OPINI  

Rekonsiliasi Holistik Lembah Baliem

Laurens Ikinia, Putra asli Lembah Baliem, Papua Pegunungan; Dosen Hubungan Internasional UKI, Jakarta. Foto: Istimewa

Oleh Laurens Ikinia

Putra asli Lembah Baliem, Papua Pegunungan; Dosen Hubungan Internasional UKI, Jakarta

KAMI dilahirkan di antara dinding-dinding hijau menjulang, di tanah leluhur nan aman, damai, dan mempesona. Tanah tumpah darah yang menyatukan kami: Lembah Baliem, yang oleh dunia luar di”baptis” dengan sebutan The Grand Valley.

Tapi bagi kami, Lembah Baliem bukan sekadar lembah. Ia adalah honai pusat —rumah besar tempat seluruh alam semesta melingkar dalam satu tarikan nafas. Setiap bukit, aliran sungai-sungai di lembah itu, setiap batu dan pohon, adalah lembaran-lembaran kitab hidup yang ditulis leluhur kami, orang Papua. Ia menjejak dalam jarak sejak ribuan tahun lampau sebelum kata “modern” menghampiri kami semua.

Namun, akhir-akhir ini, nafas lembah itu terasa tersengal. Ada pekik tangis di balik gemerisik daun. Ada asap duka yang bukan dari tungku pembakaran batu. Lembah Baliem, yang menjadi pusat kosmos bagi seluruh rumpun Melanesia di pegunungan tengah, tengah dilanda luka.

Luka itu bernama konflik yang melukai batin sesama anak negeri di Lembah Baliem. Sebagai putra lembah ini, kami duduk termenung dan doa lahir dari dinding hati terdalam. Bukan karena takut melainkan karena rindu pada damai yang dulu begitu sakral dijaga oleh tradisi kita. Doa lalu melambung ke langit menyebut nama-Nya tanpa henti.

Ketika Panah Adat Patah

Dalam budaya Suku Hubula (jantung tanah Papua) —suku induk dari orang asli Papua di bumi Cenderawasih— segala sesuatu memiliki tempat dan tatanan. Sistem hukum adat, wene mengatur hubungan antarkeluarga, antarklan, antaraliansi, kepemilikan flora dan fauna, hingga cara menyelesaikan wim, pertikaian.

Pesta babi, wam awene bukanlah sekadar pesta. Ia adalah ritus luhur dan mulia yang memulihkan hubungan antara manusia dengan alam, antara yang hidup dan roh leluhur (mokat), dan antarsuku yang berseteru. Melalui pesta itu, kosmos kembali seimbang. Dendam diubah menjadi pemberian, air mata menjadi tawa bersama yang mengalirkan sukacita.

Tapi kini, panah adat itu patah. Beberapa hari lalu dan pada saat ini, kita semua diguncang oleh pertumpahan darah di Distrik Wouma, Kabupaten Jayawijaya, antara kedua anak kandung dari Parim Ima/Lembah Baliem.

Satu per satu nyawa melayang, bukan karena perang suci menjaga tanah, melainkan karena luka lama yang tak pernah dirawat. Dalam keyakinan kami, setiap kematian adalah tanggung jawab spiritual.

Arwah yang meninggal harus diantar pulang melalui upacara adat yang utuh, dipertanggungjawabkan kepada keluarga, sub-klan, dan klan. Arwah orang yang meninggal harus diantar ke tempat penantian kebangkitan dalam sistem religi manusia dan dunia Hubula, yakni Wakunmo.

Jika tidak, arwah itu tidak akan pernah beristirahat. Ia akan berkeliaran, mengganggu yang hidup, dan meracuni hubungan antargenerasi. Ia akan mengganggu kesuburan tanaman dan ternak manusia yang hidup.

Penulis yakin, inilah yang terjadi sekarang: banyak kematian tanpa penyelesaian religi adat yang utuh. Luka batin kolektif itu terus berdarah, dan setiap insiden baru hanyalah cara luka itu bicara.

Dua Sungai dalam Satu Dada

Kami bertanya pada diri kami sendiri: mengapa Injil yang sudah masuk ke lembah ini puluhan tahun lalu seolah tidak membendung amarah? Gereja Katolik dan Protestan telah lama hadir, dan sebagian besar manusia Hubula menyebut diri sebagai pengikut Kristus.

Namun, tampaknya Injil belum sungguh-sungguh berakar di dalam daging dan sumsum cara berpikir kita. Kasih dan persaudaraan mewujud saling berangkulan sebagai sesama anak honai seolah menjauh. Kita masih lebih cepat menghunus panah daripada merangkul saudara.

Kita masih mengagungkan balas dendam sebagai “kehormatan”, padahal dalam budaya Papua sejati, kehormatan tertinggi adalah kemampuan untuk memulihkan hubungan, bukan memutusnya. Di sinilah letak ironi terbesar: kita adalah pewaris peradaban yang sangat kaya dengan mekanisme perdamaian.

Dalam tradisi lisan kami, nenek moyang mengajarkan bahwa jika dua klan berseteru, mereka harus bertemu di dalam sebuah rekonsiliasi sakral, bukan untuk berperang, tetapi untuk bertukar materi-materi simbolis dan untaian kata-kata damai.

Sayangnya, generasi muda kami, termasuk kaum terdidik, tidak mengindahkan tradisi sakral ini. Kami menganggapnya kuno, tidak efisien, ketinggalan zaman. Kami lebih percaya pada keputusan cepat dari ponsel dan media sosial yang justru memecah belah.

Krisis Tiga Wajah

Seorang penatua di Kampung Wouma pernah berkata kepada penulis: “Anak, lembah ini sakit karena tiga urat nadinya putus.” Pertama, krisis identitas —kami tidak lagi mengenal siapa diri kami. Terjepit antara tuntutan untuk menjadi “Papua modern” dan “orang Hubula sejati”, kami kehilangan pijakan.

Kedua, krisis ekologi —sungai yang dulu kami hormati sebagai urat nadi— kini kembali menyerang kebun dan pekarangan kita. Hutan yang dulu kami minta izin sebelum menebang sebatang pohon, kini gundul tanpa ritus.

Ketiga, krisis spiritualitas —ritual-ritual pemulihan seperti wene (upacara adat) jarang lagi dilakukan. Akibatnya, hubungan dengan leluhur terputus. Dunia menjadi kosong, sekuler, dan keras. Kita mudah terpengaruh oleh berbagai pengaruh buruk yang masuk ke tanah leluhur kami.

Ketiga krisis ini saling memakan. Ketika identitas goyah, kita mudah diadu domba oleh dengki dan amarah. Ketika alam rusak, kita kehilangan simbol bersama yang mempersatukan. Ketika roh leluhur diabaikan, tidak ada lagi rasa takut sakral untuk saling membunuh. Inilah mengapa konflik di Lembah Baliem tak kunjung usai.

Jalan Rekonsiliasi Holistik

Damai yang sejati, damai yang abadi, tidak akan lahir dari perjanjian di atas kertas yang dingin, atau dari pasukan bersenjata yang berjaga. Damai sejati lahir ketika kami kembali ke akar.

Akar budaya Hubula mengajarkan rekonsiliasi luhur dan mulia. Kita duduk melingkar di honai dan silimo, membakar batu bersama, memotong babi bersama, dan menangis bersama. Semua dikemas di dalam tradisi yang sakral. Itulah cara insan manusia Papua. Itulah cara insan manusia Hubula.

Oleh karena itu, kami mengajak semua putra-putri yang lahir dan keluar dari Lembah Agung (Dari i-apur hingga i-elesi), para tetua adat, para pemimpin agama, pemerintah kabupaten hingga provinsi untuk berani melakukan rekonsiliasi holistik yang mencakup lima dimensi.

Pertama, rekonsiliasi adat —menghidupkan kembali mekanisme perdamaian adat dunia Hubula. Mengundang kedua atau setiap pihak yang bertikai untuk saling memaafkan, mengampuni, dan mempertanggungjawabkan roh para korban (ap warek).

Kedua, rekonsiliasi spiritual —Gereja harus memainkan peran sentral dan terdepan. Bersama para pemimpin gereja lintas denominasi, gereja harus memimpin misa atau kebaktian pertobatan bersama, mengaku dosa kolektif karena kebencian dan perilaku buruk lainnya tumbuh dalam diri insan manusia. Menyadari bahwa Allah para leluhur dan Allah dalam Injil adalah satu: sumber damai.

Ketiga, rekonsiliasi sosial-ekologis —membangun kembali “alam perdamaian” di tanah-tanah yang dulu menjadi medan konflik. Setiap pohon yang ditanam adalah simbol janji untuk tidak lagi melukai saudara. Menyapa kembali flora dan fauna, sungai dan gunung, tanah dan langit yang merindukan komunikasi yang harmonis.

Keempat, rekonsiliasi lintas generasi —Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dan delapan kabupaten segera mendirikan sekolah berpola asrama dan menghidupkan kembali nilai-nilai dan norma-norma kebudayaan yang luhur dan mulia.

Kesadaran kolektif sebagai sesama anak negeri harus dibangun sejak usia dini. Program-program pembangunan sebaiknya diutamakan untuk memanusiakan manusia Papua yang semakin hari semakin berkurang.

Kelima, rekonsiliasi politik —Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, baik eksekutif maupun legislatif, serta pemerintah delapan kabupaten di Papua Pegunungan menyatukan hati dan pikiran lalu menetapkan Lembah Baliem (jantung tanah Papua) sebagai pusat pendidikan di pegunungan tengah dan ibu kota Provinsi Papua Pegunungan dipindahkan ke tempat yang jauh, aman, dan strategis.

Lembah Baliem sebaiknya dijadikan sebagai laboratorium penelitian berbagai disiplin ilmu. Lembah Baliem menyimpan banyak pengetahuan dan ilham yang harus terus dikaji dan didalami.

Noken yang Dirajut Kembali

Nagosa-nopase, noe-nagor, lembah ini bukan milik kita. Kita hanya penghuni sementara yang diberi mandat oleh leluhur untuk menjaganya lalu segera berpindah ke anak cucu. Darah yang tertumpah di Wouma dan tempat-tempat lain, adalah darah saudara kita sendiri, darah saudaramu di honai ini. Tangis mereka yang berduka adalah tangis kita semua.

Mari, di atas tanah yang sama, di bawah langit yang sama, kita tumpahkan air mata pengakuan: “Kami telah salah. Kami telah melupakan cara menjadi manusia sejati.” Dan dari tanah basah air mata itu, biar tumbuh tunas perdamaian yang tidak pernah layu.

Sebab kita, orang Hubula dari i-elesi hingga i-apur, adalah perajut kosmos. Dan saat ini, sudah waktunya kita merajut kembali. Damai di honai, damai di tanah, damai di langit, damai di batu, damai di sungai, damai di tulang, dan damai di hati kita selamanya. Sejenak, kita semua khusuk dalam doa kepada Tuhan, sang Pencipta. Ninopase Allah ninom motok!