Fondasi Iman dan Pesan Moral Sang Gembala
DI ATAS tanah Papua yang luas dan menyimpan peluh sejarah, Mgr. Dr. Leo Laba Ladjar, OFM tidak hanya memimpin dengan tongkat gembala, tetapi juga mewariskan fondasi iman yang kokoh bagi masa depan Gereja. Warisan itu terukir bukan sekadar dalam lembar struktur organisasi, melainkan dalam ketulusan pesan moral yang terus menggema menembus relung batin umat.
Sebagai seorang Fransiskan yang jiwanya menyatu dengan kesederhanaan alam, Uskup Leo senantiasa mengingatkan bahwa iman Katolik di tanah Papua tidak boleh tercerabut dari akar budaya dan kenyataan hidup masyarakatnya.
Pesan moralnya menegaskan bahwa Gereja harus hadir di tengah dinamika sosial yang kompleks —bukan dengan menutup mata terhadap persoalan identitas, keadilan, dan penderitaan, melainkan dengan merengkuh setiap jiwa dalam terang martabat luhur sebagai anak-anak Allah. Iman bukanlah teori yang melayang di udara, melainkan komitmen nyata untuk merawat sesama dan menjaga keutuhan ciptaan di bumi Papua.
Dalam masa kepemimpinannya, Uskup Leo menunjukkan bahwa seorang gembala sejati terpanggil untuk menyuarakan suara kenabian. Ia mengajarkan umatnya agar tidak takut menghadapi perdebatan zaman, tantangan sosial, maupun pergumulan identitas, selama berpijak pada kejujuran nurani dan kasih Kristus.
Ketegasan sikapnya —meski kerap memantik diskusi kritis di tengah kaum muda dan masyarakat— lahir dari kecintaannya yang mendalam agar pembinaan iman umat tidak jatuh pada kesederhanaan yang semu, melainkan bertumbuh menjadi iman yang dewasa, kritis, dan bertanggung jawab.
Melalui semboyan episkopalnya, In Caritate et Humilitate Dei (Dalam Kasih dan Kerendahan Allah), Uskup Leo meletakkan batu penjuru bagi masa depan Gereja lokal: bahwa segala pelayanan, karya pastoral, dan pembangunan persekutuan hanya akan kokoh jika dilandasi oleh kerendahan hati yang tulus.
Ia mengingatkan para pelayan altar dan segenap umat bahwa kekuasaan dalam Gereja adalah pelayanan, dan kasih adalah bahasa universal yang mampu merajut retaknya relasi sosial.
Rumah adat suku yang ia berkati dan bangun dengan semangat doa di Waiwejak adalah simbol nyata dari pesannya: bahwa adat, budaya, dan iman dapat berangkulan erat, menjadikan altar Tuhan dekat dengan denyut nadi kehidupan harian umat.
Gereja masa depan di tanah Papua dipanggil untuk terus berjalan dalam ketekunan iman, merawat bahasa dan budaya, serta menjadi terang yang menyinari setiap sudut lembah dan gunung dengan kasih yang rendah hati.
Selamat Ulang Tahun ke-83, Bapa Uskup Emeritus Mgr Dr Leo Laba Ladjar, OFM. Terima kasih atas keteguhan kasih dan teladan kerendahan hatimu yang terus menginspirasi kami. Wa, wa, wa!
Nyanyian Langkah Laba Hekeren dari Bauraja hingga Tanah Papua
DI BAWAH langit nusa Lembata yang teduh, tatkala angin Atadei membelai tanah Bauraja, lahirlah seorang anak manusia yang kelak menenun damai di ufuk timur nusantara. Ia disapa keluarga dengan nama penuh kehangatan: Laba Hekeren.
Dari sebuah kampung udik yang berselimut kesahajaan, langkah kecilnya meniti jalan takdir, membawa serta doa-doa leluhur dan nafas semesta yang suci.
Ia merantau menembus cakrawala, menimba ilmu di kota Metropolitan hingga ke Roma yang abadi, menghirup keluasan dunia namun tetap memeluk akar asal-usulnya.
Sebuah peristiwa iman yang langka, disentuh langsung oleh tangan Paus Paulus VI, menahbiskannya menjadi pelayan altar dalam jubah kesederhanaan Santo Fransiskus dari Assisi.
Jiwa Fransiskan itu meresap dalam keheningan batin, membentuk pribadi yang disiplin, teguh, namun lembut menaungi sesama. Lalu, panggilan agung membawanya menyeberang ke tanah Papua —potongan surga kecil yang luruh ke bumi.
Selama lebih dari dua dekade, di bawah semboyan In Caritate et Humilitate Dei, ia merengkuh domba-dombanya dengan kasih dan kerendahan hati Allah. Di tengah gelora zaman dan dinamika sosial yang terjal, ia berdiri tegak sebagai gembala yang jujur pada kebenaran.
Ia tidak hanya merawat iman umatnya, tetapi juga merawat martabat manusia, menghadirkan Gereja yang bernyawa, berakar, dan berpihak pada kedamaian sejati.
Dari Bauraja yang sunyi hingga takhta pelayanan di Jayapura, Laba Hekeren telah menorehkan tinta emas dalam sejarah iman dan kemanusiaan. Ia adalah pelita yang tak pernah lelah menyala di ujung timur Indonesia, tempat matahari pertama kali menyapa bumi.
Port Numbay, Selasa, 3 November 2026
Karya Yance Douw
Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.
Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.
Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.
Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.
Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.










