Pemuda Katolik Desak Presiden Beri Atensi Terkait Peristiwa yang Menimpa Umat Katolik Stasi Wuloni

Presiden Republik Indonesia H. Prabowo Subianto. Foto: Istimewa

ILAGA, ODIYAIWUU.com — Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Papua Tengah, Senin (10/8) menyatakan protes keras atas tindakan aparat keamanan terhadap umat Katolik Stasi Santa Sisilia Wuloni, Paroki Santo Petrus Ilaga, Dekanat Moni-Puncak Jaya, Keuskupan Timika, Papua Tengah.

Menurut Ketua Komda Pemuda Katolik Papua Tengah Tino Mote, pihaknya mendesak Presiden Republik Indonesia H. Prabowo Subianto memberi atensi serius atas peristiwa yang dialami umat di Gereja Sisilia Wuloni, Kampung Wuloni, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, Minggu (9/8).

“Kami mendesak Presiden Subianto agar segera memberi atensi serius atas peristiwa aparat memaksa umat memberikan ucapan ‘terima kasih’ karena mereka telah mengecet gedung gereja dan membantu umat stasi ini. Kami minta agar Presiden melalui Pangdam Cenderawasih segera memberikan klarifikasi demi menjaga kamtibmas di lingkungan gereja Katolik di Dekanat Moni-Puncak Jaya,” ujar Tino Mote di Nabire, kota Provinsi Papua Tengah, Senin (10/8).

Menurut Tino, pihaknya memperoleh informasi disertai video singkat di mana pada Minggu (9/8), aparat keamanan bersenjata memasuki halaman Gereja Sisilia Wuloni. Aparat memaksa umat menyampaikan ‘terima kasih’ kepada aparat Pos Wuloni karena membantu pihak gereja mengecat gedung gereja dan membantu umat stasi.

“Cara-cara intimidatif seperti ini malah menambah ketakutan umat Katolik di wilayah Dekanat Moni-Puncak Jaya, Keuskupan Timika. Selama ini warga Kabupaten Puncak, termasuk umat Katolik sudah menderita dan trauma dengan situasi kamtibmas yang tidak kondusif. Kalau pola pendekatan keamanan seperti dialami umat stasi Wuloni maka jalan kedamaian sebagaimana dicita-citakan Presiden bersama jajaran pemerintah pusat dan daerah semakin jauh dari harapan,” kata Tino.

“Cara aparat kemananan yang dengan kasar masuk halaman gereja lalu mengambil video disertai permintaan kepada umat menyampaikan ‘terima kasih’ atas jasa baik aparat menjaga wilayah-wilayah di pelosok tanah Papua malah kurang patut dan membuat umat semakin trauma,” kata Tino.

Menurut Tino, pengurus Gereja Stasi Wuloni melalui video juga menjelaskan, pada Minggu (9/8) aparat keamanan dari Satgas Pos Wuloni mendatangi gereja stasi itu guna mengambil video singkat dari perwakilan umat.

“Video singkat itu dengan tujuan mewakili umat setempat mengucapkan ‘terima kasih’ kepada para Satgas maupun Presiden Republik Indonesia. Nah, berhubungan dengan video tersebut kami dari dari Stasi Wuloni menyampaikan bahwa beberapa peristiwa yang pernah terjadi di stasi ini,” kata perwakilan umat dalam video itu.

Menurut perwakilan umat yang didampingi beberapa anggota umat lainnya, pada 2021 hingga 2022 ada operasi militer tepat di kompleks gereja stasi itu. Operasi itu melibatkan anggota TPNPB OPM dan TNI-Polri lalu berujung atap seng gereja stasi jadi bolong dan hingga kini masih dibiarkan saja oleh umat.

“Bahkan lebih rusak (miris) lagi juba satu-satunya yang selalu dikenakan pewarta untuk memimpin ibadah juga menjadi bolong akibat tertembus peluru. Sampai sekarang para pewarta belum menggunakan jubah ini,” kata perwakilan umat sambil memperlihatkan jubah yang bolong terkena peluru.

“Kami Pemuda Katolik Komda Papua Tengah sungguh menolak cara-cara dan tindakan apparat keamanan seperti ini. Apalagi memasuki halaman gereja lalu mengganggu aktivitas ibadah umat. Ini melanggar hak asasi manusia tentang kebebasan beragama dan beribadah menurut iman dan kepercayaan umat,” ujar Tino.

Menurut Tino, Pemuda Katolik Komda Papua Tengah mendesak Presiden dan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, SE, M.Si segera memberikan keterangan resmi sekaligus meminta maaf atas tindakan tidak terpuji aparat keamanan di pelosok tanah Papua seperti dialami umat Stasi Wuloni.

“UmatKatolik di Keuskupan Timika, terutama umat yang tinggal di stasi-stasi di Dekanat Moni-Puncak Jaya selalu merindukan damai hadir di atas tanah mereka sehingga mereka bisa mencari nafkah dengan leluasa memenuhi ekonomi rumah tangga bahkan menyekolahkan anak-anak mereka. Semoga suara kami ini mendapat respon baik dari Presiden dan Panglima TNI,” ujar Tino. (*)