WAMENA, ODIYAIWUU.com — Setelah dua hari disemayamkan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, dua jenazah korban penembakan oleh kelompok kriminal bersenjata Drh Alfonsius Albinus Mehan dan Aprida Rapi dipulangkan ke kampung halamannya pada Jumat (11/9).
Alfonsius dipulangkan ke Maumere, kota Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara Aprida dipulangkan ke Toraja Sulawesi Selatan. Pemulangan kedua jenazah diantar langsung ratusan pelayat di Bandara Wamena. Keduanya diterbangkan dari Wamena tujuan Jayapura menggunakan pesawat Cargo Trigana Air PK YSN.
Setelah tiba di Bandara Sentani, Jayapura, kedua jenazah lanjut diterbangkan ke daerah asal menggunakan pesawat Sriwijaya Air. Dua jenazah korban penembakan Jumat (11/9) siang sudah dipulangkan ke daerah asal.
“Satu jenazah dipulangkan ke Maumere, NTT sedangkan satunya dipulangkan ke Toraja, Sulawesi Selatan,” ujar Kepala Satuan Tugas (Satgas) Hubungan Masyarakat (Humas) Operasi Damai Cartenz Kombes Pol Yusuf Sutejo di Jayapura, Papua, Jumat (11/9).
Jenazah Aprida dijadwalkan tiba di Toraja pada Jumat malam. Sementara jenazah Alfonsius dijadwalkan tiba di Bandara Udara Frans Seda, Maumere, Flores, Sabtu (12/9) pagi.
Sementara untuk menjamin keamanan warga, Satgas Operasi Damai Cartenz sudah menambah pasukan ke Jayawijaya. Sebanyak 50 personil dikirim dari Timika ke Jayawijaya pada Kamis (10/9). “Sudah kita dorong kurang lebih 50 personil dari Timika ke Jayawijaya untuk membantu pengamanan,” kata Yusuf.
Penambahan personel tersebut dilakukan untuk mendukung upaya kepolisian dalam mengungkap kasus dan mengejar pihak yang diduga sebagai pelaku penembakan.
Yusuf juga meminta masyarakat yang memiliki informasi terkait keberadaan maupun identitas terduga pelaku agar menyampaikannya kepada aparat kepolisian.
“Manakala ada masyarakat yang punya informasi terkait dengan hal tersebut, bisa disampaikan ke aparat Kepolisian dan kita jamin kerahasiaan dari pemberi informasi ini, agar kasus ini dapat segera kita ungkap dan kita tangkap para pelaku,” katanya.
Sementara itu, kabut duka menyelimuti keluarga almarhumah Willi Mbuik, ASN asal Kabupaten Rote Ndao, NTT yang gugur dalam insiden Muliama. Pihak keluarga mendesak Presiden Republik Indonesia serta Menteri Hak Asasi Manusia turun tangan mengusut tuntas tragedi berdarah tersebut.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rote Ndao, Jumat (11/9) menjemput jenazah Wili Mbuik, CPNS Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Jenazah tiba melalui Pelabuhan Pantai Baru.
Jenazah selanjutnya diantar jajaran Pemkab Rote Ndao bersama Forkopimda menuju rumah duka di Kelurahan Busalangga, Kecamatan Rote Barat Laut, sebagai bentuk penghormatan dan kepedulian pemerintah kepada keluarga yang berduka.
Setiba di Pelabuhan Pantai Baru, jenazah langsung disambut oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Rote Ndao dan Forkopimda. Selanjutnya, rombongan mengantar jenazah menuju rumah duka di Kelurahan Busalangga, Kecamatan Rote Barat Laut, untuk diserahkan kepada keluarga.
Penjemputan tersebut menjadi wujud perhatian dan penghormatan Pemkab Rote Ndao terhadap almarhumah Wili Mbuik yang meninggal dunia setelah menjadi korban penembakan di Jayawijaya. Pemerintah daerah turut menyampaikan dukacita yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan.
Penjabat Sekda Rote Ndao, Daniel W Nalle, S.Pt menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas kepergian almarhumah. Ia berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi masa dukacita.
Di tengah suasana duka, pihak keluarga juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan serta memfasilitasi proses pemulangan jenazah hingga tiba di rumah duka.
Ucapan terima kasih tersebut disampaikan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayawijaya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT serta Pemkab Rote Ndao atas perhatian, bantuan, dan fasilitasi yang diberikan sejak proses penanganan hingga pemulangan jenazah ke Rote Ndao.
Kehadiran jajaran pemerintah daerah bersama Forkopimda dalam penjemputan dan pengantaran jenazah menjadi bentuk solidaritas pemerintah dan masyarakat Rote Ndao kepada keluarga Almarhumah sekaligus menunjukkan kepedulian terhadap warganya yang mengalami musibah di luar daerah. (*)










