OPINI  

Ketika Krisis Menguji Integritas: Pelajaran Etika dari Kokpit Flydubai

Raja Oloan Tumanggor, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta. Foto: Istimewa

Oleh Raja Oloan Tumanggor

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta

PROFESI tidak diuji ketika semuanya berjalan normal. Profesi diuji ketika keselamatan, kepentingan pribadi, tekanan, dan tanggung jawab bertabrakan dalam satu titik. Dalam keadaan tenang, siapa pun dapat berbicara tentang integritas, loyalitas, tanggung jawab, dan kode etik.

Namun ketika krisis datang, semua kata itu kehilangan daya retoriknya. Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan: nilai apa yang sungguh-sungguh hidup di dalam diri seorang profesional?

Peristiwa dramatis di kokpit Flydubai Flight FZ1073 pada 30 September 2026 memberi kita pelajaran penting mengenai hal tersebut. Berdasarkan laporan awal otoritas, terjadi serangan di dalam kokpit yang melibatkan kopilot terhadap kapten. Investigasi mengenai motif dan detail kejadian masih berlangsung, sehingga kesimpulan final mengenai pelaku tentu harus menunggu proses resmi.

Namun satu hal sudah menarik perhatian publik: tindakan Kapten Smit Machchhar. Dalam keadaan terluka dan berada dalam ancaman serius, Machchhar dilaporkan tetap berusaha membuka akses kokpit agar kru dan penumpang dapat membantu menghentikan serangan. Pada akhirnya pesawat berhasil dikendalikan dan mendarat dengan selamat.

Peristiwa ini bukan sekadar kisah heroisme. Ia adalah pelajaran tentang loyalitas dan integritas profesional. Setiap profesi mengandung kepercayaan publik. Pasien datang kepada dokter karena percaya bahwa ilmu medis akan digunakan untuk menyembuhkan, bukan mencelakakan.

Klien datang kepada psikolog karena percaya bahwa kerentanan psikologisnya akan dijaga. Penumpang naik pesawat karena percaya bahwa orang-orang di kokpit memiliki kompetensi dan komitmen untuk membawa mereka sampai tujuan dengan selamat.

Karena itu, profesi bukan sekadar pekerjaan. Profesi adalah hubungan moral. Dalam etika psikologi, American Psychological Association menempatkan prinsip fidelity and responsibility sebagai salah satu fondasi etika.

Psikolog harus memahami bahwa hubungan profesional dibangun atas dasar kepercayaan dan tanggung jawab terhadap individu maupun masyarakat. Prinsip lain, integrity, menuntut kejujuran dan konsistensi antara nilai yang dinyatakan dengan tindakan nyata (American Psychological Association [APA], 2017).

Prinsip tersebut sangat relevan untuk memahami peristiwa Flydubai. Pilot memang bukan psikolog. Tetapi struktur moral kedua profesi memiliki kesamaan: keduanya menerima kepercayaan karena memiliki kompetensi yang tidak dimiliki semua orang.

Semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab moralnya. Etika psikologi mengenal prinsip beneficence and non maleficence: profesional harus berusaha memberikan manfaat dan menghindari tindakan yang menimbulkan kerugian.

Prinsip ini sering diringkas dalam ungkapan klasik primum non nocere (pertama-tama, jangan mencelakakan). Ungkapan tersebut memang lebih dikenal dalam tradisi medis, bukan sumpah formal penerbang. Namun semangat moralnya berlaku luas.

Seorang profesional memperoleh kekuasaan karena kompetensinya. Psikolog mengetahui sisi paling rapuh dari klien. Dokter memiliki akses terhadap tubuh pasien. Pilot mengendalikan pesawat yang membawa ratusan manusia ribuan meter di udara. Di sinilah persoalan etis menjadi sangat serius.

Kompetensi tanpa integritas dapat berubah menjadi ancaman. Jika seseorang menggunakan keahlian profesionalnya bukan untuk melindungi, tetapi justru membahayakan orang-orang yang mempercayakan keselamatan kepadanya, maka yang rusak bukan hanya prosedur. Yang dikhianati adalah hakikat profesi itu sendiri.

Loyalitas Profesional

Maka apa arti loyalitas profesional? Kita sering memahami loyalitas sebagai kesetiaan kepada atasan, organisasi, kolega atau institusi. Pemahaman itu tidak selalu benar. Loyalitas profesional bukanlah ketaatan buta kepada orang atau organisasi. Loyalitas profesional pertama-tama adalah kesetiaan kepada tujuan moral profesi.

Bagi psikolog, tujuan itu berkaitan dengan kesejahteraan manusia, perlindungan klien, penghormatan martabat, dan pencegahan bahaya. Bagi pilot, tujuan dasarnya jelas: membawa manusia yang dipercayakan kepadanya dengan selamat.

Karena itu, seseorang justru dapat dikatakan tidak loyal terhadap profesinya ketika ia membela rekan kerja yang melakukan pelanggaran serius hanya demi solidaritas kelompok.

Sebaliknya, menolak, melaporkan, atau menghentikan tindakan kolega yang membahayakan orang lain justru merupakan bentuk loyalitas yang lebih tinggi. Loyalitas sejati tidak bertanya: “Siapa teman saya?” Ia bertanya: “Nilai apa yang harus saya jaga?” Di sinilah tindakan Smit Machchhar menjadi menarik dari perspektif etika profesi.

Ketika seseorang terluka dan hidupnya sendiri terancam, insting alamiah tentu mendorongnya untuk menyelamatkan diri. Itu sangat manusiawi. Namun profesi terkadang menghadirkan kewajiban yang melampaui kepentingan diri sendiri.

Kapten pesawat bukan sekadar individu yang berada di dalam pesawat. Ia sedang menjalankan sebuah peran moral: ratusan kehidupan bergantung pada keputusan profesionalnya.

Tindakan Machchhar menunjukkan sesuatu yang dalam: tanggung jawab peran dapat menjadi bagian dari identitas seseorang begitu kuat sehingga ia tetap bekerja bahkan ketika keselamatan dirinya sendiri sedang terancam. Dalam etika keutamaan atau virtue ethics, karakter moral tidak dibentuk pada saat krisis terjadi. Karakter dibentuk jauh sebelumnya.

Jordan dan Meara (1990) mengingatkan bahwa etika profesi psikologi tidak cukup dibangun dengan pertanyaan “aturan apa yang harus saya ikuti?” Ada pertanyaan yang lebih penting: “Menjadi profesional seperti apakah yang hendak saya capai?”

Seseorang tidak tiba-tiba menjadi berani ketika keadaan darurat datang. Keberanian dibentuk melalui kebiasaan. Demikian juga kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, disiplin, dan kesetiaan kepada nilai. Karena itu, krisis sebenarnya tidak selalu menciptakan karakter. Krisis lebih sering menelanjangi karakter yang sudah ada.

Masalah terbesar pendidikan profesi adalah ketika etika hanya diajarkan sebagai kumpulan pasal. Mahasiswa menghafal kode etik, lulus ujian, memperoleh gelar, lalu merasa telah menjadi profesional.

Padahal situasi kehidupan tidak pernah sesederhana soal pilihan ganda. Dalam keadaan nyata, nilai dapat bertabrakan. Ada tekanan institusi, kepentingan ekonomi, loyalitas kelompok, ketakutan kehilangan jabatan, hubungan pribadi, dan risiko terhadap diri sendiri.

Di sinilah diperlukan apa yang dalam tradisi Aristotelian disebut phronesis, atau kebijaksanaan praktis: kemampuan membaca situasi moral secara tepat dan mengambil keputusan yang baik ketika tidak tersedia jawaban mekanis (Kristjánsson, 2024).

Profesionalisme yang matang bukan hanya mengetahui aturan. Ia tahu mengapa aturan itu ada. Ia juga tahu nilai apa yang tidak boleh dikorbankan, bahkan ketika biaya personalnya sangat besar. Kasus Flydubai seharusnya menjadi bahan refleksi serius bagi pendidikan psikologi.

Psikolog sering bekerja dalam wilayah yang tidak terlihat publik. Tidak ada kokpit, alarm, atau pesawat yang kehilangan ketinggian. Namun keputusan psikolog dapat menentukan hidup manusia: diagnosis, asesmen, terapi kerahasiaan, rekomendasi, kesaksian profesional atau keputusan rujukan. Karena itu, psikolog tidak cukup kompeten secara teknis. Ia harus mempunyai karakter.

Ketika menghadapi tekanan klien, institusi, keluarga, atau kepentingan finansial, apakah ia tetap melindungi orang yang rentan? Ketika kolega melakukan pelanggaran, apakah solidaritas kelompok lebih penting daripada keselamatan klien? Ketika kepentingan pribadi berbenturan dengan kepentingan orang yang dilayani, mana yang dipilih?

Pada akhirnya, etika profesi bukan terutama tentang seberapa baik seseorang dapat mengutip kode etik. Etika adalah tentang siapa kita ketika tidak ada waktu lagi untuk membaca aturan. Ternyata krisis menghapus kepura-puraan. Dalam keadaan kritis itulah integritas menemukan maknanya yang paling nyata: kesatuan antara nilai, tanggung jawab, dan tindakan.

Mungkin itulah pelajaran terbesar dari kokpit Flydubai: seorang profesional tidak dinilai hanya dari keahliannya, tetapi dari apa yang ia lakukan ketika keselamatan orang lain dipercayakan kepadanya dan ketika pilihan moral itu menuntut harga yang sangat mahal.