Oleh Ernest Pugiye
Guru SMA Negeri 1 Dogiyai, Papua Tengah
BAHASA daerah di Papua merupakan bagian penting dari keberadaan masyarakat adat. Aneka bahasa setiap masyarakat adat di bumi Cenderawasih menyimpan identitas, sejarah, hubungan kekerabatan, pengetahuan tradisional serta cara masyarakat memahami komunitasnya, wilayah bahkan lingkungan hidupnya.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik Dialog Antarbudaya dan Warisan Budaya bertajuk Perkembangan Zaman Memengaruhi Bahasa Daerah di Asrama Mahasiswa Yahukimo, Jakarta, Jumat (18/9) lalu. Tampil sebagai pembicara Prof Dr Cahyo Pamungkas, Ph.D dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Karolus, seorang mahasiswa Pascasarjana, dan Rukap dari Aliansi Mahasiswa Papua.
Cahyo membedah keterkaitan bahasa dengan masyarakat adat, wilayah, lingkungan, pengetahuan tradisional, dan praktik sosial yang diwariskan lintas generasi. Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa bahasa merupakan bagian dari sistem pengetahuan masyarakat yang terbentuk melalui pengalaman panjang manusia dalam memahami diri, sesama, alam, dan ruang hidupnya.
Perubahan zaman menghadirkan tantangan bagi keberlangsungan bahasa daerah sekaligus membuka ruang baru bagi pendidikan dan pewarisan kebudayaan. Penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing, pendidikan formal, media sosial serta perkembangan teknologi telah memengaruhi pola komunikasi generasi muda dalam keluarga dan masyarakat.
Perkembangan tersebut juga dapat digunakan untuk mendokumentasikan bahasa, mengembangkan bahan pembelajaran, merekam cerita rakyat, mengarsipkan ungkapan adat, memperkenalkan pengetahuan lingkungan, dan memperluas penggunaan bahasa daerah dalam ruang pendidikan.
Hubungan antara pendidikan modern dan bahasa leluhur akhirnya menemukan ruang perjumpaan ketika pengetahuan formal dikembangkan melalui pengalaman kebudayaan yang hidup dalam masyarakat.
Para narasumber menempatkan bahasa daerah sebagai identitas budaya, penghubung masyarakat dengan wilayah dan lingkungan, wadah pengetahuan tradisional, ruang pewarisan sejarah dan nilai leluhur, sarana ekspresi pemuda dan mahasiswa serta kekuatan kebudayaan yang perlu dikembangkan di tengah perubahan zaman.
Cahyo menguraikan hubungan bahasa dengan masyarakat adat dan lingkungan. Sedang Karolus membahas tantangan identitas budaya di tengah perubahan pola komunikasi, pendidikan, dan teknologi. Sedangkan Rukap mengangkat bahasa daerah sebagai ruang ekspresi pemuda dan mahasiswa dalam menegaskan identitas serta hubungan dengan komunitas asal.
Ketiga pandangan tersebut memperlihatkan bahwa cerita rakyat, ungkapan adat, nama tempat, pengetahuan tentang tumbuhan, sejarah komunitas, dan nilai-nilai kehidupan unggul telah tersimpan dalam bahasa sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat Papua.
Kekayaan tersebut dapat dikembangkan menjadi sumber pengetahuan yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Gagasan tentang bahasa daerah kemudian mengarah pada persoalan yang lebih luas mengenai masa depan pendidikan dan kebudayaan Papua.
Pendidikan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan formal melalui bahasa dan pengalaman budaya masyarakat sehingga peserta didik memahami pengetahuan berdasarkan lingkungan hidup, sejarah, nilai, dan identitas yang membentuk keberadaannya.
Dalam kerangka tersebut, keluarga, sekolah, perguruan tinggi, masyarakat adat, organisasi pemuda, pemerintah, serta lembaga penelitian mempunyai ruang untuk mengembangkan bahasa daerah sebagai sumber pembelajaran dan pengembangan pengetahuan.
Pewarisan bahasa menjadi bagian dari pembangunan manusia yang mampu menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan bahasa internasional sekaligus memiliki akar budaya yang kuat.
Dari sinilah bahasa dan kebudayaan Papua memperoleh ruang untuk berkembang sebagai sumber pengetahuan, identitas kepapuaan, serta kekayaan peradaban Indonesia yang dapat diakui dan diwariskan secara bermartabat di panggung internasional.
Ingatan Kolektif
Bahasa merupakan rumah ingatan kolektif suatu masyarakat. Di dalamnya tersimpan pengalaman leluhur tentang tempat, waktu, hubungan antarmanusia, makna tanah adat, dan cara memahami kehidupan untuk mempertahankan peradaban di tengah berbagai perubahan dunia.
Ketika nama sungai, gunung, kampung, tumbuhan, hewan, atau tempat keramat diwariskan melalui bahasa asli setiap suku Papua, maka masyarakat sedang mewariskan pengetahuan tentang dunia yang mereka huni secara bermakna.
Hilangnya sebuah bahasa dapat mengurangi kemampuan generasi berikutnya untuk membaca pengalaman leluhur melalui sistem pengetahuan yang dibangun komunitasnya sendiri.
Dalam konteks Papua, adanya keberadaan lebih dari 252 bahasa suku memperlihatkan bahwa ingatan kolektif tidak dibangun melalui satu pengalaman budaya yang seragam. Setiap suku mempunyai cara-caranya sendiri dalam menyebut, mengingat, dan memaknai dunia manusia serta tanah adatnya melalui bahasa budaya masing-masing.
Bahasa daerah suku-suku di Papua menjadi medium yang menghubungkan manusia dengan leluhur, asal dan tujuan hidup, serta wilayah yang menjadi ruang keberlanjutan kehidupan generasinya. Maka, pewarisan bahasa daerah merupakan tanggung jawab antargenerasi karena generasi sekarang menerima pengetahuan dari masa lalu sekaligus menentukan keberlangsungannya bagi generasi yang belum lahir.
Modernisasi membawa perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi. Bahasa Indonesia, bahasa asing, pendidikan formal, teknologi digital, dan media sosial memperluas cakrawala pergaulan generasi muda. Perubahan tersebut dapat diarahkan menjadi sarana untuk memperpanjang ingatan budaya melalui cara-cara baru.
Teknologi dapat digunakan untuk merekam cerita lisan, mendokumentasikan kosakata, mengarsipkan lagu tradisional, dan membuka ruang pembelajaran bahasa bagi anak-anak Papua. Pemanfaatan teknologi tetap perlu mengikuti prinsip-prinsip realitas misteri dalam hukum adat yang memiliki batas tertentu dan tidak seluruhnya dapat dialihkan ke dalam ruang digital.
Pewarisan ingatan juga menuntut penghormatan terhadap masyarakat pemilik bahasa karena bahasa tidak dapat dipisahkan dari manusia yang menghidupkannya. Pengetahuan yang terkandung di dalam bahasa memiliki konteks sosial dan adat yang harus dijaga.
Dokumentasi ilmiah perlu menempatkan penutur asli sebagai pelaku utama yang memahami batas antara pengetahuan yang dapat diwariskan secara terbuka dan pengetahuan yang tetap berada dalam ruang kemisterian hukum adat. Batas tersebut merupakan bagian dari kebijaksanaan masyarakat dalam menjaga martabat dan keberlanjutan peradabannya.
Ketika seluruh realitas misteri adat dibuka, didata, dan dibukukan tanpa batas, pengetahuan yang semestinya dijaga dapat kehilangan makna sakralnya dan mengganggu tatanan kebudayaan yang diwariskan leluhur bagi generasi manusia sekarang dan ke depan di tanah adat. Bahkan tindakan-tindakan tak terpuji itu bisa menggangu dan merusakan keberadaan kebangsaan wajah ke-Indonesia-an dan tata dunia
Mengakarkan Identitas
Identitas manusia tidak lahir dalam ruang kosong. Ia tumbuh melalui bahasa, keluarga, tanah adat, sejarah suku-suku bangsa Papua, sistem relasi sosial, ideologi kebangsaan, dan pengalaman bersama. Intinya, tujuh unsur kebudayaan dalam antropologi Papua menjadi sumber pembentuk identitas Papua dan ke-Papua-an.
Bahasa daerah menjadi salah satu akar yang membuat seseorang dan masyarakat setiap suku mengenali asal-usul, hubungan komunitas, dan tujuan hidup yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam konteks Papua, penguasaan bahasa leluhur dapat menjadi jalan bagi generasi muda untuk memahami identitasnya secara lebih mendalam tanpa menolak pengetahuan dari luar komunitas.
Identitas yang berakar tidak berarti identitas yang tertutup terhadap dunia luar. Seorang anak Papua dapat mempelajari bahasa daerah, bahasa Indonesia, bahasa asing, ilmu pengetahuan, dan sistem teknologi secara bersamaan.
Dari seluruh pengetahuan tersebut, ia dapat menyaring nilai-nilai unggul dalam kehidupan modern dan memadukannya dengan kebijaksanaan adat sebagai dasar pembentukan dirinya.
Kemampuan menguasai berbagai bahasa dengan menggunakan perspektif bahasa suku dan suku-suku bangsa Papua untuk memberikan makna filosofis berbasis adat pada berbagai aspek kehidupan modern dapat memperluas ruang perjumpaan tanpa memutus hubungan dengan bahasa asal.
Di sinilah pendidikan mempunyai peranan penting untuk mempertemukan keluasan pengetahuan modern dengan kedalaman makna yang lahir dari bahasa, budaya, dan pengalaman hidup masyarakat Papua.
Sekolah dapat menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan modern dengan kebijaksanaan lokal sehingga peserta didik tidak mengalami keterputusan dari sejarah kebudayaannya.
Dengan cara itu, bahasa daerah menjadi akar epistemologis yang membantu peserta didik menyaring, memaknai, dan mengolah pengetahuan modern melalui kebijaksanaan adat yang diwariskan leluhur.
Bahasa juga mengakarkan manusia pada lingkungan. Pengetahuan mengenai alam semesta dan tanah adat, baik melalui konsep dalam istilah lokal maupun melalui bentangan alam, menunjukkan bahwa masyarakat adat mempunyai cara hidup mandiri dalam mengenali, mempertahankan, dan melestarikan lingkungan adat secara bijaksana.
Kebijaksanaan tersebut didasarkan pada prinsip dan nilai universal dalam hukum adat. Nama tempat, kali, sungai, hewan, dan berbagai unsur lingkungan menggunakan istilah ekologis dan filosofis yang mengandung kekayaan konsep filosofis-teologis.
Di dalamnya tersimpan petunjuk kebijaksanaan adat yang dapat dipahami para penutur sukunya mengenai hubungan manusia dengan hutan, sungai, gunung, tanah, tumbuhan, dan ruang kehidupan lainnya. Menjaga bahasa berarti membuka kemungkinan bagi generasi berikutnya untuk tetap membaca hubungan filosofis-teologis tersebut.
Bahasa daerah menjadi akar epistemologis yang membantu peserta didik menyaring, memaknai, dan mengolah pengetahuan modern melalui kebijaksanaan adat yang diwariskan leluhur.
Dari akar tersebut, setiap bahasa suku dapat ditempatkan sebagai sumber pengetahuan yang menghubungkan manusia Papua dengan sejarah, wilayah, lingkungan, nilai, dan pandangan hidup yang membentuk keberadaannya.
Gagasan “mewariskan 252 bahasa suku Papua” karena itu dapat dipahami sebagai panggilan untuk menjaga keragaman cara manusia Papua memahami keberadaannya.
Adanya 252 suku bangsa di Papua selama berabad-abad menggambarkan keluasan pengalaman manusia Papua yang hidup dalam beragam sejarah, wilayah, pengetahuan kebudayaan Papua. Kesemua keberagaman itulah yang membentuk peradaban Papua secara unik.
Setiap bahasa mempunyai martabat yang mulia dan tidak boleh digantikan karena di dalamnya terdapat manusia yang memberi makna terhadap kehidupan otonomi kesukuan, kemandirian, dan ideologi bangsanya.
Pada akhirnya, pewarisan bahasa dan pengakaran identitas bertemu pada satu tanggung jawab kebijaksanaan adat dan budaya bangsa. Tanggung jawab itu memastikan kemajuan zaman tidak memutus hubungan generasi Papua dengan ingatan kolektif para leluhurnya.
Ingatan kolektif tersebut hingga kini diwariskan dan dipertahankan secara sistematis melalui keberadaan tujuh wilayah adat Papua. Dalam sejarah kebudayaan Papua, Grup Mambesak menjadi salah satu terobosan penting yang menghidupkan kembali kesadaran tentang bahasa, seni, dan identitas bangsa Papua.
Grup Mambesak mengintegrasikan lagu-lagu daerah yang menggunakan bahasa asli dari 252 suku bangsa Papua. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan dengan alat musik tradisional Papua. Setiap lagu dalam Grup Mambesak mengandung nilai universal serta gagasan filosofis dan teologis yang lahir dari kekayaan kehidupan masyarakat Papua.
Karya Grup Mambesak dari volume satu sampai volume lima memperlihatkan kekuatan intelektual dan kebudayaan Papua dalam merawat ingatan kolektif serta keberlanjutan kehidupan adat.
Warisan Grup Mambesak menunjukkan bahwa bahasa dapat hidup dan diwariskan lintas generasi apabila terus digunakan, diajarkan, dituturkan, didokumentasikan dalam bentuk buku, dan diberi ruang dalam kehidupan sehari-hari. Tugas generasi muda Papua dapat diarahkan pada tiga agenda besar.
Pertama, mewariskan bahasa dan pengetahuan leluhur melalui ekosistem pendidikan dan kebudayaan. Kedua, mengembangkan kebudayaan Membesak Papua melalui penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yang terintegrasi dalam pendidikan.
Ketiga, mengembangkan karya-karya Mambesak Papua dalam kajian lintas disiplin akademis di Universitas Cenderawasih Jayapura dan Universitas Papua Manokwari dengan menghubungkan bidang ilmu yang terkandung dalam Grup Mambesak dengan berbagai disiplin ilmu di perguruan tinggi, sehingga warisan tersebut menjadi sumber pembelajaran dan pengembangan ilmu dalam ruang akademik nasional maupun internasional.
Generasi muda tidak perlu memilih antara manusia adat dan manusia modern. Bahasa leluhur dapat menjadi akar epistemologis yang memungkinkan manusia Papua berhadapan dengan dunia modern tanpa kehilangan asal-usul, martabat, dan ingatan kolektif bangsanya.









