OPINI  

Aku Mau Belajar, Guru Buka Pintu

Angginak Sepi Wanimbo, Pegiat Literasi Provinsi Papua Pegunungan. Foto: Istimewa

Oleh Angginak Sepi Wanimbo

Pegiat Literasi Provinsi Papua Pegunungan

AKU mau sukses sama seperti orang-orang hebat yang saya melihat di tempat aku belajar yaitu di sekolah bersama bapa ibu guru sehingga saya tidak bisa bersantai, bermain-main dan membuang-buang waktu belajar di rumah bersama ayah dan ibu, di gereja bersama guru-guru sekolah minggu serta bersama bapa ibu guru di sekolah tempat aku belajar.

Aku anak kampung. Karena itu, aku selalu bangun pagi. Berdoa minta perlindungan Tuhan, lalu kerja rumah dengan tepat waktu siapkan diri pergi ke tempat belajar, sampai berjumpa bersama sahabat-sahabatku, sambil menunggu guru mengambil waktu bermain bersama teman teman tetapi juga belajar baca buku untuk memperkaya diri dalam kosa kata bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Aku dengan teman-teman datang dari rumah membawa buku dan bolpein penuh dengan semangat karena kami mau belajar tetapi  guru tidak datang ke sekolah tidak kasih kami pelajaran.

Karena itu, kami hanya datang bermain bola, belajar sendiri lalu kembali ke rumah masing-masing di pedalaman kampung. Pergi sampe di rumah taru buku dan bolpein jalan pergi ke hutan mencari kayu bakar tetapi juga jalan pergi membangtu ayah kerja kebun di ladan.

Waktu malam perjumpaan dengan ayah dan ibu bertanya: di sekolah belajar apa? Aku menjawab guru tidak masuk sekolah kami hanya jalan bermain-main saja. Di sekolah putar keliling sekolah; yang lain belajar mandiri baca dan tulis melalui buku bacaan.

Pesan ayah dan ibu: belajar banyak waktu di rumah, di gereja jika guru tidak aktif di sekolah. Sebab belajar di rumah maupun di gereja itu bagian dari proses belajar menuju kesuksesan masa depan yang baik.

Aku Mau Sukses

Sebab kesuksesan tidak datang begitu saja. Perlu membangun kebiasaan positif yang mendukung perjalanan menuju tujuan. Kebisaan ini bisa dimulai dari hal-hal kecil.

Misalnya bangun lebih awal untuk memulai hari sehingga lebih produktif, memperbanyak literasi untuk membuka wawasan dengan membaca buku atau mengikuti pelatihan untuk menambah wawasan dan mulailah mengelola waktu dengan baik.

Belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan oleh setiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingka laku baik dalam bentuk pengetahuan, dan keterampilan.

Begitu pula sikap dan nilai yang positif sebagai pengalaman untuk mendapat sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Biasanya kegiatan belajar ini dilakukan disekolah, dirumah, dilaboratorium dan dimana saja. Beljar merupakaan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks.

Menurut Aryad mengutip Vernon S Gerlach dan Donal P Ely dalam bukunya, Teaching and Media – A systematic Approach (1971), belajar adalah perubahan perilaku.

Sedangkan perilaku itu adalah tindakan yang dapat diamati. Dengan kata lain perilaku adalah suatu tindakan yang dapat diamati atau hasil yang diakibatkan oleh tindakan atau beberapa tindakan yang dapat diamati.

Dengan demikian dapat disimpulkan belajar adalah perubahan tingkah laku pada individu-individu yang belajar. Perubahaan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan.

Namun, lebih dari itu juga bentuk kecakaapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri. Jadi, dapat dikaataakaan bahwa belajar itu kegiatan jiwa raga yang menuju perkembangan pribadi manusia seutuhnya.

Pahlawan Tanpa Jasa

Guru adalah orang yang berada di garis depan dalam dunia pendidikan dalam hal ini mendidik dan mengajar peserta didik. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Maka demi terwujudnya suatu pendidikan yang berkelas atau dengan bahasa lain bermutu, persoalan guru harus dipersiapkan dengan mantang dan sebaik-baiknya.

Profesi guru tidaklah hanya dipandang sebagai pekerja formalitas yang menuntut pada pelaksanaan mengajar di kelas, jabatan akademik, dan bajaran atau gaji, namun lebih pada tindakan-tindakan edukatif dengan tujuan murni membentuk manusia reliius, terdidik dan berakhlas mulia.

Tujuan pendidikan yang termuat dalam Undang–Undang Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreaktif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Oleh karena itu menjadi seorang guru adalah tugas bagi kita semua, guru untuk diri kita sendiri, keluarga dan orang lain. Mengapa? Oleh karena guru memberi manfaat maka kita dapat merasakan sebuah kebahagiaan; selalu kita tabung di setiap langkah.

Sebagai bekal kita kelak untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki di kehidupan akan datang. Bekal kekuatan inilah yang akan memberikan rasa tenang, gairah, hidup ihklas untuk berbuat baik lebih banyak lagi. Kebahagiaan adalah pilihan hidup. Hanya bisa ditemukan jika kita bisa berbuat baik “bagi yang lain”.

Profesi sebagai guru sekolah ingin selalu berada di tempat pelayanan, namun membuat tidak beta di di sana adalah tempat  menunjang pelayanan sara dan prasana tidak mendukung lalu manajemennya pimpinan tidak atur secara transparan kepada staf, membuat guru sering membuka pintu untuk siswa dan siswi belajar namun dengan adanya kendala tidak membuka pintu membuat generasi belajar mandiri.

Pemimpin Profesional

Sesungguhnya pimpinnan tingkat sekolah selalu jujur, transparan, profesional dalam manajemen kepemimpin, admintrasi dan keuangan demi mencetak, generasi muda-mudi Papua. Yang mempunyai karakter, moral, integritas serta mempunyai kualitas ilmu tinggi untuk melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi setanah air.

Guru mempunyai kualitas ilmu yang baik, lalu kepemimpin dalam pelayanan serta tindakan mengedepankan nilai kejujuran, kesetiaan, kerendahan hati, dan kedamaian dalam pengabdiannya. Karena itu, generasi muda akan lebih banyak belajar darinya untuk menjadi teladan dikemudian hari.

Peran seorang guru patut diapresiasi oleh semua kalangan. Suatu daerah maju dan tidak, berada di tanagan seorang guru. Karena guru sebagai pembawa pelita di pedalaman kampung tetapi juga guru sebagai pembuka jalan bagi setiap manusia.

Oleh karena itu pengorbanan mereka tentu difasilitas pemerintah daerah. Misalnya, kebutuhan terkait sarana dan prasarana, hak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya dan pendukung fasilitas lainnya demi kemajuan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi untuk memajukan tanah Papua.

Menteri Pendidikan Nasional periode 2004-2009 Bambang Sudibyo mengatakan, guru itu memang pahlawan pendidikan yang tanpa pamrih. Guru adalah Pahlawan tanpa tanda jasa, karena memang di situlah martabat sejati guru. Kinaonak. Waaa….Waaa