AGATS, ODIYAIWUU.com — Bupati Thomas Epen Safanpo beserta jajarannya dan masyarakat Kabupaten Asmat merespon bencana gempa bumi magnitudo 7.7 yang menimpa masyarakat dan kabupaten-kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8) pagi.
Menurut Bupati Safanpo, sebagai bentuk empati dan solidaritas antardaerah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Asmat secara resmi membuka rekening donasi melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI) Simpedes untuk menghimpun bantuan kemanusiaan bagi korban terdampak bencana di Flores, Nusa Bunga.
“Kita buka donasi mulai hari ini dan akan ditutup pada 31 Agustus. Seluruh sumbangan yang terkumpul akan langsung kita kirimkan untuk saudara-saudari kita di Flores,” ujar Bupati Safanpo saat membuka Karnaval Nusantara dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Yos Sudarso, Agats, kota Kabupaten Asmat, Papua Selatan, Rabu (19/8).
Bupati Safanpo dalam sambutannya mengajak masyarakat Asmat dan seluruh elemen, mulai dari pengusaha, aparatur sipil negara (ASN) hingga jajaran TNI dan Polri untuk turut menyisihkan rezeki bagi warga terdampak bencana di Flores.
Safanpo yang juga Ketua Komisariat Cabang (Komcab) Pemuda Katolik Kabupaten Asmat menambahkan, aksi penggalangan dana tersebut merupakan wujud nyata kepedulian serta nilai kebersamaan masyarakat Asmat terhadap duka yang dirasakan warga Flores.
Guna memastikan penyebaran informasi berjalan cepat, Safanpo menginstruksikan Sekretaris Daerah (Sekda) dan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Asmat untuk segera mendistribusikan nomor rekening resmi tersebut kepada publik serta instansi terkait.
“Sore ini nomor rekening mulai dibagikan ke seluruh masyarakat, ASN serta rekan-rekan TNI dan Polri agar bantuan sukarela bisa segera terkumpul. Ini adalah wujud kepedulian kita. Terima kasih atas perhatian dan partisipasi semuanya,” ujar Safanpo.
Presiden Republik Indonesia H. Prabowo Subianto, Sabtu (15/8) mengirim bantuan presiden (banpres) berupa sembilan bahan pokok (sembako) sebanyak 50.000 paket untuk didistribusikan ke masyarakat terdampak bencana gempa bumi Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pengiriman bantuan tersebut merupakan wujud komitmen pemerintah untuk bergerak cepat menangani warga terdampak gempa di Flores seperti Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, dan Flores Timur.
“Saat ini telah diberangkatkan ke Maumere (kota Kabupaten Sikka) berupa 50.000 paket sembako dari Banpres untuk masyarakat terdampak bencana di Pulau Flores,” ujar Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya melalui keterangan tertulis Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI di Jakarta, Sabtu (15/8).
Presiden Prabowo, ujar Teddy, juga menugaskan beberapa pejabat pusat untuk langsung ke Labuan Bajo, kota Kabupaten Manggarai Barat dan Maumere. Mereka yang ditugaskan, yakni Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Kepala Basarnas.
Selain itu, Wakil Menteri Kesehatan, Wakil Menteri Sosial serta tim dari PLN, Pertamina, Telkom, dan Bulog. “Presiden Prabowo telah memerintahkan seluruh jajaran untuk bergerak cepat melakukan penanganan dan memastikan masyarakat yang terdampak mendapatkan bantuan yang dibutuhkan,” kata Teddy.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan, banpres yang dikirim Prabowo segera didistribusikan kepada warga yang membutuhkan. “Ini segera kami akan kirimkan untuk membantu kebutuhan logistik awal di daerah bencana,” ujar Suharyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (15/8) siang.
Selain sembako, pemerintah bakal memastikan pemenuhan berbagai kebutuhan dasar warga terdampak gempa. Bantuan yang disiapkan meliputi makanan, minuman, air bersih, tenda atau tempat berlindung, genset serta kebutuhan darurat lainnya.
Pemerintah juga terus mengoptimalkan persediaan logistik yang tersedia di wilayah sekitar lokasi bencana. Suharyanto menjelaskan, Kementerian Sosial dalam satu hingga dua hari ke depan akan menggeser persediaan dari kabupaten-kabupaten tetangga yang terdampak lebih ringan atau tidak terdampak gempa.
Data sementara pihak Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Timur melaporkan, hingga Selasa (18/8) pukul 18.00 WITA jumlah sementara korban meninggal sebanyak 70 orang, 384 orang mengalami luka-luka, dan 48.922 orang mengungsi.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut mengguncang Pulau Flores, NTT, Sabtu (15/8) pagi. Gempa melanda kabupaten di Flores seperti Kabupaten Manggarai Barat. Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, dan Flores Timur.
Kepala Pelaksana BPBD NTT Mahadin Sibarani mengatakan, Kabupaten Manggarai mencatat korban meninggal terbanyak, yakni 27 orang.
Kemudian, disusul Kabupaten Manggarai Timur 25 orang dan Nagekeo 8 orang. Selanjutnya, Sikka mencatat 4 orang meninggal dunia dan Manggarai Barat, Ende, dan Ngada masing-masing mencatat 2 orang meninggal dunia.
“Untuk korban luka-luka, Manggarai mencatat 163 orang, Manggarai Timur 84 orang, Ende 26 orang, Sikka 40 orang, Ngada 36 orang, Nagekeo 22 orang, dan Manggarai Barat 13 orang,” ujar Mahadin Sibarani di Kupang, kota Provinsi NTT, Rabu (19/8).
Sedangkan, Nagekeo menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak: 18.217 orang, disusul Manggarai 17.356 orang; Sikka 6.395 orang; Ende 3.633 orang; Manggarai Timur 2.681 orang; dan Ngada 640 orang. Sementara itu, data pengungsi Manggarai Barat belum tersedia di tabel.
Kerusakan rumah tersebar di tujuh kabupaten dengan total 22.469 unit. Nagekeo mencatat kerusakan terbanyak: 7.430 rumah, disusul Manggarai 5.258 rumah; Manggarai Barat 4.176 rumah; Ende 1.115 rumah; Sikka 832 rumah; Manggarai Timur 183 rumah; dan Ngada 3.475 rumah.
Menurut Sibarani, dari total tersebut tercatat 6.511 rumah rusak berat: 5.052 rusak sedang, dan 7.431 rusak ringan. Untuk Ngada, rincian kategori rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan belum tersedia di tabel.
Selain rumah, kata Sibarani gempa juga berdampak pada fasilitas pelayanan dasar dan fasilitas umum. Tabel mencatat 735 satuan pendidikan, 149 rumah ibadat, 190 fasilitas pelayanan kesehatan, 168 kantor pemerintahan, dan 113 fasilitas umum mengalami kerusakan.
Di Manggarai tercatat 117 satuan pendidikan, data rumah ibadat belum tersedia, 39 fasilitas pelayanan kesehatan, 29 kantor pemerintahan, dan 7 fasilitas umum mengalami kerusakan.
Sementara itu, lanjut Sibarani, Manggarai Barat mencatat 28 satuan pendidikan, 19 rumah ibadat, 14 fasilitas pelayanan kesehatan, 26 kantor pemerintahan, dan satu fasilitas umum mengalami kerusakan.
Di Nagekeo tercatat 415 satuan pendidikan, 27 rumah ibadat, 20 fasilitas pelayanan kesehatan, 20 kantor pemerintahan, dan lima fasilitas umum mengalami kerusakan.
Sibarani juga memetakan status penanganan bencana berbeda di setiap kabupaten. Manggarai, katanya, menetapkan status tanggap darurat selama 90 hari, mulai 15 Agustus hingga 28 September 2026.
Manggarai Barat menetapkan status darurat bencana selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Agustus 2026. Manggarai Timur menetapkan status siaga darurat berlaku 15 Agustus hingga 4 September 2026.
Ende menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, mulai 15 hingga 29 Agustus 2026, sedangkan Sikka menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Agustus 2026.
Ngada menetapkan status tanggap darurat selama 30 hari, mulai 15 Agustus hingga 15 September 2026. Nagekeo menetapkan status tanggap darurat mulai 15 Agustus hingga 13 November 2026. (*)










