Prosa Lirik: Langkah di Antara Kabut dan Panggilan di Seberang Jalan Karya Yance Dou

Kabut mengepung jalanan. Foto: Emvat Mosakovskis/shutterstock.com

Langkah di Antara Kabut dan Panggilan di Seberang Jalan

DI BAWAH selimut kabut malam yang pekat dan dingin, langkah kaki itu gamang serta gontai. Seorang pencari sunyi dalam gelap, tersesat di antara botol-botol pelipur lara, berjalan sembari menyeret sisa-sisa kesadaran sehabis menenggak alkohol hingga subuh dini hari.

Di tengah gulita jalan raya, dari seberang sana, berdirilah sesosok keanggunan bergaun putih. Menjulurkan kedua tangan, mengayunkan jemari dengan lembut, seolah memanggil tanpa suara —menandakan bahwa jiwa yang tersesat itu harus segera datang mendekat. Tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan, mengabaikan dunia yang tertutup kabut, jiwa yang haus itu melangkah menyeberang.

Dalam kondisi setengah sadar akibat pengaruh minuman, ia mendekati sosok wanita manis berbaju putih tersebut. Namun, alih-alih menyambut dekat, perempuan itu justru menjaga jarak, menuntunnya melewati kabut menuju suatu tempat yang tertutup dan hening.

Sesampainya di sana, wanita bergaun putih itu pergi meninggalkan dirinya yang perlahan jatuh terlelap di tempat tersebut. Suasana sunyi menyelimuti raganya yang lelah, membawanya ke dalam keheningan panjang, tanpa ia menyadari keajaiban apa yang sedang menanti di ujung fajar.

Ketika matahari terbit menghapus malam, ia terbangun dengan rasa terkejut dan heran yang luar biasa karena dibangunkan oleh seseorang. Ia mendapati dirinya tertidur lelap di depan pintu gereja, dan yang membangunkannya adalah seorang petugas yang hendak membuka pintu untuk mengadakan Misa Hari Minggu.

Peristiwa itu meninggalkan tanda tanya besar dalam batinnya: mengapa kejadian ganjil ini selalu berulang di tempat dan kota yang berbeda setiap kali ia mabuk pada malam hari, tetapi selalu membawanya dekat ke pintu gereja?

Sekembalinya dari perjalanan dinas, dengan keberanian yang digerakkan oleh nurani, ia menceritakan seluruh kejadian misterius itu kepada sang istri tercinta. Dengan penuh kelembutan, sang istri mengatakan bahwa perempuan bergaun putih itu adalah malaikat Tuhan yang senantiasa membawanya ke gereja agar ia bertobat.

Mendengar jawaban itu, hatinya bergetar hebat tersentuh oleh bisikan Roh Kudus. Ia meminta bantuan istrinya untuk menemaninya keluar dari ikatan dosa, dan sang istri menyambut dengan air mata sukacita serta berjanji untuk membantu melepaskannya dari belenggu tersebut. Bersama dorongan keluarga, ia dituntun menemui seorang diakon yang menggembalakan tempat tinggal mereka.

Di hadapan sang diakon, ia mendapatkan banyak pelajaran Alkitab yang menuntunnya meninggalkan jalan sesat yang selama ini dijalani. Pada akhirnya, ia lahir baru, menerima baptisan suci, dan resmi menjadi anggota gereja yang taat. Sebuah pesan untuk jiwa: “Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya… ia akan menyelamatkan nyawanya” (Yehezkiel 18:27).

Gambaran diri sebagai manusia serupa Allah akan hilang jika kita membiarkan diri terjerumus dalam kemabukan. Namun, ketulusan memahami dan tanggap menyelesaikan persoalan hidup akan melahirkan pertobatan yang membawa kita pada kondisi dan kehidupan yang jauh lebih baik.

Port Numbay, Minggu, 1 November 2026

Karya Yance Dou

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.