Oleh Anisha Rizki Utami
Mahasiswi Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
MANUSIA pada dasarnya adalah makhluk teritorial yang butuh “ruang bersama” (shared space) untuk merayakan kebersamaan. Dalam antropologi, kecenderungan ini menjadi kajian utama dalam “antropologi ruang” yang melihat bagaimana manusia mempersepsikan, membentuk, menggunakan, dan memaknai ruang dalam kehidupan sosial serta kebudayaan mereka.
Hal ini menjadikan ruang tidak hanya dipandang sebagai area fisik yang netral atau kotak mati tempat manusia tinggal, melainkan sebagai hasil konstruksi sosial dan budaya (spatiality). Bahkan tidak jarang ruang ini kemudian menjadi arena perebutan kekuasaan, identitas, serta negosiasi antara kelompok masyarakat tertentu (misalnya penataan kota, wilayah adat, atau kawasan marginal).
Lebih lanjut, “ruang“ tentu saja tidak lepas kaitannya dengan “tempat” yang menjadi dua konsep kunci untuk memahami bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungan fisik dan sosial mereka. Apabila ruang lebih dimaknai sebagai sesuatu yang cenderung abstrak, universal, terbuka, dan luas. Tempat justru lebih melekat pada sesuatu yang bersifat subjektif, spesifik, dan intim.
Kembali pada kecenderungan manusia untuk memiliki ruang bersama sebagai makhluk teritorial, keinginan untuk menghabiskan waktu bersama dengan orang terkasih tentu akan menjadi hal yang sangat ditunggu bahkan dinantikan dan acapkali direncanakan sejak jauh-jauh hari. Seperti rencana kencan, rencana berlibur atau bahkan sekadar “me time”. Namun, bagi pasangan atau sahabat long distance relationship (LDR) yang terpisah jarak ratusan kilometer, ruang bersama itu hilang.
Hilangnya ruang kebersamaan secara fisik inilah yang di era digital ini secara tak langsung menemukan “jalan”nya hingga memupuk sesuatu yang dikenal dengan sebutan digital intimacy (keintiman digital), yakni situasi kala kedekatan emosional, romantis, atau sosial yang dibangun dan dirasakan oleh seseorang melalui perantara teknologi dan ruang virtual, tanpa harus selalu melalui pertemuan fisik secara langsung.
Situasi inilah yang kemudian diasumsikan mampu menjadi pelipur lara dari hubungan jarak jauh yang dijalani oleh sebagian orang. Terlebih karena kedekatan ini dirasakan melalui pertukaran pesan, suara, panggilan video, atau interaksi konsisten yang menciptakan rasa seolah-olah “hadir” bersama.
Tren ini cukup ramai dialami oleh generasi Z karena dianggap memberikan kebebasan, fleksibilitas, dan rasa aman, namun di sisi lain kedekatan ini pun rawan menjadi relasi yang bersifat sementara, transaksional, atau penuh ilusi.
Bahkan komodifikasi tidak luput dari pelaksanaannya, seperti tren komersial seperti jasa sewa pacar (virtual lover rental) melalui media sosial hingga keberadaan interaksi yang melibatkan kecerdasan buatan (seperti Character. AI) yang berfungsi sebagai pendamping emosional yang aman dan bebas dari penghakiman.
“Photobooth” yang menjadi fokus utama dalam tulisan ini pun dapat dikategorikan sebagai bentuk komodifikasi. Karena bukan hanya menjadi sarana atau medium bagi insan yang sedang menjalani LDR, akan tetapi juga menjadi perantara bagi kemelekatan seseorang dalam sebuah hubungan yang berbasis digital atau daring.
“Pariwisata Digital” dan Pelarian dari Rutinitas LDR
Bagi para “pejuang LDR” ini, alih-alih bepergian ke luar kota demi mencari suasana baru bersama pasangan yang lumrah dilakukan oleh pasangan lain guna berlibur bersama atau menyambangi tempat-tempat wisata, mereka memilih melakukan pelarian (escapism) melalui kegiatan yang dilakukan lewat layar.
Misalnya, membuka aplikasi, memilih tema frame ala Korea, pasang pose konyol dalam hitungan detik, lalu mengunduh hasilnya. Ini adalah cara instan menciptakan “kenangan liburan mini” di tengah kepenatan kamar kos atau meja kerja masing-masing.
Photobooth yang umumnya tersedia di lokasi-lokasi wisata dengan latar belakang pemandangan atau sebuah kotak sempit dengan kamera retro di pusat-pusat perbelanjaan, kini tak lagi menjadi sesuatu yang membutuhkan kehadiran fisik para penggunanya di lokasi foto.
Photobooth kini tersedia melalui layar kaya. Baik dalam bentuk aplikasi maupun diakses melalui laman web. Lengkap disertai dengan berbagai stiker yang heboh nan menarik selayaknya photobooth pada umumnya.
Wisata yang semula dan umumnya membutuhkan kehadiran fisik dalam ruang yang nyata, kini bergeser ke ruang digital yang lebih cair dengan tanpa menitikberatkan pada kehadiran fisik, lokasi spesifik, hingga mencakup biaya yang tergolong murah. Sekaligus menjadi alternatif pariwisata yang terjangkau (naik secara ruang maupun efisiensi) serta memicu diskursus mengenai pariwisata digital dan virtual.
“Photobooth online” pun sejatinya lebih tepat jika dikategorikan sebagai produk ekonomi kreatif digital (subsektor aplikasi, fotografi, atau desain grafis) ketimabng bentuk alternatif dari pariwisata itu sendiri.
Sementara jika photobooth online tersebut digunakan sebagai strategi pemasaran dari suatu destinasi (misalnya: pengunjung bisa berfoto dengan latar belakang digital Labuan Bajo dari rumah), maka ia beralih fungsi menjadi media promosi pariwisata atau digital amenity, bukan sebagai aktivitas wisata itu sendiri.
Dalam kasus ini, aplikasi photobooth bertindak sebagai “jembatan halusinasi kolektif” yang estetis. Karena melalui strip foto digital yang dihiasi bingkai lucu, stiker aneh, dan bando virtual, teknologi menciptakan ilusi seolah-olah pengguna sedang berdiri berdampingan di bilik yang sama. Ini adalah bentuk telepresence, suatu perasaan saat seseorang merasa hadir di dekat orang lain, meskipun yang disentuh cuma layar kaca yang mulai agak hangat karena digunakan dalam durasi yang terlalu lama.
Fetisisme Estetika dan Nostalgia Palsu
Photobooth hadir, berkembang dan dipopulerkan sejak akhir abad ke-19. Dalam perjalannya, photobooth telah berubah dari hanya sekadar mesin foto otomatis dalam sebuah pameran, hingga bertransformasi menjadi mesin komersial dan tren digital modern.
Pada tahun 1888, William Pope dan Edward Poole dari Baltimore, Amerika Serikat menjadi orang pertama yang mengajukan paten awal untuk mesin fotografi otomatis yang setahun setelahnya dikembangkan oleh seorang peneliti asal Perancis hingga dapat benar-benar berfungsi dan dipamerkan di world’s fair.
Pada 1925, photomaton diperkenalkan oleh Anatol Josepho hingga sukses besar karena memungkinkan pengguna untuk dapat duduk, berpose, dan mendapatkan cetakan strip foto hitam-putih dalam beberapa menit tanpa bantuan fotografer. Hal inilah yang kemudian menandai kelahiran photobooth secara komersial.
Photobooth berbentuk bilik (booth) tirai mulai tersebar luas di tempat umum seperti teater, stasiun kereta, dan pusat perbelanjaan pada tahun 1930-an-1950-an hingga menjadi hiburan populer bagi masyarakat umum sebelum sempat meredup akibat munculnya kamera pribadi dan teknologi polaroid.
Meski demikian, di era modern dan digital, konsep bilik foto bertransformasi menggunakan kamera digital, layar sentuh, filter otomatis, hingga kecerdasan buatan (AI). Bahkan saat ini, photobooth telah hadir dalam berbagai format seperti Open Air, Spin 360 Video hingga souvenir gantungan kunci di berbagai acara pernikahan dan pesta.
Lebih lanjut, kenapa kita kemudian seolah begitu terobsesi pada photobooth (baik fisik maupun digital) bahkan terus mengulang tren ini dari waktu ke waktu pada periode tertentu? Hal ini besar kemungkinan dikarenakan pengaruh unsur nostalgia yang dikomodifikasi.
Strip foto vertikal dengan tiga atau empat kotak pose kaku adalah simbol estetika era 90-an/2000-an awal yang sengaja dihidupkan lagi. Kesan “retro” ini lah yang ikonik dan dirindukan oleh peminat fotografi. Sehingga tren ini kemudian dihidupkan kembali dalam berbagai versi dan pembaharuan lainnya yang tetap menekankan pada nostalgia namun juga tidak kehilangan esensi modernnya.
Dan ketika versi aplikasinya muncul, untuk orang-orang yang sedang menjalani LDR, nostalgia itu bergeser menjadi sebuah komoditas validasi yang secara tidak langsung menyatakan bahwa jarak bukanlah sebuah “penghalang” yang membatasi seseorang untuk tetap dapat menciptakan momen bersama. Bahkan memiliki “bukti” kebersamaan yang tidak hanya tersimpan dalam ponsel masing-masing, namun juga dapat dicetak dan disimpan sebagai sebuah momento.
Pada akhirnya, fenomena photobooth online bagi pasangan LDR bukan sekadar trik visual atau hiburan pengisi waktu luang di kala bosan. Ia adalah bentuk adaptasi budaya kontemporer ketika teknologi meredefinisi arti jarak, ruang, dan kebersamaan.
Melalui bilik virtual, hitung mundur tiga detik, dan bando kelinci digital, manusia menemukan cara untuk merajut kembali ruang ketiga (third place) yang dirampas oleh jarak. Di satu sisi, ini adalah bentuk pelarian (escapism) dan telepresence yang memberi validasi emosional.
Namun di sisi lain, ia adalah produk komodifikasi nostalgia yang membungkus estetika masa lalu menjadi pelipur lara modern. Jarak memang memisahkan raga, tetapi industri kreatif dan kreativitas digital membuktikan bahwa hasrat manusia untuk merayakan kebersamaan akan selalu menemukan jalannya sendiri meski hanya bersandar pada kehangatan layar kaca.










