In Memoriam Ny Elisabet Flassy Wandik

Kepala Bapperida Kabupaten Tolikara sekaligus Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Tolikara Almarhumah Ny Dr (Cand) Elisabet Yulanda Flassy Wandik, SE, MM. Sumber foto: Fb KPU Kabupaten Tolikara

KABAR duka datang dari Abepura. Ny Dr (Cand) Elisabet Yulanda Flassy Wandik, SE, MM, istri Bupati Kabupaten Tolikara Willem Wandik, SH, S.Sos dipanggil Tuhan di Surga di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Abepura, Jayapura, Senin (2/11) pukul 08.16 WIT.

Penulis tertunduk sejenak dan larut dalam doa. Kata-kata Nabi Ayub 1:21 memenuhi batin: “…Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan…” Kabar duka itu segera menyebar di kalangan pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan aparatur sipil negara (ASN), anggota Forkopimda, dan masyarakat tanah Injil Tolikara.

Langit Tolikara seakan ikut berduka. Dari Jayapura datang kabar yang tidak pernah kami duga secepat itu. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tolikara kehilangan Ny Elisabeth Wandik, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Tolikara sekaligus Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Tolikara.

Ia memenuhi panggilan Tuhan dalam usia yang baru menyentuh angka 52 tahun. Semuanya terjadi begitu singkat. Sabtu subuh ia masih berada di kediamannya. Siang harinya ia dibawa ke rumah sakit, dan dua hari kemudian Tuhan memanggilnya pulang.

Kabar duka itu menyebar cepat melalui media sosial dan grup-grup WhatsApp, dari Karubaga dan Wamena hingga Jayapura, Nabire, dan Merauke. Di banyak tempat, orang terdiam sejenak, lalu mulai bercerita, mengenang kebaikan hati perempuan yang pernah menyentuh ziarah hidup mereka.

Ungkapan hati penulis ini bukan sekadar catatan riwayat biasa. Ungkapan hati ini juga adalah kesaksian tentang seorang ibu, pemimpin, dan pelayan Tuhan yang mempersembahkan hidup dan baktinya menjadi berkat bagi tanah Papua, khususnya bagi masyarakat Tolikara.

Jejak Pengabdian dari Seribau

Elisabet Wandik lahir 10 Maret 1974 di Seribau. Ia terlahir sebagai anak kelima dari tujuh bersaudara buah kasih pasangan suami-istri Fredrick Flassy dan Ibu Susana Kemesrar. Ia tumbuh bersama saudara-saudaranya: Keterina Flassy; Dance Yulian Flassy, SE, M.Si (Almarhum); Lina Lince Troce Flassy, SE, MM; Frida Flassy; Reuland Hendrikus Flassy, ST; dan Nestorius Flassy.

Pendidikan dasarnya ia tempuh di SD YPK Haha Teminabuan (1979–1985); SMP Negeri 2 Kota Sorong (1985–1988); dan SMA Negeri 1 Kota Sorong (1988–1991). Setamat SMA ia tidak menunggu lama dan langsung bekerja sebagai karyawan PDAM, sebuah awal sederhana bagi perjalanan pengabdian yang kelak membawanya ke jabatan-jabatan strategis.

Namun, salah aspek paling menonjol dari dirinya adalah kemauan belajar yang tidak pernah padam. Sambil bekerja, ia meraih gelar Sarjana Ekonomi Manajemen dari STIE Port Numbay (2005) dan Magister Manajemen Keuangan dari STIE ISM (2015).

Pada Agustus 2024, di tengah kesibukan sebagai kepala dinas, ia memulai Program Doktor Manajemen di Universitas Cenderawasih. Studi itu belum sempat ia tuntaskan, tetapi semangatnya telah menjadi pelajaran bagi kita semua: belajar adalah bagian dari melayani.

Kariernya di pemerintahan sebagai abdi negara tumbuh dari bawah, tidak dimulai dari puncak. Ia memulainya sebagai tenaga honorer di Balai Bina Marga Jayapura pada 2004, lalu diangkat menjadi CPNS pada 1 Mei 2006 dan PNS pada 1 November 2007. Dari golongan III/a Penata Muda, kepangkatannya naik setahap demi setahap hingga mencapai IV/a Pembina pada 1 Maret 2026.

Jejak pengabdian sebagai honorer, PNS hingga sejumlah pimpinan OPD pernah Elisabet Wandik lewati dan sedang dijalaninya sebelum ajal menjemputnya. Mulai dari kabupaten, provinsi lalu kembali ke kabupaten. Pada Tahun 2019–2023 ia menjabat Sekretaris Dinas PUPR Tolikara; kemudian 2023–2025 menjabat Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Tolikara, dan tahun 2025–2026 menjabat Kepala Bapperida Tolikara.

Berdasarkan catatan, sebagian besar pengabdiannya ia curahkan di bidang pekerjaan umum, infrastruktur jalan, perumahan, dan perencanaan pembangunan. Ini adalah bidang-bidang yang menentukan apakah sebuah kampung di pegunungan bisa dijangkau, apakah keluarga memiliki rumah yang layak, dan ke mana arah pembangunan daerah dibawa. Sebagai Kepala Bapperida Tolikara, ia berdiri di jantung perencanaan masa depan daerah.

Sosok Pemimpin yang Menggerakkan

Siapa pun yang pernah bekerja bersama Elisabet Wandik dalam tugas pelayanan Pembangunan, akan mengenal satu hal: ia memiliki kepribadian yang kuat. Ia teguh pada pendirian, tegas dalam bersikap, dan tidak mudah surut ketika menghadapi tantangan.

Namun ketegasan itu tidak membuatnya jauh dari orang lain. Justru dari keteguhan itulah lahir rasa percaya, karena orang tahu ke mana ia melangkah dan untuk apa ia berjuang. Kepemimpinan Elisabet tidak semata bersandar pada jabatan. Ia memimpin dengan kehadiran.

Ketika ia berbicara, orang mendengarkan. Ketika ia mengajak, orang bergerak. Karisma itu tidak datang dari kata-kata yang tinggi, melainkan dari keyakinan dan teladan yang konsisten. Ia lebih dulu melakukan apa yang ia minta dari orang lain, dan itulah yang membuat perkataannya berbobot.

Pengaruhnya melintasi banyak ruang sekaligus: birokrasi, gereja, organisasi perempuan, dunia pendidikan hingga komunitas kerajinan dan pecinta anggrek. Ia pernah menjadi Sekretaris TP-PKK Papua; Anggota Persatuan Istri Anggota DPR RI serta Ketua Dekranasda dan Ketua Persatuan Anggrek Indonesia Tolikara. Di setiap tempat itu, ia menjadi simpul yang mempertemukan orang, gagasan, dan sumber daya demi kebaikan bersama.

Elisabet juga dikenal dengan gaya kepemimpinan transformasional. Hal yang paling layak dikenang adalah kemampuannya mengubah keadaan. Ia tidak berhenti pada mengelola program. Ia membangun sesuatu yang belum ada. Dari tangannya lahir Yayasan Kuben Oeyah Wonok, SD dan TK/PAUD Oeyah Wonok serta PKBM Oeyah Wonok di Tolikara.

Sebagai Bunda PAUD dan Ketua TP PKK, ia menggerakkan upaya melawan stunting di wilayah pegunungan sampai mendapat pengakuan nasional. Inilah ciri pemimpin transformasional. Elisabet menanamkan visi, membangkitkan semangat orang lain, dan meninggalkan perubahan yang terus hidup setelah dirinya tiada. Ia lebih dulu melakukan apa yang ia minta dari orang lain. Karena itu, ajakannya selalu didengar.

Hati yang Tertambat pada Gereja dan Anak-anak

Bagi Elisabet, pelayanan kepada Tuhan dan sesama adalah satu tarikan napas. Ibarat dua sisi dari satu koin. Pada 2023 ia memimpin panitia peresmian Gereja Solagratia Buper Waena. Pada tahun yang sama ia dipercaya menjadi Ketua Panitia Pembangunan GKI Syaloom di kampung halamannya, Seribau, tugas yang ia emban hingga akhir hayat. Tahun 2026 ia memimpin Sidang Klasis GKI Sentani.

Perhatiannya pada anak-anak terwujud dalam lembaga pendidikan yang ia dirikan. Nama Oeyah Wonok yang ia gunakan berasal dari nama putranya, Abraham Qubene Oeyah Wonok Wandik. Ia seolah mengabarkan bahwa anak-anak Tolikara juga adalah anak-anaknya sendiri dan layak mendapat pendidikan sejak dini.

Di tahun terakhir menjelang akhir hayatnya, kerja keras Elisabet dalam menekan angka stunting di wilayah pegunungan mendapat pengakuan di tingkat nasional melalui dua penghargaan bergengsi. Pertama, Best Stunting Prevention & Treatment Program (Program Pencegahan dan Penanganan Stunting Terbaik) dari Indonesia People’s Choice Awards 2026 tanggal 12 Juni 2026.

Kedua, The Best Figure in Comprehensive Highland Stunting Eradication and Remote Family Health Innovation (Tokoh Terbaik dalam Penanggulangan Stunting Wilayah Pegunungan dan Inovasi Kesehatan Keluarga Terpencil) 2026 dari The Indonesia Leadership Matrix Awards (ILMA) yang diterima pada 16 Oktober 2026.

Penghargaan kedua ia terima hanya sekitar dua minggu sebelum berpulang. Bagi penulis dan abdi negara dan abdi masyarakat Tolikara, kedua penghargaan tersebut bukan sekadar prestasi pribadi. Keduanya adalah pengakuan bahwa anak-anak di kampung-kampung terpencil Tolikara layak diperjuangkan, dan ada seorang ibu bernama Elisabet Wandik yang sungguh-sungguh memperjuangkan mereka.

Kuasa Manusia di Tangan Tuhan

Ibadah pelepasan jenazah Elisabet Wandik digelar di Perumahan Buper Waena, Jayapura, dengan pelayanan firman oleh Pendeta Roy Chandra, S.Si, Sekretaris Klasis GKI Sentani.

Dalam khotbahnya, Roy mengingatkan jemaat bahwa waktu kelahiran dan waktu kepulangan manusia sepenuhnya berada di tangan Tuhan, dan bahwa sukacita maupun dukacita hanya dapat kita maknai di dalam kehendak-Nya.

Penghiburan ditujukan kepada suami dan anak-anak, keluarga besar Wandik dan Flassy, Pemkab Tolikara; jajaran Bapperida, para ASN, gereja-gereja, dan seluruh masyarakat Tolikara.

Almarhumah meninggalkan suami tercinta, Willem Wandik serta empat orang anak: Abraham Qubene Oeyah Wonok Wandik; Gledis Jeanet Alicia Wandik, SH, MH; Lettysia Gesky Wandik; dan Selly Susana Wandik.

Hidup Almarhumah Elisabet meninggalkan pelajaran yang patut direnungkan dan teruskan. Ada pesan iman dan moral yang dapat dipetik dari perjalanan hidup Elisabet.

Hidup adalah pertandingan iman yang harus diselesaikan dengan setia: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2 Timotius 4:7).

Keluarga memilih ayat ini sebagai gambaran hidup Almarhumah. Ukuran hidup bukan panjangnya umur, melainkan kesetiaan sampai garis akhir. Mari kita menjalani setiap hari dengan kesadaran bahwa kita pun sedang berlari menuju garis akhir yang sama.

Pesan Elisabet lainnya, pemimpin sejati adalah pelayan. “..Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu…” (Matius 20:26). Jabatan yang tinggi tidak menjauhkan almarhumah dari pelayanan.

Ia tetap memimpin pembangunan gereja, mendirikan sekolah, dan turun memperhatikan gizi anak-anak. Bagi para pemimpin dan ASN di Tolikara, inilah teladan bahwa kekuasaan adalah amanah untuk melayani, bukan untuk dilayani.

Teladan lain yang dipetik dari Almarhumah: jangan pernah berhenti belajar. “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12).

Dari karyawan PDAM hingga kandidat doktor, Almarhumah Elisabet membuktikan bahwa belajar tidak mengenal usia dan jabatan. Hikmat diperoleh oleh mereka yang mau terus belajar dan menggunakan waktunya dengan bijak.

Investasi terbaik dalam batinnya adalah pada anak-anak.  “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Amsal 22:6). Sekolah, PAUD, dan perjuangan melawan stunting adalah warisan almarhumah bagi generasi berikutnya. Tugas kita adalah melanjutkannya, agar setiap anak di pegunungan Papua tumbuh sehat, cerdas, dan takut akan Tuhan.

Pesan lainnya, perempuan yang kuat adalah berkat bagi banyak orang. “Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan” (Amsal 31:25). Sebagai istri, ibu, saudara, dan pemimpin, Almarhumah menunjukkan bahwa perempuan Papua mampu berdiri teguh dan memimpin perubahan.

Kiranya teladannya membangkitkan semangat perempuan-perempuan Tolikara untuk berani bermimpi dan melayani. Jerih payah dalam Tuhan tidak pernah Sia-sia. “Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Korintus 15:58).

Banyak pekerjaan yang dimulai Elisabet Wandik belum selesai. Mulai dari pembangunan gereja dan studi doktoral hingga sekolah-sekolah yang masih bertumbuh. Namun tidak ada yang sia-sia. Benih yang ia tabur akan terus tumbuh melalui tangan-tangan yang melanjutkannya.

Pengharapan Elisabet dan semua umat Kristiani, ada di dalam Kristus. “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yohanes 11:25).

Duka kita nyata, tetapi duka orang percaya bukanlah duka tanpa pengharapan. Kita melepas Almarhumah Ibu Elisabet dengan air mata, sekaligus dengan iman bahwa ia telah beristirahat di dalam Tuhan.

Kepergian Ny Elisabet Yulanda Flassy Wandik meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah diisi: di rumah, kantor, gereja, dan di hati masyarakat Tolikara. Namun ia tidak pergi dengan tangan hampa. Ia meninggalkan sekolah-sekolah yang terus berdiri, gereja yang sedang dibangun, anak-anak yang lebih sehat, dan teladan kepemimpinan yang akan lama kami kenang.

Atas nama Pemerintah Kabupaten Tolikara, penulis menyampaikan duka cita yang mendalam kepada Bapak Bupati Willem Wandik, SH, S.Sos dan kepada anak-anak terkasih serta kepada keluarga besar Flassy–Wandik.

Kiranya Tuhan Yesus Kristus, sumber penghiburan sejati, menguatkan dan memelihara keluarga yang ditinggalkan. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Timotius 4:7).

 

Selamat jalan, Mama

Beristirahatlah dalam damai Tuhan

Nago Wari Sisi Faf…. Yaki… yaki… Wa.. wa.. wa…

Yosua Noak Douw, Sekda Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan

Sumber: Riwayat Hidup Almarhumah dari Keluarga Besar Flassy–Wandik dan odiyaiwuu.com, 6 November 2026