepada Yesus, Putra-Nya,” kata Pastor Buang Lela.
Uskup Bernardus juga mengatakan, kehadiran Gua Maria tersebut diharapkan menjadi tempat doa, ziarah, dan devosi kepada Bunda Maria sekaligus memperkuat kehidupan iman umat di Paroki Santa Maria Ratu Rosari Idakebo.
Untuk diketahui, dalam tradisi Gereja Katolik, devosi kepada Bunda Maria merupakan penghormatan tulus dan mendalam disertai penyerahan diri kepada-Nya. Ini merupakan bagian tak terpisahkan dari ajaran iman Gereja.
Melalui devosi kepada Bunda Maria, umat Katolik beriman menghormati Maria sebagai Bunda Allah, terutama mengingat peran-Nya dalam rencana keselamatan Allah melalui Yesus.
Salah satu bentuk devosi kepada Bunda Maria adalah berdoa Rosario, yang menjadi sarana pendalaman iman, khususnya bagi para ibu. Melalui doa bersama dengan Bunda Maria, para ibu berusaha meneladani harapan dan kasih-Nya yang sempurna, menjadi teladan bagi semua umat beriman.
Melalui devosi umat Katolik berupaya meneladani semangat iman Bunda Maria. Penghayatan devosi kepada Bunda Maria melalui doa Rosario membantu umat menumbuhkan semangat kehidupan menggereja bagi umat secara pribadi, lingkungan maupun komunitas yang lebih luas.
Kehadiran Uskup Bernardus di Paroki Santa Maria Ratu Rosari, Idakebo menjadi momentum berharga bagi umat Katolik bertemu langsung dengan sang gembala agar semakin bersemangat dalam kehidupan sehari-hari demi keagungan nama Tuhan.
Mgr Bernardus Bofitwos Baru lahir 22 Agustus 1969 di Dusun Bokraby (Bakrabi), Distrik Mare, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Ia terlahir sebagai anak kelima dari delapan bersaudara dari pasangan suami-istri Amus Awitayawan Baru (Alm) dan Sawoazaka Bame (Almarhumah) serta Salomina Bohoato Bame (Almarhumah).
Kakak dan adik Uskup Bernardus yaitu: Sofia Baru (petani), Lea Baru (petani), Amandus Baru (PNS), Benyamin Baru (PNS), Alexander Baru (petani), Amus Awitayawan Baru, dan Anna Baru (petani).
Semasa hidup, pasutri petani ini menyibukkan diri menanam dan merawat kebun miliknya tak jauh dari Bokraby. Panenan kebun seperti keladi, petatas, kasbi (ubi kayu), pisang, dan jagung menjadi menu bagi anak-anak mereka semasa kecil.
“Ayah kami suka berburu babi hutan, kanguru pohon, kuskus, dan pasang jerat babi hutan. Orangtua kami saling mengasihi satu sama lain. Mereka juga sangat mencintai kami semua. Ayah dan kedua ibu kami meninggal sejak adik Uskup Bernardus masih duduk di SMP Don Bosco Fakfak,” ujar Benyamin Baru, kakak kandung Uskup Bernardus di Timika, kota Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (14/5 2025).
Bernardus kecil masuk SD YPPK Suswa dan tamat tahun 1985. Ia kemudian lanjut di SMP Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Santo Don Bosco Fakfak hingga tamat tahun 1987.
Setelah itu melanjutkan studi di SMA YPPK Santo Agustinus Sorong hingga selesai tahun 1990, Bernardus lalu melanjutkan kuliah Diploma 3 (D-3) di Institut Pastoral Indonesia (IPI) Filial Malang di Semarang, Jawa Tengah hingga lulus tahun 1995. Setelah itu merampungkan studi S-1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura, Jayapura, tahun 1999.
Sebelum ditunjuk jadi Uskup, sebagai imam ia aktif dalam berbagai aktivitas sosial dan pelayanan kemasyarakatan. Uskup Bernardus pernah dipercaya mengemban tugas sebagai Direktur Sekretariat Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Ordo Santo Augustinus, Vikariat Papua dan dosen STFT Fajar Timur, Abepura. Uskup Bernardus juga dikenal sebagai imam yang pintar dan rendah hati.
Semangat belajar tak pernah padam dalam hati Uskup Bernardus. Tahun 2005, ia terbang ke Roma lalu masuk Fakultas Teologi Misi di La Pontifi cia Università Urbaniana atau Universitas Kepausan Urbaniana.
Ia kemudian meraih gelar doktor bidang Misiologi setelah mempertahankan disertasi berjudul Traditional Ritual Symbols in Youth Initiation and Religious Beliefs Among the Maybrat of West Papua: A Missiological Study tahun 2018.
Sederet tugas dari pimpinan OSA pernah diemban Uskup Bernardus. Tahun 2007–2014 didapuk sebagai pimpinan Ordo Santo Augustinus (OSA) wilayah Papua, pimpinan para calon pastor OSA atau magister novis tahun 2005–2007. Pernah pula mengajar para calon pastor OSA di Postulat dan Novisiat OSA di Sorong tahun 2005–2016, dan Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) Santo Benediktus, Sorong periode 2007-2012.
Tak sampai di situ. Uskup Bernardus, putra petani kecil dari Bokraby, juga aktif dalam gerakan pemberdayaan dan pengembangan budaya Papua dan masyarakat adat, kampanye perlindungan hutan atau ekologi di tanah Papua.
Pada tahun 2006–2012 ia tercatat sebagai Anggota Dewan Konsultatif Keuskupan Manokwari–Sorong. Sejak 2006 hingga saat ini, ia menjadi pembina kaum muda dan mahasiswa Katolik asal Maybrat di Yogyakarta. Sejak 25 Januari 2023, ia menjabat Ketua STFT Fajar Timur sebelum akhirnya ditahbiskan menjadi Uskup Timika di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Rabu (14/5 2025). (Yesaya Goo/AD)










