OPINI  

Tersenyum tapi Belum Bahagia? Paradoks Kebahagiaan Orang Indonesia

Dr Don Bosco Doho, Dosen Etika Bisnis LSPR Institute of Communication and Business, Jakarta. Foto: Istimewa

Dr Don Bosco Doho

Dosen Etika Bisnis LSPR Institute of Communication and Business, Jakarta

DI WARUNG kopi, obrolan tentang survei kebahagiaan selalu ramai. Ada yang bangga, “Kita bangsa paling bahagia!” Ada yang sinis, “Bahagia dari mana, harga beras naik terus.” Keduanya ternyata sama-sama punya dasar data. Inilah yang menarik: Indonesia tampak sekaligus “kurang bahagia” dan “paling bahagia”, tergantung survei mana yang kita baca.

Satu Bangsa, Dua Wajah Data

Wajah pertama datang dari World Happiness Report (WHR) 2026, yang disusun Oxford bersama Gallup dan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Laporan yang terbit 19 Maret itu menempatkan Indonesia di peringkat 87 dari 147 negara, turun empat tingkat dari tahun sebelumnya.

Skor Indonesia 5,617, berada di bawah beberapa tetangga Asia Tenggara meski Indonesia termasuk ekonomi terbesar dan negara terpadat di kawasan. Yang patut direnungkan: persepsi korupsi menjadi indikator terlemah Indonesia, disusul dukungan sosial, PDB per kapita, dan harapan hidup sehat yang relatif tertinggal dibanding negara lain.

Wajah kedua justru berseri-seri. Survei Gallup Global Emotions mencatat bahwa sembilan dari sepuluh orang dewasa Indonesia (90 persen) mengaku banyak tersenyum atau tertawa sehari sebelum disurvei.

Dalam Indeks Pengalaman Positif, Indonesia meraih skor 84, tepat di belakang Panama dan Paraguay yang mencetak 86. Dari sinilah julukan the most smiling country lahir.

Lalu Ipsos Happiness Index 2026: 85 persen orang Indonesia menyatakan dirinya bahagia, angka tertinggi di antara 29 negara yang disurvei. Lebih jauh lagi, Global Flourishing Study dari Harvard, Baylor, dan Gallup, yang diterbitkan di Nature Mental Health, menemukan skor flourishing (kebertumbuhan hidup) Indonesia paling tinggi, sementara Jepang paling rendah.

Meski berpendapatan lebih rendah, warga negara-negara teratas itu melaporkan ikatan spiritual yang kuat, hidup yang bermakna, serta rasa tujuan dan kekeluargaan. Di dalam negeri, Indeks Kebahagiaan BPS 2021 berada di angka 71,49, dengan dimensi perasaan sebagai yang paling rendah, yakni 65,61.

Bukan Kontradiksi, tapi Beda Pertanyaan

Mengapa hasilnya bisa bertolak belakang? Jawabannya sederhana: setiap survei bertanya hal yang berbeda. WHR meminta orang menilai jalan hidupnya secara keseluruhan.

Sedangkan Ipsos bertanya apakah orang merasa dirinya bahagia. Finlandia unggul pada pertanyaan pertama, Indonesia unggul pada pertanyaan kedua. Gallup Global Emotions bahkan lebih sempit lagi: bagaimana perasaan Anda kemarin.

Dalam bahasa filsafat, kita sedang berhadapan dengan tiga lapis kebahagiaan. Pertama, kebahagiaan evaluatif: penilaian rasional atas kondisi hidup (pendapatan, kesehatan, kepercayaan pada institusi).

Kedua, kebahagiaan afektif atau hedonik: rasa senang, tawa, dan emosi positif harian. Ketiga, kebahagiaan eudaimonik ala Aristoteles: hidup yang bermakna, berkeutamaan, dan terarah pada tujuan.

Orang Indonesia tampak kuat di lapis kedua dan ketiga, tetapi lemah di lapis pertama. Kita tersenyum dan merasa hidup bermakna, namun ketika diminta menilai sistem yang menopang hidup kita, angkanya turun. Senyum kita lahir dari relasi; keluhan kita lahir dari struktur.

Makna Survei bagi Orang Indonesia

Ada tiga pelajaran penting. Pertama, modal sosial dan spiritual kita nyata. Gotong royong, keluarga besar, dan religiositas adalah sumber daya kebahagiaan yang tidak dimiliki banyak negara kaya. Ini sejalan dengan temuan Ipsos bahwa perasaan dihargai (37 persen) serta relasi dengan keluarga dan anak (36 persen) menjadi pengaruh terbesar bagi kebahagiaan.

Kedua, senyum tidak boleh menjadi alibi. Ketahanan batin rakyat bukan alasan bagi negara untuk berpuas diri. Seorang pengamat mengingatkan bahwa survei semacam ini hanya menggambarkan potensi kebahagiaan, bukan kondisi mutlak, dan justru menjadi tantangan bagi para pejabat. Lemahnya skor persepsi korupsi dalam WHR adalah pekerjaan rumah etika publik yang serius.

Ketiga, kita perlu waspada terhadap budaya “harus tampak baik-baik saja”. Ada yang mencatat bahwa tekanan untuk selalu tampak baik membuat orang enggan mencari bantuan. Senyum bisa menjadi kekuatan, tetapi juga bisa menjadi topeng.

Mengapa Selalu Dibicarakan, tapi Sulit Diraih?

Kebahagiaan selalu hangat dibicarakan karena ia adalah tujuan akhir manusia. Aristoteles dalam Etika Nikomakea menyebut kebahagiaan sebagai satu-satunya hal yang kita kejar demi dirinya sendiri, bukan demi hal lain. Namun kebahagiaan sulit diraih karena beberapa alasan.

Treadmill hedonik. Psikolog Brickman dan Campbell (1971) menunjukkan bahwa manusia cepat beradaptasi dengan kesenangan baru. Gaji naik, mobil baru, rumah baru; sebentar bahagia, lalu kembali ke titik semula.

Mulur-mungkret. Filsuf Jawa Ki Ageng Suryomentaram sudah lama membahasnya dalam Kawruh Jiwa: keinginan manusia selalu mulur (memanjang) ketika tercapai dan mungkret (menyusut) ketika gagal. Karena itu, orang tidak akan pernah bahagia selamanya, dan juga tidak akan susah selamanya. Kuncinya adalah mawas diri.

Perbandingan sosial. Leon Festinger menjelaskan bahwa kita menilai diri dengan membandingkan diri pada orang lain. Di era media sosial, perbandingan ini terjadi setiap detik. Tidak heran WHR 2026 menyoroti hubungan antara penggunaan media sosial yang berat dan menurunnya kesejahteraan anak muda.

Kebahagiaan sebagai efek samping. Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning menegaskan bahwa kebahagiaan tidak dapat dikejar secara langsung; ia mengikuti (ensue) ketika seseorang mengabdikan diri pada makna atau pada orang lain. Semakin dikejar, semakin menjauh.

Belajar dari Senyum Kita Sendiri

Survei-survei ini sesungguhnya memberi cermin. Orang Indonesia telah menemukan sebagian rahasia kebahagiaan: relasi, makna, dan iman. Yang belum kita miliki adalah sistem yang adil dan dapat dipercaya, yang memungkinkan senyum itu tidak harus menutupi beban.

Maka, tugas kita ganda. Secara pribadi, menjaga kearifan nrimo yang sehat tanpa jatuh pada fatalisme. Secara kolektif, menuntut tata kelola yang jujur agar kebahagiaan tidak hanya menjadi daya tahan, tetapi juga hasil dari kehidupan bersama yang layak. Bangsa yang paling banyak tersenyum layak mendapat alasan yang lebih kokoh untuk tersenyum.