JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Maestro tenor dunia Andrea Bocelli dijadwalkan menggelar konser di Indonesia dalam rangkaian Romanza 30th Anniversary World Tour. Konser akan digelar di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (31/10) dan JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (3/11).
Papuan Observatory for Human Rights menyambut baik dan mendukung penuh konser maestro dunia asal Italia Andrea Bocelli serta meminta semua pihak menjaga ruang kreasi seni serta tidak melakukan politisasi terkait rencana konser tersebut.
“Kami mendukung penuh rencana kedatangan maestro tenor dunia asal Italia, Andrea Bocelli melaksanakan konser di Indonesia dalam rangkaian Romanza 30th Anniversary World Tour. Baik konser yang dijadwalkan berlangsung di Candi Borobudur maupun di Jakarta,” ujar Direktur Eksekutif Papuan Observatory for Human Rights Thomas Ch Syufi di Jayapura, Papua, Senin (12/10).
Menurut Thomas, kehadiran Bocelli di Indonesia merupakan momentum kebudayaan sekaligus salah satu perjalanan seni paling bergengsi dan bersejarah bagi bangsa Indonesia.
“Sebagai seorang seniman tuna netra yang telah menginspirasi jutaan orang di tengah kerterbatasan fisik, Bocelli bukan sekadar menyajikan kualitas pita suara di atas panggung membasuh jiwa namun perayaan atas resiliensi manusia dan ekspresi keindahan musik sebagai bahasa universal umat,” kata Thomas.
Thomas juga merespon desakan sejumlah pihak agar rencana konser Bocelli dibatalkan. Ia meminta untuk menghormati ruang ekspresi seni, budaya serta hak masyarakat dalam berekspresi. Seni adalah seni sehingga tidak dicampuradukkan dengan politik pragmatis bahkan monopoli atas kebenaran.
“Ada aforisme Yunani Kuno, ars longa, vita brevis. Seni itu abadi, sedangkan usia manusia itu pendek. Seni adalah bahasa universal yang melampaui aneka sekat geopolitik dan aspek doktrinal kelompok tertentu. Seni dan musik menembus sekat kemanusiaan dan politik. Ia, seni tidak patut disandera oleh polarisasi global,” ujar Thomas.
Menurut Thomas, rakyat Indonesia, terutama komunitas seni memiliki kepedulian mendalam terhadap berbagai krisis kemanusiaan global yang terjadi saat ini. Mulai dari situasi di Palestina, Ukraina, konflik di Papua hingga ancaman gerakan ekstrimis di berbagai kawasan Afrika.
Namun, lanjut Thomas, kepedulian atas kemanusiaan tersebut tidak boleh dijadikan alasan subjektif untuk membatalkan pagelaran seni yang tidak memiliki hubungan kausal langsung dengan konflik geopolitik global.
Keterlibatan Bocelli dalam berbagai acara internasional terbukti murni ekspresi perdamaian. Pada ajang pembukaan Piala Dunia tahun 2026 lalu di Meksiko, lagu “DNA” dapat dinyanyikan secara bebas tanpa intervensi politik.
Selain itu, Bocelli adalah seorang filantropis yang dikenal luas melalui Andrea Bocelli Foundation, yang concern dalam misi kemanusiaan di bidang pendidikan, pengentasan kemiskinan, dan pemberdayaan masyarakat kelompok rentan di berbagai sudut dunia.
Hal ini membuktikan bahwa sosok seniman sekelas Bocelli justru membawa misi sosial sejalan nilai-nilai kemanusiaan universal. Karena itu, ia memintaa Pemerintah Republik Indonesia dan aparat kepolisian untuk menjamin, mengawal, dan mengamankan konser bergengsi Bocelli agar sukses dan berlangsung kondusif.
“Jaminan kemanan dan kepastian hukum sangat penting demi menjaga reputasi Indonesia di mata dunia sebagai negara yang aman, toleran, dan menghargai peradaban seniman dunia. Kita mesti memahami bahwa seni adalah seni.
Sekadar diketahui, Papuan Observatory for Human Rights merupakan organisasi non-pemerintah yang independen dan nirlaba. Selama ini aktivitasnya menyasar upaya pemantauan, riset, dokumentasi, dan publikasi isu hak asasi manusia (HAM) di bumi Cenderawasih. (*)










