Oleh Laurens Ikinia
Peneliti Institute of Pacific Studies; Dosen Hubungan Internasional UKI, Jakarta
DUNIA, terutama Kerajaan Britania Raya dibanjiri berbagai postingan ucapan selamat ulang tahun di media massa. Bukan sekadar ucapan biasa. Itu adalah momen bersejarah bagi seorang pria yang suaranya telah menyatu dengan kesadaran kolektif umat manusia.
Sir David Attenborough kini menginjak usia seratus tahun. Bukan hanya panjang umur yang ia rayakan, melainkan warisan luar biasa: kemampuan membuat jutaan orang di dunia jatuh cinta pada alam.
Tapi sebagai anak Papua yang tumbuh di tengah hutan tropis dan mangrove yang perlahan lenyap, saya merenung. Apa arti seorang Attenborough bagi tanah Papua dan Indonesia? Dan yang lebih penting, mampukah kita menerjemahkan rasa kagum itu menjadi kebijakan yang adil, berkelanjutan, dan bersahabat dengan dunia flora dan fauna?
Inilah persoalan yang menarik sekaligus pelik. Di satu sisi, kita butuh pendekatan lembut, artistik, dan membangkitkan cinta seperti yang diajarkan Attenborough. Di sisi lain, kita juga memerlukan pendekatan tegas, politis, dan strategis yang dijalankan oleh elit seperti Hashim Djojohadikusumo.
Mengapa Hashim? Beliau adalah utusan khusus presiden untuk energi, iklim, dan lingkungan hidup. Ia adalah sosok unik karena kecintaannya terhadap flora dan fauna diwujudkan dalam aksi nyata.
Attenborough: Sang Penjaga Rasa Kagum
Perhatikan berbagai ucapan di media sosial tadi. Di sana terpampang kutipan Attenborough yang menjadi fondasi segalanya: “The natural world is the greatest source of excitement; the greatest source of visual beauty; the greatest source of intellectual interest.” Ia tidak pernah ingin menjadi bintang. Ia ingin menjadi jendela.
Kata-kata seperti excitement dan intellectual interest bukanlah bahasa dingin ilmuwan yang kaku. Itu adalah bahasa hangat seorang pencinta. Lalu ada yang memposting: “You Showed Us The World. You Helped Us Fall In Love With It. And You Inspired Us To Protect It.” Attenborough paham betul: manusia tidak akan melindungi apa yang tidak mereka cintai. Dan tidak akan mencintai apa yang tidak mereka kenal.
Warisan terbesarnya? Menyatukan kegembiraan ilmiah dengan aksi moral. Ia tak pernah menggunakan nada mengancam atau rasa bersalah. Sebaliknya, ia memilih rasa kagum. Dan percayalah, rasa kagum bertahan lebih lama dalam ingatan manusia dibanding rasa takut.
Kami masih ingat pertama kali menonton dokumenter Attenborough. Waktu itu kami masih di bangku kuliah, duduk di lantai ruang kelas IPU New Zealand, menatap televisi yang berdiri tegak di perpustakaan kampus tersebut. Ia menjelaskan simbiosis ikan badut dan anemon laut. Suaranya yang tenang membuat lautan terasa akrab, seolah-olah kami bisa menyentuhnya.
Tapi ironisnya, jauh di kampung halaman kami, Tanah Papua, hutan mangrove di pesisir desa mulai ditebang untuk tambak. Waktu kecil, ketika melihat pohon dan hutan ditebang, kami belum paham ironi itu.
Kini, setelah dewasa, pertanyaan itu kembali menghantui: mengapa tanah Papua dan Indonesia, dengan 17.000 pulau dan keanekaragaman hayati yang luar biasa, tidak memiliki Attenborough versi kita sendiri?
Jawaban sementara kami begini: pendekatan konservasi kita terlalu sering kaku, menggurui, dan berpusat pada regulasi tanpa akar budaya. Kita lebih banyak menayangkan bencana daripada keindahan.
Akibatnya, publik mengalami “kelelahan bencana”. Bukan rasa penasaran yang tumbuh, melainkan rasa jenuh. Padahal, seperti yang diajarkan Attenborough, orang akan menyelamatkan sungai hanya jika mereka lebih dulu jatuh cinta pada sungai itu.
Empat Jurus Indonesia Belajar Bercerita
Setelah merenungkan warisan Attenborough, izinkan kami menawarkan empat rekomendasi praktis. Bukan solusi ajaib, tapi setidaknya titik awal untuk berdiskusi.
Pertama, kita perlu memperbanyak dokumenter alam berbahasa Indonesia yang mengedepankan rasa kagum. Selama ini tayangan lingkungan kita didominasi oleh banjir, tanah longsor, dan polusi. Memang penting, tapi tanpa porsi keindahan yang seimbang, publik akan lelah.
Kita butuh tayangan tentang keajaiban Taman Nasional Lorentz, keanggunan komodo, atau kecerdasan burung Maleo dan Cenderawasih. Tayangan yang membangkitkan rasa penasaran, bukan keputusasaan.
Kedua, literasi narasi visual alam harus masuk ke kurikulum pendidikan. Sekolah tidak hanya perlu mengajarkan ekologi secara teoritis, tetapi juga bagaimana menceritakannya.
Bayangkan anak-anak di Raja Ampat membuat video pendek tentang terumbu karang di sekitar mereka, dengan narasi sendiri, lalu dibagikan secara lokal. Kita butuh generasi yang tidak hanya cinta alam secara abstrak, tetapi juga mampu mengomunikasikan kecintaan itu.
Ketiga, mari dorong ilmuwan dan praktisi konservasi untuk melampaui jurnal akademik. Masuk ke ruang publik. Di Indonesia, banyak penelitian tentang orangutan, gajah Sumatera, atau terumbu karang yang hanya tersimpan rapi di perpustakaan. Tidak sampai ke telinga publik.
Dana riset perlu mengalokasikan porsi khusus untuk pelatihan komunikasi publik. Bayangkan jika seorang profesor ekologi di universitas besar di Indonesia bisa tampil di YouTube dengan cara yang memikat seperti Attenborough. Dampaknya akan luar biasa.
Keempat, kita perlu merayakan kearifan lokal sebagai narasi kebanggaan. Di banyak desa adat Indonesia, ada pengetahuan tentang musim, rotasi tanaman, larangan menebang di hulu sungai. Itu adalah “dokumenter alam versi leluhur”. Kita perlu merekam, merayakan, dan menyebarluaskannya.
Bukan sebagai peninggalan kuno, tetapi sebagai solusi hidup yang cerdas. Jika Attenborough bisa membuat dunia menghormati ritual Suku Yanomami di Amazon, mengapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama untuk Suku Baduy atau Dayak atau Tanah Papua?
Hashim: Ketika Cinta Alam Bertemu Kekuasaan
Tapi jangan salah. Mengajak orang jatuh cinta pada alam tidaklah cukup jika kebijakan dan ekonomi tak berpihak. Di sinilah kekuasaan memegang peranan. Di Indonesia, tidak ada figur yang lebih mewakili jembatan antara cinta lingkungan dan kekuasaan selain Hashim Djojohadikusumo.
Siapa Hashim? Ia adalah pengusaha yang dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Sebagai CEO Arsari Group, portofolio bisnisnya mencakup agribisnis kelapa sawit, pulp dan kertas hingga pertambangan.
Namun, yang membedakan adalah bahwa melalui Yayasan Arsari Djojohadikusumo, ia telah membangun pusat rehabilitasi orangutan —sebuah langkah nyata untuk menyelamatkan primata endemik. Ia juga mendorong produk timah ramah lingkungan bernama “envirotin”, sebuah inovasi teknologi rendah karbon yang patut diapresiasi.
Penunjukannya sebagai utusan khusus presiden untuk energi, iklim, dan lingkungan hidup bukan sekadar jabatan teknis. Itu adalah pernyataan politik bahwa isu lingkungan kini duduk di pusat arena strategis negara.
Tak bisa dipungkiri, langkah Hashim menuai pro dan kontra. Sebagian mengapresiasi keberaniannya membawa isu hijau ke meja-raja, sebagian lain mempertanyakan konsistensi. Namun, justru di situlah letak pentingnya: ia membuka ruang dialog antara pelestarian dan kepentingan industri.
Di forum COP, meski posisi Indonesia kadang menuai kritik, Hashim gigih menyuarakan keadilan iklim. Ia mempertanyakan mengapa negara berkembang harus terburu-buru mematikan batu bara sementara negara maju dengan emisi per kapita jauh lebih besar lebih lamban bertindak. Kritik atas “kolonialisme iklim” ini adalah suara penting dari Dunia Selatan.
Kami melihat Hashim mewakili pendekatan kedua dalam pelestarian: pendekatan elit yang pragmatis dan visioner, yang bernegosiasi dengan pasar dan kekuasaan demi tujuan hijau. Attenborough mengajarkan cinta.
Hashim mengajarkan bahwa cinta saja tidak cukup jika tidak diterjemahkan ke dalam investasi, regulasi, dan diplomasi. Keduanya diperlukan. Dan Hashim telah membuktikan diri dengan proyek rehabilitasi orangutan, Envirotin, serta komitmennya menjadikan Indonesia pusat pasar karbon yang berintegritas.
Tentu, akuntabilitas tetap kunci. Jika Pak Hashim ingin Indonesia menjadi “pusat global bagi pasar karbon berintegritas tinggi”, maka mekanisme pengawasan harus transparan.
Jika ia mendorong reboisasi 12,7 juta hektare, maka masyarakat adat yang wilayahnya direboisasi harus menjadi subjek, bukan objek, kebijakan. Tapi setidaknya, langkah awal yang telah ia ambil patut didukung dan diawasi bersama.
Warisan sejati bagi Indonesia adalah ketika kita berhasil memadukan semangat mencintai alam ala Attenborough dengan kemampuan memengaruhi kebijakan dan pasar ala elite visioner seperti Hashim. Bukan saling meniadakan, tapi saling mengawasi dan menguatkan.
Ketika Kagum dan Kuasa Berjabat Tangan
Sebuah postingan ucapan ulang tahun untuk Sir David Attenborough bukanlah tanda titik. Ia adalah koma. Ia mengingatkan bahwa satu suara lembut dapat mengubah cara jutaan manusia memandang dunia.
Untuk Indonesia, tantangan kita bukanlah kurangnya keanekaragaman hayati —kita adalah salah satu negara megabiodiversitas dunia. Tantangan kita adalah kurangnya cerita hebat yang membangkitkan rasa kagum. Rasa kagum yang cukup besar untuk mengalahkan nafsu jangka pendek.
Kita tidak perlu meniru Attenborough. Kita perlu menemukan Attenborough-Attenborough kita sendiri: para guru, jurnalis, pembuat film, tokoh adat, dan anak muda yang bersedia duduk diam di tengah hutan, mendengarkan suara katak dan burung bernyanyi, lalu dengan penuh semangat berkata, “Lihat, betapa indahnya ini.”
Pada saat yang sama, kita membutuhkan elit yang tidak hanya mengerti pasar dan geopolitik, tetapi juga memiliki kesadaran bahwa kelestarian lingkungan adalah prasyarat legitimasi kekuasaan di abad ke-21.
Pak Hashim Djojohadikusumo telah menunjukkan langkah nyata: pusat rehabilitasi orangutan, envirotin, dan diplomasi iklim yang berpihak pada kepentingan Indonesia. Ia memiliki peluang besar untuk menjadi fondasi kokoh bagi kebijakan hijau Indonesia. Mari kita kawal bersama.
Selamat ulang tahun, Sir David Attenborough. Engkau menunjukkan bahwa satu abad kehidupan dapat diisi dengan satu tugas yang terus-menerus: merawat rasa kagum.
Di Indonesia, di tengah krisis lingkungan yang nyata, mungkin kita perlu memulai bukan dengan kemarahan, tetapi dengan rasa kagum itu sendiri. Karena hanya dengan rasa kagum kita akan belajar mencintai.
Dan hanya dengan cinta yang diorganisir secara adil melalui kekuasaan yang akuntabel, kita akan benar-benar melindungi. Semoga Bumi Indonesia tetap dijaga. Tidak hanya oleh peraturan, tetapi oleh hati yang cinta dan sistem yang adil.










