Ada Sebuah Negeri
Ada Sebuah Negeri. Gunung dan lembah yang tersendiri
karenanya kita mengeraskan hati, menyalakan api di kedua mata
menentang cakrawala hitam dan kemasygulan bumi
Ada sebuah negeri, walau kita takkan sampai padanya
Tanah Air yang sebenarnya tidak pernah dikenal
Kerajaan Gaib, kemana orang-orang yang bernurani akan tetap ziarah
dan simpang siur jejak mereka yang kekal akan bernama dunia
Melangkahkan kaki-kaki yang letih, hati yang bersumpah setia
Orang-orang jujur, orang sabar dan lembut akan menanggung derita
namun tidak mengeluh. Akan berpapahan tangan senantiasa
karena ada sebuah negeri, dimana harga hidup ditebus dengan cinta
di mana kau tak pernah ada, tapi dia ada dalam hatimu
Sumber: Nyanyian Tanah Air (2000)
Kepada Perempuan yang Sedang Tidur
Mawar bibirmu, sejauh dahaga tubuh, menyejukkan
dengan madu gaibnya. Namun kita kembali berpisah
Dan walaupun masih berdekapan, saya seorang diri
mengembara di seberang batas tidur-nyenyakmu
Dihimbau cinta yang lain, yang tak kaumengerti
tapi kaucemburui, lelaki kembali pada dunia
pada sejarah. Ingin kukatakan padamu, wanitaku
bahwa atas bantal pahamu saya akan tetap bermimpi
tentang kehidupan di luar teduh alismu. Gelisah
antara mulut meriam yang memuntahkan kebencian
dan mulut kanak-kanak yang tak henti-hentinya
menyanyikan masa depan
di pelosok bumi yang tak tercapai oleh wangi rambutmu
1969
Sumber: Puisi Cinta Terbaik Versi Lokomoteks (2017)
Himne
Bahkan batu-batu yang keras dan bisu
mengagungkan namaMu dengan cara sendiri
menggeliat derita pada lekuk dan liku
bawah sayatan khianat dan dusta
Dengan hikmat selalu kupandang patungMu
menitikkan darah dari tangan dan kaki
dari mahkota duri dan sembulan paku
yang dikarati dosa manusia
Tanpa luka-luka yang lebar terbuka
dunia kehilangan sumber kasih
Besarlah mereka yang dalam nestapa
mengenalMu tersalib di dalam hati
Kota Kelahiran
Mengimbau kotaku di dasar hijau lembahmu
Dinafasi angin di dua musim
Ketika fajar berlinang embun
Dan gugur bunga-bunga kemarau
Betapa banyak di sana bulan jatuh ke kali
Terapung dalam air rindu kita
Surat-surat terlambat atas rentangan rel kereta
Jendela yang senantiasa terbuka ke arah masa lalu
Betapa banyak di sini hujan menguyupkan hatiku
Dan malam lewat atas pelupuk mata terbuka
Jalan panjang merangkai tahun ke tahun
Di likunya wajah-wajah berdesak menyuruki sepi
Tahun 1960
Saini Karnamisastra atau akrab dengan Saini KM lahir 16 Juni 1938 di Sumedang, Jawa Barat. Ia lulus Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris IKIP Bandung. Minatnya dalam bidang sastra dan teater tumbuh sebelum ia masuk perguruan tinggi.
Ia mendirikan jurusan Teater di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung. Di samping menjadi dosen di STSI Bandung, Saini juga aktif di bidang kesenian, khususnya di dan teater. Ia aktif menulis esai dan puisi.
Tiga buah buku puisinya yaitu Nyanyian Tanah Air (Mimbar Demokrasi Press, 1969), Rumah Cermin (Sargani & Co. 1979), dan Sepuluh Orang Utusan (PT Granesia, 1989). Kumpulan esai sastranya yang diterbitkan yaitu Protes Sosial dalam Sastra (Angkasa. 1983).










