OPINI  

Magnis-Suseno dan Allah Adalah Kasih

Laurens Ikinia, Peneliti Institute of Pacific Studies, Dosen Prodi Hubungan Internasional UKI Jakarta. Foto: Istimewa

Oleh Laurens Ikinia

Peneliti Institute of Pacific Studies, Dosen Program Studi Hubungan Internasional UKI Jakarta

PADA usia ketika banyak orang mulai menghitung apa yang akan ditinggalkan, Pastor Prof Dr Franz Magnis-Suseno, SJ justru mengingatkan kita pada kasih yang akan menyambut.

Dalam sambutannya pada perayaan ulang tahun ke-90 di Katedral Jakarta, 26 Mei 2026, ia berbicara tentang panggilan, persahabatan, dan keyakinan bahwa Tuhan tidak melepaskan manusia. Perayaan itu menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-57 Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara bertema “Magnis untuk Indonesia”.

Perjalanan hidup dan pemikirannya juga dihadirkan melalui Film The Philosopher’s Journey karya Marselli Sumarno. Film dokumenter tersebut membawa penonton mengenal seorang rohaniwan, pendidik, dan filsuf yang menghubungkan pemikiran dengan kehidupan konkret. Namun, melalui sambutan yang menjadi bahan refleksi ini, kita menjumpai sesuatu yang lebih personal: seorang manusia yang bersyukur karena mengalami penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan hidupnya.

Kalimat yang menjadi pusat permenungannya sangat sederhana: “Allah adalah Kasih.” Ungkapan dari Surat Pertama Yohanes itu terdengar akrab bagi banyak orang Kristen, tetapi menjadi begitu menyentuh ketika disampaikan seseorang yang telah melewati sembilan dasawarsa kehidupan. Ia seperti mengajak kita berhenti sejenak dari kebisingan dunia, lalu bertanya apakah iman sudah membuat kita lebih mampu mengasihi.

Panggilan yang Tumbuh dalam Kebersamaan

Romo Magnis mengenang masa kecilnya ketika, pada usia sepuluh tahun, ibunya memasukkannya ke sebuah kolese di Jerman Selatan. Dalam waktu beberapa bulan, ia merasakan keyakinan untuk menjadi seorang Yesuit. Kesaksian itu memperlihatkan bagaimana sebuah panggilan dapat tumbuh perlahan melalui pengalaman sehari-hari, perjumpaan dengan orang lain, dan suasana yang memberi ruang bagi kehidupan batin.

Ia juga mengingat para pembimbing yang mengesankan: prefek, pembimbing spiritual, dan rektor yang mendampingi pertumbuhannya. Pengakuan ini mengingatkan bahwa perjalanan seseorang selalu ditopang oleh banyak tangan yang mungkin tidak terlihat dalam cerita keberhasilannya. Seorang guru yang mendengarkan, orang tua yang mempercayai, atau sahabat yang hadir pada saat sulit dapat menjadi pintu masuk bagi harapan yang baru.

Di novisiat, menjelang pengucapan kaul pertama, ia mengalami kehadiran Yesus dalam pikiran dan hatinya ketika sedang menerima tamu. Pengalaman itu ia kenang sebagai awal dari perasaan bahwa Yesus selalu menyertainya. Bagi pembaca, kesaksian tersebut mengundang permenungan bahwa pekerjaan sederhana pun dapat menjadi ruang perjumpaan dengan Tuhan, ketika dijalani dengan hati yang terbuka.

Ketika mulai studi teologi di Yogyakarta pada 1964, Romo Magnis semakin dekat dengan kehidupan para Yesuit Indonesia. Ia menyadari kuatnya perbedaan budaya, termasuk dalam cara membicarakan dan memutuskan persoalan. Keraguan mengenai kecocokannya tinggal di Indonesia memperlihatkan sisi manusiawi sebuah panggilan: keyakinan tetap dapat berjalan bersama pertanyaan, kegelisahan, dan kebutuhan akan peneguhan.

Ia kemudian memilih tetap tinggal dan belajar memahami budaya setempat. Dari pengalaman itu, kita dapat membaca sebuah pelajaran tentang kesediaan menjadi murid di tengah masyarakat yang berbeda. Mencintai sebuah tempat membutuhkan kesabaran untuk mengenal orang-orangnya, mendengarkan cara mereka memahami kehidupan, dan mengakui bahwa pengalaman sendiri bukan satu-satunya ukuran untuk menilai dunia.

Dari Etika Menuju Keluhuran Budi

Kesediaan belajar tersebut menemukan resonansi dalam Etika Jawa, buku yang menguraikan hubungan antara sikap batin, perilaku sosial, dan pandangan tentang kehidupan. Romo Magnis-Suseno menegaskan bahwa analisisnya merupakan konstruksi filosofis, bukan gambaran seragam tentang semua orang Jawa. Sikap hati-hati ini memberi pelajaran tersendiri: memahami kebudayaan menuntut kerendahan hati agar manusia tidak dipenjarakan dalam stereotip.

Kerukunan dan penghormatan menjadi dua prinsip penting dalam pembahasannya. Kerukunan mengajak manusia mengelola hubungan agar perbedaan tidak berkembang menjadi permusuhan, sedangkan penghormatan menumbuhkan kepekaan terhadap cara memperlakukan sesama. Keduanya relevan bagi kehidupan kita yang sering dipenuhi keinginan untuk segera menjawab, membantah, atau menghakimi sebelum sungguh-sungguh mendengarkan pengalaman orang lain.

Dalam kehidupan bersama hari ini, semangat kerukunan perlu diwujudkan melalui percakapan yang memberi ruang bagi suara berbeda. Kehangatan hubungan akan lebih bermakna ketika orang merasa aman menyampaikan kegelisahannya. Dari sini, kita dapat mengembangkan refleksi bahwa keselarasan yang sehat membutuhkan kejujuran, termasuk keberanian membicarakan ketidakadilan dengan cara yang tetap menjaga martabat manusia.

Nilai sabar, nrima, ikhlas, jujur, dan tenggang rasa juga mendapat tempat penting. Nrima, sebagaimana dijelaskan Magnis-Suseno, mengandung kekuatan menerima kenyataan yang tidak dapat dielakkan tanpa kehilangan kejernihan pikiran. Sikap ini membantu manusia mengumpulkan kembali tenaga batinnya, sehingga kekecewaan tidak menghancurkan kemampuan untuk bekerja, memperbaiki keadaan, dan menjalankan tanggung jawab.

Ungkapan sepi ing pamrih, rame ing gawe, memayu hayuning bawana merangkum orientasi hidup yang mengurangi kepentingan egoistis, menekuni pekerjaan, dan memelihara kehidupan bersama. Pesannya dekat dengan pengalaman sehari-hari: mengajar dengan sungguh-sungguh, bekerja secara jujur, atau membantu seseorang tanpa mengharapkan pujian. Keluhuran budi tumbuh melalui tindakan yang mungkin kecil, tetapi dilakukan dengan kesetiaan.

Pulang ke dalam Kasih

Bagian paling menyentuh dari sambutan Romo Magnis adalah gambaran kematian sebagai jatuh ke dalam tangan seorang ibu yang menunggu. Gambaran itu membawa kehangatan ke dalam perkara yang sering membuat manusia gelisah. Di hadapan keterbatasan usia, ia memperlihatkan kepercayaan bahwa perjalanan hidup tetap berada dalam kasih Tuhan, termasuk ketika manusia tidak lagi mampu mengendalikan arahnya.

Ia juga membayangkan rasa malu karena begitu banyak hal yang mengecewakan dan tidak beres dalam hidupnya. Pengakuan itu terasa kuat justru karena disampaikan seseorang yang dihormati atas pengetahuan dan pengabdiannya. Kebijaksanaan rupanya membawa manusia semakin berani melihat kekurangannya, mengakui kesalahan, dan menyerahkan diri kepada kasih yang memungkinkan pemulihan.

Gambaran tentang api penyucian dalam sambutannya dapat dibaca sebagai permenungan personal mengenai pertobatan dan belas kasih. Rasa malu itu ia dekatkan dengan pengalaman seorang anak yang kembali ke rangkulan ibunya. Dalam kehangatan tersebut, kita menemukan harapan bahwa pengakuan atas kegagalan dapat membuka jalan menuju hubungan yang diperbarui, dengan Tuhan maupun sesama.

Pesan ini relevan bagi kita yang masih menjalani berbagai tanggung jawab. Ada hubungan yang perlu dipulihkan, ucapan yang perlu diperbaiki, dan orang yang terlalu lama menunggu perhatian kita. Kepercayaan kepada kasih Tuhan dapat memberi keberanian untuk memulai langkah tersebut sekarang, tanpa harus menunggu kehidupan menjadi sempurna atau seluruh persoalan selesai.

Pada akhirnya, kesaksian Romo Magnis mengajak kita mengukur kedalaman iman melalui kualitas kehadiran bagi sesama. Jika Allah adalah kasih, kehidupan beriman seharusnya membuat orang lain merasakan penghormatan, kejujuran, dan kepedulian melalui tindakan kita.

Semoga pada setiap tahap kehidupan, kita belajar menjadi lebih bijaksana, lebih berani mengakui kekurangan, dan lebih murah hati dalam mengasihi.