MOWANEMANI, ODIYAIWUU.com — Bupati Kabupaten Dogiyai Yudas Tebai, S.Pd, M.Si didampingi Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga David Goo, S.Pd, Rabu (14/10) secara resmi melepas keberangkatan seratus calon mahasiswa asal Dogiyai di Ruang Rapat Hotel Adamant, Wanorojo, Provinsi Papua Tengah.
Calon mahasiswa ini akan melanjutkan kuliah di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung. Prosesi pelepasan diwarnai suasana haru mengingat empat tahun ke depan para mahasiswa Meepago ini akan menjadi penghuni kota Kembang Bandung, bumi Parahyangan di tatar Sunda, Jawa Barat.
Bupati Tebai di hadapan orang tua mengatakan, calon mahasiswa tersebut merupakan generasi muda dan pemimpin masa depan bangsa. Mereka bukan lagi anak kampung tetapi duta budaya dan intelektual masa depan Dogiyai dan tanah Papua.
“Amanah ini yang dipikul di pundak adik-adik calon mahasiswa sangat berat. Hari ini adik-adik berangkat ke Unpar Bandung bukan hanya sebagai anak dari mama dan bapa di kampung. Di pundak kalian ada harapan warga dari lembah Kamuu, Mapia, Sukikai hingga Piyaiye. Ini adalah kebanggaan kita bersama,” ujar Bupati Tebai melalui keterangan tertulis dari Mowanemani, Dogiyai, Papua Tengah, Kamis (15/10).
Bupati juga membekali para mahasiswa agar bermental petarung dan pantang menyerah, berkarakter sebagai calon pemimpin selama menempuh pendidikan di Bandung, tanah Pasundan. Karena itu, para calon mahasiswa juga harus memegang filosofi luhur para leluhur Dogiyai sekaligus pedoman hidup selama tinggal di Bandung.
Pertama, memegang filosofi Dou (melihat). Berpijak pada filosofi ini Bupati Tebai mengajak calon mahasiswa untuk membuka mata lebar-lebar terhadap kemajuan dunia luar.
“Lihatlah teknologi, ilmu baru, dan keragaman teman-teman dari berbagai suku. Serap semua hal positif untuk dibawa pulang membangun Dogiyai,” ujar Bupati Tebai, mantan guru SMA Negeri 1 Mulia, Puncak Jaya, Papua Tengah.
Kedua, filosofi Gai (berpikir). Tebai menekankan pentingnya berpikir kritis. Kuliah bukan sekadar mengejar selembar ijazah sebagai bukti kelulusan. Dogiyai butuh dokter, insinyur, guru, ahli pertanian, dan ekonom. Calon mahasiswa harus selalu memikirkan apa ilmu yang dipelajari saat ini untuk menjawab masalah Dogiyai esok hari.
Ketiga, filosofi Ekowai (bertindak). Bupati Tebai menitip pesan agar mahasiswa menjaga integritas diri. Misalnya, menjauhi minuman keras (miras), narkotika dan obat-obat berbahaya (narkoba) bahkan pergaulan bebas yang merugikan diri sendiri.
“Ingat! Noken yang dianyam ibu kalian untuk biaya kuliah. Bertindaklah sebagai Duta Dogiyai yang santun, disiplin, dan berprestasi,” kata Tebai, mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Dogiyai.
Bupati Tebai juga menitip pesan kepada para orang tua mahasiswa untuk melepaskan anak-anak mereka dengan doa restu. Pemkab Dogiyai juga berkomitmen untuk tidak lepas tangan.
“Kami akan terus hadir mendampingi para mahasiswa melalui Program Beasiswa Dogiyai Cerdas, bantuan studi berkelanjutan serta pendampingan intensif di asrama-asrama mahasiswa di kota-kota besar seperti Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung,” katanya.
“Pergi untuk kembali. Ilmu yang kalian cari di tanah rantau harus kembali untuk membangun honai kita, membangun Dogiyai, dan tanah Meeuwodidee,” ujar Bupati Tebai, sarjana Bahasa Inggris jebolan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura.
Acara pelepasan diakhiri doa bersama memohon penyertaan Tuhan agar calon mahasiswa sehat selalu dan sukses meraih cita-cita. Momen ini menjadi titik tolak penguatan tekad bagi generasi muda Dogiyai untuk kembali menjadi agen perubahan (agent of change) sekaligus pembawa cahaya pengetahuan bagi tanah leluhurnya. (*)










