TIMIKA, ODIYAIWUU.com — Kasus malaria di Kabupaten Mimika semester pertama tahun 2026 menyentuh angka 86.747 kasus. Jumlah tersebut terdata setelah dilakukan pemeriksaan terhadap 693.591 orang yang dinyatakan positif malaria pada periode Januari hingga Juli 2026.
“Data semester satu tahun 2026 dari Januari sampai Juni berdasarkan berdasarkan akun Elektronik Sistem Informasi Surveilans Malaria (e-SISMAL) —akun sistem pencatatan pelaporan elektroniknya laporan malaria kabupaten— maka data terbaru sampai hari ini (Senin, 13/7) kasus positif tahun 2026 itu sebesar 86.747 kasus,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Malaria Center Mimika Imelda Ohoiledjaan mengutip papuatengah.antaranews.com di Timika, Papua Tengah, Senin (13/7)
Menurut Imelda, berdasarkan data UPTD Malaria Center di Mimika terdapat 81 fasilitas kesehatan (faskes) terdiri dari 26 Puskesmas, tujuh rumah sakit, klinik swasta, dokter praktik mandiri serta apotek apotek kecil yang melakukan pelayanan pemeriksaan malaria.
“Mereka (faskes) ini punya nomor akun yang berbeda untuk melaporkan secara langsung di akun e-SISMAL. Akun E- SISMAL ini di buat oleh Kementerian Kesehatan sehingga datanya real time, kapanpun Kementerian ingin melihat data terbaru, mereka masuk saja ke akun itu dan dapat melihat secara langsung perkembangan kasus malaria di Mimika setiap hari,” kata Imelda lebih lanjut.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui peta jalan (roadmap) eliminasi malaria sejak 2024 memberikan target kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika hingga 2028 melakukan target pemeriksaan malaria sebanyak sebesar 2.075.723 testing dalam satu tahun,
“Mimika diberikan target sampai 2028 karena target eliminasi malarianya di 2030. Pada 2025 kami mencapai 1,3 juta testing. Untuk tahun ini kami sudah mencapai 600 lebih dan kami yakin bisa mencapai target 2 juta testing tahun ini,” lanjut Imelda.
Untuk mencapai target tahun 2026, saat ini Dinas Kesehatan Mimika sedang menjalankan pemeriksaan malaria melalui Program Tempo Kas Tuntas dan Kaka Sehat yang sedang dijalankan di masyarakat.
Program tersebut dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Mimika. Bukan hanya itu Kementerian Kesehatan juga mendukung melalui program yang dibiayai oleh Kementerian Kesehatan.
“Dengan jumlah testing yang dicapai sekarang, kami sangat yakin karena dengan program yang sedang dijalankan ini, mereka sebenarnya sudah melakukan testing malaria tinggal butuh waktu untuk melakukan input di sistem untuk terbaca,” kata Imelda.
Upaya eliminasi malaria di Mimika diakuinya membutuhkan partisipasi dan dukungan dari masyarakat. Misalnya, mengkonsumsi obat malaria secara teratur dan tuntas, menjaga kebersihan lingkungan serta mendukung upaya yang dilakukan pemerintah mendorong eliminasi malaria secara nasional pada 2030.
Imelda menyebut saat ini masih banyak masyarakat yang mengkonsumsi obat malaria tidak tuntas dan juga tidak melakukan pemeriksaan darah kembali setelah tuntas mengkonsumsi obat untuk memastikan pasien tersebut telah sembuh dari sakit malaria.
“Kadang menurut masyarakat sembuh itu biar obat belum habis dan gejala sudah tidak, itu hal yang salah tolong disampaikan kepada masyarakat, sembuh itu ketika obat habis dan kembali melakukan kontrol pemeriksaan ulang darah setelah pengobatan,” katanya.
Imelda menegaskan, pembangunan daerah bukan hanya tentang infrastruktur, pembangunan manusia juga menjadi hal sangat penting, salah satunya ikut berpartisipasi aktif dalam upaya eliminasi malaria.
“Karena orang sehat dulu baru produktif bisa bekerja dan sekolah dengan baik, kalau malaria maka seluruh aktivitas tidak dapat dilaksanakan karena sakit. Malaria merupakan salah satu penyakit yang sangat mengganggu pembangun sumber daya manusia,” kata Imelda. (*)










