WAMENA, ODIYAIWUU.com — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan sejak Kamis-Jumat (9-10/7) resmi menggelar Festival Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di halaman Kantor Gubernur Papua Pegunungan.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut menjadi salah satu langkah taktis pemerintah setempat dalam mengendalikan laju inflasi daerah sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Gubernur Papua Pegunungan melalui Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Wasuok Demianus Siep menegaskan, festival ini bukan sekadar ajang pameran, melainkan instrumen penting untuk menstabilkan harga barang di pasar.
Berbagai produk lokal dipamerkan dan dijual dalam kegiatan ini, mulai dari kerajinan tangan, komoditas perkebunan, hingga hasil pertanian berupa sayur-mayur dan buah-buahan.
“Kegiatan seperti ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk bersama-sama menekan harga,” ujar Wasuok Demianus Siep di lokasi pameran.
Selain pengendalian inflasi, Wasuok menjelaskan bahwa fokus utama pemerintah adalah meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah. Selain itu festival UMKM dapat melatih kemandirian finansial tingkat keluarga agar tidak lagi bergantung pada bantuan luar.
“Kita ingin masyarakat mampu mengelola dan meningkatkan kemampuannya sendiri. Dengan berwirausaha, mereka dapat mengelola pendapatan, mengurangi beban hidup sehari-hari, serta mampu membiayai pendidikan anak-anak sekolah,” kata Wasuok lebih lanjut.
Pemerintah optimistis keberlanjutan program UMKM ini secara perlahan akan menghapus stigma negatif yang selama ini melekat pada wilayah Papua Pegunungan.
“Kami berharap seluruh upaya ini berjalan maksimal, sehingga daerah kita tidak lagi dikategorikan sebagai daerah termiskin atau terbelakang. Potensi kita sangat besar,” ujar Wasuok.
Wasuok juga mengapresiasi kreativitas mama-mama, anak-anak muda, dan pelaku usaha lokal di Papua Pegunungan yang dinilai sudah berkembang pesat. Tugas pemerintah dan pemangku kepentingan saat ini adalah memfasilitasi dan memoles kemampuan tersebut agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Saat disinggung mengenai strategi jangka panjang mengatasi tingginya angka inflasi yang dipicu oleh faktor eksternal, ia menyampaikan adanya tantangan berat, terutama dari sektor logistik dan energi.
“Penyebab utama kenaikan inflasi di wilayah kita adalah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Kenaikan BBM ini memicu efek domino terhadap lonjakan harga bahan pokok lainnya,” kata Wasuok.
Menyikapi hal tersebut, Pemprov Papua Pegunungan berkomitmen untuk terus bersinergi dengan seluruh pihak guna mengontrol harga pangan dan kebutuhan pokok di pasar melalui program-program stimulan serupa.
“Kita lakukan upaya bersama dengan semua pihak agar stabilitas harga pangan terjaga dan angka inflasi bisa segera ditekan hingga kembali ke posisi normal,” kata Wasuok. (*)










