SURAKARTA, ODIYAIWUU.com — Kabar menggembirakan bagi pemerintah dan masyarakat, khususnya dunia pendidikan di tanah Papua dan Indonesia. Kabar tersebut datang dari Surakarta, Jawa Tengah.
Willem Bobi, putra asli Papua dari Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah, Sabtu (31/10) mengikuti prosesi Wisuda Program Magister Universitas Sebelas Maret Periode IX Tahun 2026 di Auditorium GPH Haryo Mataram, SH Universitas Sebelas Maret, Jalan Insinyur Sutami, Surakarta, Jawa Tengah.
“Saya mengucap syukur kepada Tuhan atas karya Agung-Nya selama saya berjuang dalam kesabaran, kerja keras, dan pantang menyerah sehingga boleh mengikuti wisuda. Saya juga berterima kasih kepada kedua orangtua, saudara dan saudari serta ponakan yang setia mendoakan saya selama ini,” ujar Willem Bobi di Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (31/10).
Bobi juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada semua pihak, yang dengan caranya masing-masing mendoakan dan mendukungnya sehingga dapat meraih prestasi membanggakan selama menempuh studi di Program Magister Ilmu Fisika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret Surakarta.
“Saya terharu, tak pernah membayangkan lulus S2 Ilmu Fisika dengan predikat Dengan Pujian atau Cum Laude dan Indeks Prestasi Kumulatif atau IPK 3,92 dari skala 4,00,” kata Bobi, mantan guru dan penulis buku Dukun Asmat.
Menurut Bobi, capaian akademik membanggakan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan pendidikannya sekaligus menjadi kebanggaan bagi keluarga dan masyarakat di tanah Papua khususnya di tanah kelahirannya, Dogiyai dan Papua Tengah.
“Perjalanan akademik ini juga menjadi pembuktian bagi saya bahwa generasi muda tanah Papua memiliki kesempatan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi hingga jenjang pendidikan tinggi. Kita semua generasi muda hanya butuh semangat belajar, kerja keras, dan kesabaran didasari doa,” ujar Bobi.
Selama menempuh pendidikan S2, Bobi mengaku mendalami bidang fisika teoretis, khususnya fisika relativistik dan mekanika kuantum dalam ruang-waktu melengkung. Penelitian tesis S2 berjudul Spektrum Energi Relativistik dan Sistem Quarkonium dalam Geometri Traversable Wormhole (2+1)D Menggunakan Koreksi Rainbow Gravity dan Potensial Gaussian.
“Penelitian ini mengkaji perilaku sistem partikel relativistik, khususnya sistem quarkonium yang tersusun atas pasangan quark dan antiquark dalam geometri lubang cacing yang secara teoretis memungkinkan perjalanan melintasi ruang-waktu, traversable wormhole,” kata Bobi.
Menurut Bobi, kolumnis odiyaiwuu.com, portal berita yang terbit di Kampung Kimupugi, Distrik Kamuu, Dogiyai, kajian ini menggabungkan persamaan Klein–Gordon, teori gravitasi Rainbow dan pendekatan potensial Gaussian untuk menganalisis spektrum energi sistem kuantum dalam ruang-waktu berdimensi lebih rendah.
“Penelitian ini merupakan bagian dari pengembangan kajian fisika teoretis dan komputasi, yang menghubungkan konsep mekanika kuantum, relativitas serta pemodelan matematis terhadap fenomena fisika yang masih menjadi objek penelitian dalam fisika modern,” ujar Bobi.
Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan S2 di UNS Surakarta tak lepas dari perjalanan panjang pendidikan yang telah ditempuh sebelumnya. Bobi merampungkat pendidikan sarjana strata 1 (S-1) Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Setelah melalui berbagai pengalaman profesional, ia kembali melanjutkan pendidikan pada jenjang S2 di universitas yang sama hingga berhasil meraih gelar Magister Ilmu Fisika pada tahun 2026.
Dalam perjalanan tersebut, dukungan keluarga dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dogiyai, termasuk dukungan Bupati Dogiyai dan Dinas Pendidikan Dogiyai, menjadi bagian penting yang turut mendorong keberlanjutan pendidikannya.
“Dukungan terhadap pendidikan putra-putri daerah merupakan investasi jangka panjang bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Papua, terutama dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan tantangan pembangunan di masa mendatang,” katanya.
Bagi Bobi, pencapaian akademik bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses panjang untuk terus belajar, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan memperluas kontribusi bagi masyarakat.
Pendidikan tinggi, diakuinya, harus menjadi sarana untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi generasi muda Papua agar dapat mengambil bagian dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bobi berdoa dan berharap capaian akademik ini dapat menjadi motivasi bagi generasi muda Dogiyai dan Papua pada umumnya untuk terus memperjuangkan pendidikan, berani menekuni bidang ilmu pengetahuan serta tidak membatasi cita-cita hanya karena keterbatasan geografis maupun fasilitas pendidikan.
“Ke depan saya masih bertekun dalam doa dan usaha untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral, S3 dengan tetap menekuni bidang fisika teoretis, fisika komputasi, dan pengembangan kajian fisika modern. Semoga Tuhan membuka jalan,” kata Bobi. Proficiat! Selamat atas capaian akademik membanggakan. Tuhan berkati. Koyao…….. (*)










