Uncen, Arnold Ap, dan Mambesak

Dr Yosua Noak Douw, S.Sos, M.Si, MA, Alumnus Fisip Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua. Foto: Istimewa

Oleh Dr Yosua Noak Douw, S.Sos, M.Si, MA

Alumnus Fisip Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua

DALAM sejarah perjalanan Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, banyak nama yang tidak sekadar dikenang sebagai sosok di balik lahirnya sumber daya manusia (SDM) bagi kemajuan tanah Papua dan Indonesia, tetapi hidup juga tokoh inspiratif di bidang seni dan budaya Melanesia.

Salah satu nama yang tetap menyala dalam ingatan kolektif masyarakat Papua adalah Arnold Clemens Ap (Arnold Ap) bersama rekan-rekannya. Arnold Ap bersama kawan-kawan dan Mambesak seperti melodi indah yang tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Papua khususnya seni, budaya, dan sosio-antropologi.

Bersama Mambesak, Arnold Ap meninggalkan jejak yang tidak hanya berbentuk lagu, seni, dan pertunjukan budaya, tetapi juga kesadaran tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana generasi Papua harus melangkah. Arnold Ap dan Mambesak adalah bagian penting dari perjalanan kebudayaan Papua.

Mereka hadir bukan hanya sebagai kelompok seni, tetapi sebagai ruang kesadaran. Melalui lagu, syair, bahasa daerah, cerita rakyat, musik tradisional, dan ekspresi budaya, Mambesak mengingatkan orang Papua bahwa identitas bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Identitas adalah kekuatan. Budaya adalah martabat. Bahasa ibu adalah jembatan ingatan. Lagu rakyat adalah suara jiwa. Dan kampus adalah tempat di mana semua itu dapat dipelajari, dirawat, dan diperjuangkan dengan ilmu pengetahuan.

Mambesak dan Tradisi Intelektual

Sebagai alumni Fisip Universitas Cenderawasih dan alumni lainnya dari kampus kebanggaan pemerintah dan masyarakat bumi Cenderawasih, kita memandang Arnold Ap dan Mambesak bukan semata dari sisi nostalgia. Kita tidak hanya mengenang mereka karena karya-karya masa lalu. Lebih dari itu, kita perlu membaca mereka sebagai bagian dari tradisi intelektual kampus.

Uncen, sebagai rumah besar pendidikan tinggi di tanah Papua, telah melahirkan banyak pemikir, pemimpin, birokrat, aktivis, akademisi, seniman, dan pelayan masyarakat. Dalam ruang sejarah itu, Arnold Ap dan Mambesak menjadi simbol bahwa kampus tidak boleh terpisah dari kebudayaan rakyat.

Universitas bukan hanya tempat mengejar gelar. Universitas adalah tempat membentuk kesadaran. Di kampus, generasi muda belajar membaca fenomena dan dinamika sosial masyarakat, memahami perubahan, menguji gagasan, dan menemukan panggilan pengabdian.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang Arnold Ap dan Mambesak, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang tugas besar kampus: menjaga ilmu agar tetap berpihak pada manusia, menjaga pembangunan agar tidak kehilangan akar budaya, dan menjaga generasi muda agar tidak tercerabut dari identitasnya.

Mambesak sebagai Napas Kebudayaan Papua

Mambesak mengajarkan bahwa kebudayaan bukan benda mati. Kebudayaan adalah napas kehidupan. Ia hidup dalam honai, di tengah kampung, dalam tarian, dalam ukiran, bahasa, kisah orang tua, alam, tanah adat, doa, perjuangan, dan dalam cara masyarakat Papua memahami hidup.

Jika budaya hilang, maka manusia kehilangan arah. Jika bahasa ibu hilang, maka sebagian ingatan kolektif ikut padam. Jika lagu rakyat tidak lagi dinyanyikan, maka suara batin masyarakat bisa perlahan-lahan sunyi.

Karena itu, generasi Papua hari ini perlu kembali belajar dari semangat Arnold Ap dan Mambesak. Bukan untuk terjebak pada masa lalu, tetapi untuk mengambil api nilainya. Generasi hari ini hidup dalam dunia yang berbeda.

Teknologi berkembang cepat. Media sosial mengubah cara berpikir dan berkomunikasi. Pendidikan semakin terbuka. Mobilitas manusia semakin luas. Namun di tengah semua perubahan itu, satu hal tidak boleh hilang: jati diri.

Anak-anak muda Papua harus maju dalam pendidikan, tetapi tetap mencintai kampungnya. Harus menguasai teknologi, tetapi tidak melupakan bahasa ibunya. Harus masuk dalam birokrasi, politik, dunia usaha, gereja, adat, kampus, dan ruang-ruang profesional, tetapi tetap membawa nilai kejujuran, keberanian, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial. Inilah pesan penting yang dapat kita tarik dari Arnold Ap dan Mambesak.

Sebagai alumni Fisip Uncen, misalnya, kita juga perlu melihat Mambesak dalam perspektif sosial dan politik kebudayaan. Fisip mengajarkan kita bahwa masyarakat tidak hanya dibangun dengan jalan, gedung, kantor, dan anggaran. Masyarakat juga dibangun dengan kesadaran, identitas, partisipasi, komunikasi, kepercayaan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai lokal.

Pembangunan yang tidak memahami budaya masyarakat akan mudah ditolak, disalahpahami atau tidak berakar. Sebaliknya, pembangunan yang menghormati budaya akan lebih mudah diterima karena menyentuh hati masyarakat.

Membaca Papua dari Kampung dan Kebudayaan

Di sinilah relevansi Arnold Ap dan Mambesak bagi pembangunan Papua saat ini. Mereka mengingatkan bahwa Papua tidak boleh dibangun hanya dari atas meja birokrasi.

Papua harus dibaca dari kampung, dari masyarakat adat, dari bahasa daerah, dari mama-mama, dari anak muda, dari gereja, dari honai, dari lembah, gunung, pantai, pulau, dan seluruh ruang hidup orang Papua.

Ilmu pengetahuan harus berjalan bersama kebijaksanaan lokal. Kebijakan publik harus berdialog dengan budaya. Pemerintahan harus hadir dengan hati, bukan hanya dengan prosedur.

Uncen adalah rumah ilmu. Uncen adalah rumah kader. Uncen adalah rumah sejarah Papua modern. Dari kampus ini, banyak anak Papua belajar mengenal dunia, tetapi juga belajar mengenal dirinya sendiri.

Arnold Ap dan Mambesak memberi kita pesan bahwa kebudayaan dapat menjadi jalan pendidikan. Lagu dapat menjadi ruang belajar. Seni dapat menjadi bahasa persatuan. Musik dapat menjadi jembatan antargenerasi.

Cerita rakyat dapat menjadi pintu masuk untuk memahami falsafah hidup orang Papua. Dengan demikian, kebudayaan tidak boleh ditempatkan di pinggir pembangunan. Kebudayaan harus berada di pusat pembentukan manusia Papua.

Hari ini, ketika generasi muda menghadapi tantangan narkoba, minuman keras, kekerasan, pengangguran, rendahnya literasi, lemahnya disiplin, dan derasnya pengaruh budaya luar, semangat Arnold Ap dan Mambesak perlu dihidupkan kembali sebagai sumber motivasi.

Generasi Papua harus diajak untuk menyanyi, menulis, meneliti, membaca, berdiskusi, berkarya, dan mengabdi. Mereka harus didorong untuk percaya bahwa menjadi Papua bukan hambatan untuk maju. Menjadi Papua adalah anugerah, tanggung jawab, dan kehormatan.

Generasi yang Berakar dan Bertumbuh

Kita membutuhkan generasi yang berakar dan bertumbuh. Berakar pada budaya, tetapi bertumbuh dalam ilmu pengetahuan. Berakar pada tanah leluhur, tetapi bertumbuh dalam pergaulan global. Berakar pada nilai adat dan iman, tetapi bertumbuh dalam profesionalisme, disiplin, dan integritas. Itulah generasi yang dibutuhkan Papua hari ini.

Arnold Ap dan Mambesak telah menunjukkan bahwa karya budaya dapat melampaui zamannya. Mereka mungkin hadir dalam ruang sejarah tertentu, tetapi pesannya tetap hidup melintas waktu. Mereka mengajarkan bahwa suara yang lahir dari kejujuran budaya tidak mudah padam.

Karya yang lahir dari cinta kepada rakyat akan terus dikenang. Pun manusia yang mengabdikan dirinya untuk martabat bangsanya akan tetap menjadi inspirasi lintas generasi.

Karena itu, catatan ini bukan hanya sebuah penghormatan. Ini adalah ajakan. Ajakan kepada alumni Uncen untuk kembali memberi kontribusi bagi tanah Papua sekecil apapun.

Ajakan kepada mahasiswa untuk tidak sekadar kuliah, tetapi membentuk karakter dan panggilan pengabdian. Ajakan kepada pemerintah untuk menempatkan budaya sebagai fondasi pembangunan. Ajakan kepada generasi muda Papua untuk bangkit, percaya diri, dan berkarya.

Mambesak tidak boleh hanya menjadi memori. Mambesak harus menjadi energi. Arnold Ap dan rekan-rekannya tidak boleh hanya menjadi nama dalam sejarah. Ia harus menjadi inspirasi untuk membangun Papua dengan ilmu, budaya, iman, dan kasih. Dari Uncen, kita belajar bahwa pendidikan yang sejati bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga memuliakan manusia dan menjaga martabat masyarakat.

Nyala Kebudayaan dan Masa Depan Papua

Pada akhirnya, ada pertanyaan yang segera dibenam dalam dinding hati: apa yang sudah kita berikan bagi Papua? Sebagai alumni, pemimpin, aparatur sipil negara (ASN), akademisi, mahasiswa, anak adat, pelayan gereja, dan sebagai bagian dari masyarakat, kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga nyala itu. Nyala kebudayaan, ilmu pengetahuan, pengabdian, dan nyala masa depan Papua.

Arnold Ap dan Mambesak telah menyalakan suara kebudayaan. Kini tugas generasi saat ini adalah menjaga suara itu tetap hidup. Bukan hanya dalam lagu tetapi tindakan nyata.

Kita belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, melayani dengan hati, membangun dengan identitas, dan mencintai Papua dengan karya. Dari Uncen, kita berdoa dan berusaha tanpa henti agar lahir generasi Papua yang berilmu, berbudaya, bermartabat, dan siap mengabdi bagi tanah dan bangsanya.