Masyarakat Tolikara masih berselubung duka. Ny Elisabet Wandik tutup usia di Jayapura, Senin (2/11). Tuhan memanggilnya di tengah cinta nan tulus diarahkan bagi kemajuan gereja dan masyarakat.
SENIN 2 November 2026 pagi, kabar duka berpulangnya Ny Elisabet Wandik —lengkapnya Ny Dr (Cand) Elisabet Yulanda Flassy Wandik, SE, MM— berseliweran, memenuhi jejaring jagat maya, terutama di tanah Injil Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan. Tak ada keterangan resmi di mana dan apakah Almarhumah Ny Elisabet Wandik jatuh sakit? Tak ada keterangan resmi pihak keluarga kala itu.
Rasa sedih terungkap dalam flayer yang beredar di lini massa terutama WhatsApp di Karubaga, kota Kabupaten Tolikara. Pun di Kota Wamena, Jayapura, Nabire, Merauke hingga pelosok tanah Papua yang mengenal Ny Elisabet Wandik sebagai sahabat dan pribadi pekerja keras dalam tugas sebagai abdi negara dan masyarakat.
Ny Elisabet Wandik, suami Bupati Tolikara Willem Wandik, SH, S.Sos, bukanlah sosok aparatur sipil negara (ASN) biasa. Jabatannya, strategis. Sebelum ajal menjemputnya, ia mengemban tugas sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Tolikara sekaligus Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Tolikara.
Dalam kotbahnya saat memimpin Ibadah Pelepasan Jenazah di Perumahan Buper Waena, Sekretaris Klasis Sentani Gereja Kristen Injili di Tanah Papua Pendeta Roy Chandra, S.Si memanjatkan doa kepada Tuhan mengenang Almarhumah Ny Elisabeth Wandik.
Sekaligus doa penghiburan bagi keluarga Bupati Willem Wandik beserta anak-anak, keluarga besar Wandik dan Flassy serta keluarga besar jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tolikara, teristimewa Bapperida Tolikara, ASN, gereja lokal dan masyarakat tanah Papua khususnya di tanah Injil Tolikara.
“Engkaulah Allah kami, Allah yang telah menetapkan segala sesuatu dalam kehidupan ini. Allah menetapkan kapan kami lahir dan kapan kami mati. Kapan kami harus menikmati suka cita, kapan kami harus mengalami duka cita. Segala sesuatu boleh kami katakana atas penentuan Allah,” ujar Pendeta Roy Chandra dalam kotbah melalui laman YouTube yang dishare Alex Ramandey di grup WA Toli Wone News, Jumat (6/11) pukul 07.00 WIT.
Ziarah Pengabdian
Ny Elisabet Flassy Wandik tutup usia di Rumat Sakit Umum Pusat (RSUP) Abepura, Jayapura, Senin (2/11) pukul 08.16 WIT. Keluarga besar Flassy-Wandik menyajikan sekilas curriculum vitae, riwayat hidup Almarhumah Ny Elisabet Wandik untuk mengenang perjalanan hidup, pengabdian, dan iman berpijak 2 Timotius 4:7, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”
Ada kehidupan yang dikenang karena jabatan yang pernah diemban, dan ada pula yang dikenang karena jejak kasih yang ditinggalkan bagi sesama. Almarhumah Ny Elisabet Wandik, dikenang karena keduanya (jabatan dan jejak kasih).
Lahir pada 10 Maret 1974 di Seribau, Elisabet Yulanda Flassy menapaki perjalanan panjang dari bangku sekolah dasar di Teminabuan hingga tercatat sebagai mahasiswa Program Doktor (S3) di Universitas Cenderawasih (Uncen), dari tenaga honorer di Jayapura hingga didapuk sebagai Kepala Bapperida Tolikara.
“Di sela tugas pemerintahan, hatinya tertambat pada pendidikan anak, pemberdayaan perempuan, pelayanan gereja, dan kesehatan keluarga di wilayah pegunungan. Yayasan, sekolah, dan pusat kegiatan belajar yang ia dirikan, panitia pembangunan gereja yang ia pimpin, serta pengakuan atas upayanya menekan angka stunting menjadi saksi bahwa pengabdiannya menjangkau jauh melampaui ruang kantor,” ujar keluarga Flassy-Wandik.
Sekilas riwayat hidup Almarhumah diberikan keluarga besar Flassy-Wandik untuk dibacakan dalam ibadah penghiburan dan pelepasan jenazah Almarhumah Ny Elisabet Wandik sekaligus disimpan sebagai dokumentasi keluarga. Riwayat tersebut menjadi pengingat akan kebaikan Tuhan yang telah nyata melalui hidup seorang istri, ibu, saudara, pemimpin, dan pelayan semasa hidup.
Almarhumah Elisabet Yulanda Flassy lahir dan dibesarkan dalam keluarga besar Flassy. Ia putri pasangan suami-istri Fredrick Flassy dan Susana Kemesrar. Terlahir sebagai anak kelima dari tujuh bersaudara yaitu (kakaknya): Keterina Flassy, Dance Yulian Flassy, SE, M.Si (Almarhum), Lina Lince Troce Flassy, SE, MM, dan Frida Flassy serta adiknya, Reuland Hendrikus Flassy, ST dan Nestorius Flassy.
Elisabet Yulanda Flassy menikah dengan pemuda pilihannya, Willem Wandik. Sejak itu, nama Flassy dan Wandik menjadi satu keluarga besar. Dari pernikahan suci, keduanya diberkati Tuhan dengan empat orang anak: Abraham Qubene Oeyah Wonok Wandik; Gledis Jeanet Alicia, SH, MH; Lettysia Gesky; dan Selly Susana Wandik.
Bagi anak-anaknya, Almarhumah bukan hanya seorang ibu tetapi juga teladan hidup tentang arti kerja keras, ketekunan dalam belajar, dan kesetiaan melayani. Nama Oeyah Wonok yang melekat pada putranya kelak menjadi nama yayasan dan lembaga pendidikan yang ia dirikan.
Pendidikan dan Pengabdian
Perjalanan pendidikan Elisabet Yulanda Flassy dimulai di tanah kelahirannya di Sorong Selatan, berlanjut ke Kota Sorong hingga Jayapura. Ada hal menarik dalam diri Elisabet Yulanda Flassy di bidang pendidikan.
Pendidikan tinggi ia tempuh sambil bekerja, sebuah bukti bahwa semangat belajarnya tidak pernah padam hingga akhir hayat ketika ia bertaruh waktu merampungkan studi doktoral.
Elisabet Yulanda Flassy masuk SD YPK Haha Teminabuan tahun 1979–1985; kemudian SMP Negeri 2 Kota Sorong tahun 1985–1988; dan SMA Negeri 1 Kota Sorong tahun 1988–1991.
Kemudian, S1 Ekonomi Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay 1 Januari 2005; S-2 Manajemen Keuangan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ISM pada 25 Agustus 2015; dan sejak Agustus 2024–2026 tengah menempuh studi S-3 Bidang Manajemen Universitas Cenderawasih.
“Dari sekolah dasar hingga jenjang doktoral, rangkaian pendidikan ini mencerminkan komitmen Almarhumah untuk terus mengembangkan pengetahuan dan kapasitas diri, bukan semata demi dirinya tetapi agar dapat melayani daerah dan masyarakat dengan lebih baik,” kata perwakilan keluarga besar Flassy-Wandik.
Selepas SMA, Elisabet Yulanda Flassy langsung terjun ke dunia kerja sebagai karyawan PDAM. Jalan pengabdiannya kemudian berlanjut sebagai tenaga honorer di Balai Bina Marga Jayapura hingga diangkat menjadi aparatur sipil negara dan dipercaya memegang berbagai jabatan strategis di Kabupaten Puncak Jaya, Tolikara, dan Gedung Negara Provinsi Papua.
Sejak 1 Mei 2006 Elisabet Yulanda Flassy tercatat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) kemudian PNS pada 1 November 2007. Pangkat dan golongannya sebagai PNS terus merangkak mulai dari III/a Penata Muda terhitung mulai (TMT) 1 Mei 2006; III/b Penata Muda Tingkat I 1 April 2014; III/c Penata 1 Oktober 2018; III/d Penata Tingkat I 1 Oktober 2023; dan IV/a Pembina 1 Maret 2026.
Riwayat Penugasan
Sejak tahun 1991, Elisabet Yulanda Flassy mengabdi sebagai karyawan PDAM. Tahun 2004–2006 tercatat sebagai honorer di Balai Bina Marga di Jayapura. Dan Tahun 2006 sebagai Staf Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Puncak Jaya.
Tahun 2012–2014 sebagai Kepala Bidang Bina Marga, Dinas PUPR Kabupaten Tolikara; dan tahun 2014–2015 sebagai Sekretaris Pribadi Ibu Yolce Enembe di Gedung Negara Provinsi Papua.
Kemudia, tahun 2015–2016 sebagai Kepala Rumah Tangga Gubernur, Gedung Negara Provinsi Papua; 2019–2023 sebagai Sekretaris Dinas PUPR Kabupaten Tolikara; 2023–2025 Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Tolikara; dan 2025–2026 menjabat Kepala Bapperida Tolikara.
Elisabet Yulanda Flassy juga pernah menjabat Sekretaris TP-PKK Provinsi Papua 2013–2014; Anggota Persatuan Istri Anggota DPR RI (PIA) Fraksi Demokrat tahun 2014–2024; dan Ketua Peresmian Gereja Solagratia Buper Waena tahun 2023.
Ketua Panitia Pembangunan Gereja GKI Syaloom Seribau tahun 2023–2026; Ketua TP-PKK Tolikara 2025–2026; Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kabupaten Tolikara 2025–2026; dan Ketua Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Kabupaten Tolikara tahun 2025–2026; dan Bunda PAUD Kabupaten Tolikara tahun 2025–2026.
Ketua Sidang Klasis GKI Sentani tahun 2026; Pendiri sekaligus Ketua Yayasan Kuben Oeyah Wonok hingga 2026; Pendiri SD dan TK/PAUD Oeyah Wonok Kabupaten Tolikara hingga 2026; dan Pendiri PKBM Oeyah Wonok Kabupaten Tolikara hingga 2026.
“Melalui organisasi-organisasi tersebut, Almarhumah menaruh perhatian besar pada pemberdayaan perempuan, pendidikan anak, pelayanan gereja, pembangunan sosial, dan kesejahteraan masyarakat. Sekolah dan pusat kegiatan belajar yang ia rintis akan terus menjadi warisan hidup bagi generasi muda Tolikara,” ujar pihak keluarga Flassy-Wandik.
Selamat jalan menuju rumah Bapa di Surga, Ny Elisabet Yulanda Flassy Wandik. Damailah di sisi-Nya. Semoga keluarga Bapak Willem Wandik beserta anak-anak dan keluarga besar Flassy – Wandik beroleh penghiburan serta kekuatan dari Tuhan dalam peristiwa iman ini.
Semoga pula keluarga besar jajaran Pemerintah Kabupaten Tolikara, para pemimpin gereja, jemaat, tokoh, intelektual. dan masyarakat Tolikara tetap sabar atas kehilangan Ny Elisabet Yulanda Flassy Wandik, sosok birokrat yang mengabdi setulus hati bagi Masyarakat dan gereja di tanah Injil Tolikara.
Terima kasih atas pengabdian dan dedikasimu bagi gereja dan Masyarakat tanah Injil Tolikara, Ibu Elisabet Yulanda Flassy Wandik. Tuhan menyambutmu dalam keabadian Surgawi. (*)










