ASSISI, ODIYAIWUU.com — Pemimpin umat Katolik sedunia Paus Leo XIV menyampaikan pesan penting saat berlangsung Pertemuan Internasional untuk Perdamaian 2026 (International Meeting for Peace) yang diselenggarakan Komunitas Sant’Egidio (Comunità di Sant’Egidio) di Assisi, Italia, pada Minggu-Selasa (25–27/10).
Dalam pesan yang disampaikan melalui video, Paus juga berdoa dan mengajak semua peserta untuk bersama-sama menjadi sarana perdamaian Tuhan yang tidak bersenjata. Sri Paus menegaskan bahwa perang tidak pernah dapat dilakukan atas nama Allah.
“Perang tidak pernah dapat dilakukan atas nama Allah. Bagi kita yang beriman, berperang atas nama agama berarti menyerang agama itu sendiri. Tidak ada yang namanya perang suci, hanya perdamaianlah yang suci,” ujar Paus Leo berdasarkan laporan wartawan vaticannews.va Deborah Castellano Lubov dan dikutip di Jakarta, Minggu (1/11).
Pertemuan selama tiga hari tersebut dilaksanakan di kota perbukitan Asisi, wilayah Umbria, Italia, tempat Santo Fransiskus dilahirkan. Pertemuan tersebut bertajuk Disarmed and Disarming Peace (Perdamaian yang Tak Bersenjata dan Melucuti Kekerasan).
Paus mengawali pesannya dengan mengingatkan bahwa para peserta berkumpul di kota Santo Fransiskus, 40 tahun setelah Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian yang diselenggarakan pada 27 Oktober 1986 atas prakarsa Santo Yohanes Paulus II.
Setelah pertemuan bersejarah pertama tersebut, Paus Leo mengatakan bahwa pendahulunya menyerukan agar kita terus menghidupi semangat Asisi. Paus menyampaikan salam kepada para penyelenggara, para patriark, pemimpin agama serta para Fransiskan yang secara aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan doa dan dialog selama pertemuan tersebut.
“Saya sungguh ingin berada bersama Anda di makam Santo Fransiskus pada peringatan penting ini, melihat wajah Anda, dan bersama-sama memberikan kesaksian bahwa hidup sebagai saudara dan saudari sudah mungkin diwujudkan,” ujar Paus Leo lebih lanjut.
Di tengah situasi saat ini yang ditandai oleh budaya kekuasaan, Paus Leo menegaskan bahwa semangat Asisi perlu terus dipupuk. Semangat tersebut mencakup penolakan terhadap pembenaran perang atas nama agama, semangat mediasi dan dialog serta refleksi kontemplatif yang disertai tindakan kreatif demi mewujudkan masa depan yang damai.
Dalam konteks ini, Paus menegaskan bahwa perdamaian harus kembali menjadi cita-cita bersama semua bangsa, bintang penuntun bagi setiap pilihan kita, tolok ukur yang menyingkap ketidakadilan, serta cakrawala bersama bagi semua orang.
“Kita harus membangun kembali perdamaian di mana-mana, bukan mempersiapkan lebih banyak perang. Nama Allah tidak boleh dimanipulasi untuk berusaha membenarkan perang,” kata Paus tegas.
Paus menjelaskan bahwa perjalanan yang dimulai di Asisi sebagai upaya bersama untuk mencari perdamaian pada dasarnya adalah jalan doa. Doa diakuinya mungkin tampak lemah tetapi merupakan kekuatan yang rendah hati.
“Doa mungkin tampak lemah ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan dunia tetapi doa merupakan kekuatan yang rendah hati dari orang-orang beriman,” kata Paus Leo.
Karena itu, Paus juga mengajak semua orang untuk berpaling kepada Allah, Sang Pemberi Damai. “Marilah kita berpaling kepada Allah, Sang Pemberi Damai, agar Ia menyentuh hati mereka yang menginginkan perang dan terorisme. Janganlah kita lupa bahwa doa tidak pernah sia-sia,” ujar Paus dalam seruannya.
Paus menekankan, dunia membutuhkan dialog. Jalan Asisi mengajak para pemimpin agama untuk membangun iklim dialog di antara umat beriman dan di tengah masyarakat.
Dengan demikian, bahasa kesombongan dapat digantikan oleh bahasa perdamaian, perundingan, dan saling pengertian sehingga umat manusia secara bertahap dapat keluar dari lingkaran kekerasan.
Paus di akhir pesannya menitip harapannya agar doa-doa yang dipanjatkan dapat memperoleh dari Allah perdamaian yang dirindukan bagi bangsa-bangsa di dunia. Ia berdoa agar Tuhan menjadikan peserta sarana perdamaian-Nya yang tidak bersenjata.
Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Majelis Ulama Indonesia KH Marsudi Syuhud juga hadir menyampaikan paparannya berjudul Agama-Agama di Asia: Pencarian Perdamaian di Dunia yang Dilanda Perang — Sebuah Perspektif Islam dalam rangkaian pertemuan internasional tersebut.
Kiai Marsudi menyoroti realitas global yang tengah terkoyak oleh berbagai konflik bersenjata, mulai dari Gaza, Myanmar, Ukraina hingga kawasan Timur Tengah seperti Iran, Palestina, dan Yaman.
“Hari ini, kita hidup di dunia yang tengah berperang. Pertanyaannya di manakah agama? Apakah agama bagian dari perang atau bagian dari perdamaian?” kata Kiai Marsudi di Assisi, Italia, Kamis (29/10).
Sebagai representasi dari benua Asia yang dikenal sebagai tempat kelahiran berbagai agama besar dunia seperti Hindu di India, Buddha di Nepal, Konfusianisme di Tiongkok hingga agama-agama samawi di Asia Barat Kiai Marsudi menegaskan, jika agama-agama lahir di Asia, semangat perdamaian juga harus lahir dan dipancarkan dari Asia.
Kiai Marsudi mengelaborasi pandangannya melalui empat pendekatan utama: dalil Al-Qur’an dan Hadis, teladan sejarah Nabi Muhammad SAW, pandangan para ulama, serta prinsip-prinsip yurisprudensi (fiqh). Kiai Marsudi menyoroti Model Madinah sebagai preseden historis kepemimpinan majemuk pertama di dunia.
Konstitusi Madinah (Sahifah Al-Madinah) yang dicetuskan pada tahun 622 M terbukti mampu merangkul keragaman umat Islam, Yahudi, Kristen, Majusi, dan pagan Arab dalam ikatan damai dan kebebasan beragama, 400 tahun lebih awal sebelum lahirnya Magna Carta di Eropa.
“Jika Madinah bisa hidup damai dengan berbagai agama 1.400 tahun yang lalu, mengapa Gaza, Ukraina, Iran, Yaman, Palestina, dan tempat-tempat lainnya tidak bisa hidup damai hari ini?,” ujar Kiai Marsudi.
Kiai Marsudi dalam pertemuan itu menyerukan agar dunia tidak mengimpor perang ke Asia, melainkan mengekspor nilai-nilai perdamaian dari Asia. Dengan memadukan prinsip Salam dalam Islam, Vasudhaiva Kutumbakam dalam Hindu, Ahimsa dalam Buddha, prinsip keharmonisan Konfusianisme hingga kasih sayang dalam ajaran Kristen, para pemimpin agama didorong untuk terus mendesak dialog, diplomasi, dan negosiasi demi mengakhiri perang.
Pertemuan internasional di Assisi ini akhiri dengan seruan kolektif para tokoh lintas agama untuk terus membangun jembatan dialog dan menolak segala bentuk kekerasan demi masa depan kemanusiaan yang beradab.
Berdasarkan dokumen resmi program acara International Meeting for Peace Assisi 2026, sesi Forum 21 yang membahas peran agama-agama di Asia ini dipimpin oleh Agostino Giovagnoli, sejarawan asal Italia dari Komunitas Sant’Egidio.
Selain Kiai Marsudi, forum strategis ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh dan pemimpin keagamaan internasional terkemuka, di antaranya Komunitas Sant’Egidio Belgia, Hilde Kieboom; Presiden Dewan Regional Umbria Italia Stefania Proietti; Orientalis dan Ilmuwam Politik Prancis Olivier Roy.
Hadir pula Attivista Inisiatif Strategis untuk perempuan Tanduk Afrika Hala Al-Karib; Menteri Agama Republik Indonesia KH Nasaruddin Umar; Presiden Konferensi Episkopal Italia Matteo Zuppi; Rabi Agung Perancis Haim Korsia serta Imam Besar Budddhisme Jepang Gijun Sugitani. (*)










