Puisi: Kepada Perempuan yang Sedang Tidur dan Kota Kelahiran Karya Saini KM

Sumber foto ilustrasi: bola.com, 28 Desember 2020

Ada Sebuah Negeri

 

Ada Sebuah Negeri. Gunung dan lembah yang tersendiri

karenanya kita mengeraskan hati, menyalakan api di kedua mata

menentang cakrawala hitam dan kemasygulan bumi

Ada sebuah negeri, walau kita takkan sampai padanya

 

Tanah Air yang sebenarnya tidak pernah dikenal

Kerajaan Gaib, kemana orang-orang yang bernurani akan tetap ziarah

dan simpang siur jejak mereka yang kekal akan bernama dunia

Melangkahkan kaki-kaki yang letih, hati yang bersumpah setia

 

Orang-orang jujur, orang sabar dan lembut akan menanggung derita

namun tidak mengeluh. Akan berpapahan tangan senantiasa

karena ada sebuah negeri, dimana harga hidup ditebus dengan cinta

di mana kau tak pernah ada, tapi dia ada dalam hatimu

Sumber: Nyanyian Tanah Air (2000)

Kepada Perempuan yang Sedang Tidur

 

Mawar bibirmu, sejauh dahaga tubuh, menyejukkan

dengan madu gaibnya. Namun kita kembali berpisah

Dan walaupun masih berdekapan, saya seorang diri

mengembara di seberang batas tidur-nyenyakmu

 

Dihimbau cinta yang lain, yang tak kaumengerti

tapi kaucemburui, lelaki kembali pada dunia

pada sejarah. Ingin kukatakan padamu, wanitaku

bahwa atas bantal pahamu saya akan tetap bermimpi

 

tentang kehidupan di luar teduh alismu. Gelisah

antara mulut meriam yang memuntahkan kebencian

dan mulut kanak-kanak yang tak henti-hentinya

menyanyikan masa depan

di pelosok bumi yang tak tercapai oleh wangi rambutmu

1969

Sumber: Puisi Cinta Terbaik Versi Lokomoteks (2017)

Himne

 

Bahkan batu-batu yang keras dan bisu

mengagungkan namaMu dengan cara sendiri

menggeliat derita pada lekuk dan liku

bawah sayatan khianat dan dusta

 

Dengan hikmat selalu kupandang patungMu

menitikkan darah dari tangan dan kaki

dari mahkota duri dan sembulan paku

yang dikarati dosa manusia

 

Tanpa luka-luka yang lebar terbuka

dunia kehilangan sumber kasih

Besarlah mereka yang dalam nestapa

mengenalMu tersalib di dalam hati

 

Kota Kelahiran

 

Mengimbau kotaku di dasar hijau lembahmu

Dinafasi angin di dua musim

Ketika fajar berlinang embun

Dan gugur bunga-bunga kemarau

 

Betapa banyak di sana bulan jatuh ke kali

Terapung dalam air rindu kita

Surat-surat terlambat atas rentangan rel kereta

Jendela yang senantiasa terbuka ke arah masa lalu

 

Betapa banyak di sini hujan menguyupkan hatiku

Dan malam lewat atas pelupuk mata terbuka

Jalan panjang merangkai tahun ke tahun

Di likunya wajah-wajah berdesak menyuruki sepi

Tahun 1960

Saini Karnamisastra atau akrab dengan Saini KM lahir 16 Juni 1938 di Sumedang, Jawa Barat. Ia lulus Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris IKIP Bandung. Minatnya dalam bidang sastra dan teater tumbuh sebelum ia masuk perguruan tinggi.

Ia mendirikan jurusan Teater di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung. Di samping menjadi dosen di STSI Bandung, Saini juga aktif di bidang kesenian, khususnya di dan teater. Ia aktif menulis esai dan puisi.

Tiga buah buku puisinya yaitu Nyanyian Tanah Air (Mimbar Demokrasi Press, 1969), Rumah Cermin (Sargani & Co. 1979), dan Sepuluh Orang Utusan (PT Granesia, 1989). Kumpulan esai sastranya yang diterbitkan yaitu Protes Sosial dalam Sastra (Angkasa. 1983).