Festival Etnik Religi Resmi Ditutup, Bupati Willem Wandik Ajak Warga Tolikara Lestarikan Budaya Kasih

Bupati Kabupaten Tolikara Willem Wandik, S.Sos Bersama panitia, peserta Festival Etnik Religi Tolikara Tahun 2026l, dan masyarakat berpose bersma usai menutup festival di Lapangan Pendidikan, Karubaga, kota Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan. Kamis (13/8). Foto: Istimewa

KARUBAGA, ODIYAIWUU.com — Bupati Kabupaten Tolikara Willem Wandik, S.Sos, Kamis (13/8) resmi menutup Festival Etnik Religi Tolikara Tahun 2026 di Lapangan Pendidikan, Karubaga, kota Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan.

Prosesi penutupan festival yang berlangsung selama dua hari, Rabu-Kamis (12-13/8( diramaikan juga dengan aneka parade budaya, musik hingga atraksi paralayang masyarakat juga tampil memeriahkan rangkaian penutupan festival etnik religi perdana kebanggaan pemerintah dan masyarakat Tolikara.

Bupati Wandik dalam sambutannya saat menutup festival mengajak masyarakat dan seluruh stakeholder terus melestarikan budaya dan nilai-nilai kebersamaan yang menjadi kekuatan masyarakat.

Menurut Wandik, salah satu keunikan masyarakat di wilayah Lapago adalah budaya saling menyapa dan berjabat tangan setiap kali bertemu. Sapaan wa..wa.. menjadi salah satu bentuk keramahan yang mencerminkan kasih kepada sesama.

“Sapaan ‘wa..wa..’ harus terus kita lestarikan. Di wilayah Lapago, khususnya di Tolikara setiap kali kita berjumpa pasti saling bersalaman dan menyapa dengan wa..wa... Injil mengajarkan tentang kasih. Karena itu, melalui kegiatan seperti ini kita semakin memperkuat keramahan dan kasih kepada sesama,” ujar Bupati Wandik melalui keterangan tertulis yang diperoleh di Karubaga, Tolikara, Papua Pegunungan, Kamis (13/8).

Mantan anggota DPR RI ini menambahkan, sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi para pelajar dalam menyukseskan Festival Etnik Religi Tolikara 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tolikara memberikan uang pembinaan sebesar Rp 10 juta kepada peserta yang turut ambil bagian dalam rangkaian kegiatan.

Para peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA di Distrik Karubaga. Pemberian uang pembinaan tersebut merupakan bentuk penghargaan pemerintah daerah sekaligus motivasi bagi para siswa dan siswi untuk terus berpartisipasi dalam kegiatan seni dan budaya serta ikut melestarikan kekayaan budaya Tolikara.

Ketua Panitia Festival Etnik Religi Tolikara 2026 Sony Imbiri mengatakan, hari kedua sekaligus penutupan festival diisi dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat dan peserta terdiri dari anak anak sekolah di sekitar Karubaga.

Salah satu kegiatan utama adalah Parade Budaya Nusantara yang mengambil rute dari Lapangan Merah Putih menuju Bandara Karubaga melalui Jalan Misi, kemudian melewati depan Kantor Polres Tolikara dan kembali ke Lapangan Pendidikan Karubaga.

Selain parade budaya, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan musik 150 ukulele serta atraksi paralayang yang menjadi perhatian masyarakat dan para tamu undangan.

Sony menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan karena seluruh rangkaian festival dapat berlangsung dengan aman dan lancar, mulai dari hari pertama hingga hari kedua sekaligus penutupan.

“Kami panitia mengucap syukur dan bangga kepada Tuhan karena seluruh kegiatan dapat berjalan dengan lancar, mulai dari hari pertama hingga hari kedua ini. Puji Tuhan tidak ada kendala berarti,” ujar Sony.

Sony juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh tamu undangan, peserta, masyarakat serta insan pers yang telah mengambil bagian dalam menyukseskan festival tersebut.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada para tamu undangan yang telah hadir dan mendukung kegiatan ini. Terima kasih juga kepada media, termasuk TVRI, serta tim Infokom Pemerintah Daerah dan media lainnya yang telah ikut meliput dan menyebarluaskan kegiatan ini,” kata Sony.

Atas nama panitia, Sony juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan festival terdapat kekurangan maupun kesalahan dalam pelayanan dan penyelenggaraan kegiatan.

“Apabila selama kegiatan ada kekurangan dan kesalahan dari kami panitia, dengan tidak mengurangi rasa hormat, kami memohon maaf kepada semua pihak,” ujar Sony lebih lanjut.

Festival Etnik Religi Tolikara diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan keberagaman budaya dan seni, tetapi juga memperkuat persaudaraan, toleransi, kasih, serta kebersamaan masyarakat Tolikara dan seluruh tamu yang hadir. (*)