Oleh Yosua Noak Douw
Penikmat Bola dan Pendukung Persipura
SORE yang menyisakan tanya saat Persipura Jayapura menjamu Adhyaksa FC dalam laga playoff promosi Championship 2025/2026 di Stadion Lukas Enembe, Jayapura, Jumat (8/5).
Laga antara Perspura, tim berjuluk Mutiara Hitam versus tim Adyaksa FC milik Kejaksaan Agung RI, kembali meninggalkan ruang perbincangan yang tak mudah ditutup begitu saja.
Bagi sebagian besar masyarakat Papua, pertandingan itu bukan sekadar soal angka di papan skor. Ia juga menyentuh sejumlah keputusan wasit di lapangan yang menumbuhkan tanda tanya di hati banyak orang.
Sore itu terasa lebih berat dari sekadar kekalahan biasa. Ada rasa yang sulit diungkapkan dengan satu kata — campuran antara kecewa, lelah, namun di sudut hati masih tersimpan harapan yang belum padam.
Sepak bola memang kerap kali bukan sekadar olahraga. Ia adalah cermin yang memantulkan banyak hal: solidaritas paripurna, identitas budaya Melanesia hingga asa perihal keadilan yang sederhana.
Maka ketika cermin itu mulai retak oleh keputusan-keputusan yang sulit dipahami, rasa kecewa publik tidaklah berlebihan. Ia sekaligus menjadi penanda bahwa cinta pada olahraga khususnya bola kaki masih tumbuh subur di rahim tanah Papua.
Apresiasi yang Tetap Layak Diberikan
Harus diakui dengan jujur, Adhyaksa FC tampil tenang, disiplin, dan cukup matang dalam membaca ritme pertandingan. Mereka bermain efektif, mengelola tekanan dengan baik, dan menunjukkan materi dan kualitas tim yang siap bersaing di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Dalam sepak bola modern, ketenangan dan kedisiplinan taktik adalah modal yang mahal —dan kemenangan mereka, dari sisi performa bukan sesuatu yang bisa ditolak begitu saja. Maka catatan ini pun bukan berdiri di atas kebencian terhadap lawan.
Ia berdiri di atas rasa hormat. Sebab kritik yang sehat dimulai dari pengakuan yang jujur: lawan kita bermain dengan baik, dan bahwa keringat mereka layak dihargai. Yang dipersoalkan bukanlah kemenangan tim lain, melainkan jalan yang menuju ke arah kemenangan itu.
Namun di balik jalannya pertandingan, ada keresahan yang perlahan tumbuh di antara para suporter Persipura. Apa yang terjadi pada laga Persipura vs Adhyaksa FC sesungguhnya telah terbuka dan terbukti memperlihatkan beberapa hal yang sulit dihindari dari catatan publik.
Pertama, Persipura tidak kalah oleh permainan bola. Persipura kalah oleh keputusan. Kedua, gol offside disahkan tanpa video assistant referee (VAR). Dua handball di kotak terlarang (baca: penalty) dibiarkan berlalu.
Ketiga, hari ini Persipura seakan melawan 17 orang — 11 pemain Adhyaksa FC ditambah empat perangkat pertandingan: 1 wasit utama, 2 asisten wasit, dan VAR. Keempat, dengan demikian, sepak bola Indonesia membutuhkan wasit yang adil; bukan sandiwara.
Bukan keputusan itu sendiri yang paling menyakitkan, melainkan ketiadaan transparansi yang seharusnya menjadi nilai dasar sepak bola modern. Ketika publik tidak dapat melihat proses pengambilan keputusan secara terbuka, ruang spekulasi akan selalu terbuka lebar.
Penonton tidak meminta kesempurnaan dari wasit —sebab manusia memang tidak sempurna. Tetapi penonton berhak atas penjelasan yang adil dan terbuka, sebab pada pertandingan inilah mereka menitipkan rasa cinta dan loyalitas mereka.
VAR dan Janji Sepak Bola yang Lebih Adil
Teknologi VAR sejatinya hadir untuk meminimalkan kesalahan fatal. Berdasarkan protokol resmi International Football Association Board (IFAB), VAR digunakan pada empat situasi utama: gol dan pelanggaran sebelum gol, penalti, kartu merah langsung, serta kesalahan identitas pemain.
Artinya, dugaan offside sebelum gol dan handball di kotak terlarang sebenarnya termasuk dalam ranah yang layak ditinjau ulang. Maka pertanyaan terdalamnya bukan lagi tentang siapa yang benar atau salah, melainkan mengapa proses peninjauan itu tidak tersaji secara terbuka?
VAR yang tidak transparan justru kehilangan ruh utamanya. Ia hadir bukan untuk menggantikan wasit, tetapi untuk memperkuat kepercayaan publik. Dan ketika kepercayaan itu tidak terbangun, maka teknologi sehebat apa pun akan kehilangan maknanya.
Bagi masyarakat Papua, Persipura bukan sekadar klub sepak bola. Ia adalah simbol kebanggaan, perjuangan, dan representasi tanah Papua di panggung nasional. Selama puluhan tahun, klub ini telah menorehkan kenangan, prestasi, dan kebahagiaan yang menyatu dengan identitas masyarakatnya.
Karena itu, setiap keputusan kontroversial yang dianggap merugikan Persipura sering terasa lebih emosional dari sekadar peristiwa olahraga. Untuk bola di tanah Papua, persoalan seperti ini bagai gelar yang bersambung dari masa ke masa: luka lama yang perlahan menumpuk hingga lahirlah ungkapan sederhana namun penuh makna.
Sebuah lagu lama yang masih terus kita nyanyikan: “…kita tahu barang ini, tapi kita masih tetap tahan dengan sakit hati…” Kalimat itu bukan sekadar kemarahan. Ia adalah bahasa kekecewaan yang lahir dari cinta yang terlalu dalam —dan dari harapan yang belum mau menyerah.
Di balik frasa itu tersimpan kesabaran yang panjang, kesetiaan yang tak mudah dipatahkan, dan keinginan agar suatu hari nanti, sepak bola benar-benar menjadi rumah yang setara bagi semua.
Tantangan Terbesar Liga
Masalah terbesar sepak bola Indonesia hari ini sesungguhnya bukan hanya soal kualitas pemain atau prestasi internasional. Masalah yang lebih dalam adalah konsistensi tata kelola dan krisis kepercayaan publik terhadap kompetisi.
Sepak bola modern membutuhkan wasit yang profesional, VAR yang transparan, federasi yang akuntabel, dan kompetisi yang dipercaya publik. Tanpa kepercayaan, sebuah liga akan kehilangan modal sosialnya yang paling berharga —dan kehilangan modal itu jauh lebih sulit dipulihkan daripada kekalahan di lapangan.
Stadion bisa direnovasi, lapangan bisa diperbaiki, jadwal bisa diatur ulang. Tetapi kepercayaan yang hilang membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang untuk kembali tumbuh.
Kekecewaan yang menumpuk kemudian melahirkan gagasan emosional di sebagian kalangan. “Coba sekalian pimpinan daerah di seluruh tanah Papua bersepakat bersama-sama mengusulkan saja Persipura bergabung dengan Liga Pasifik atau Liga Australia bahkan liga Asia lainnya yang lebih bagus.”
Demikian suara yang mulai sering terdengar di ruang-ruang publik. “Biarlah klub-klub lain dari provinsi dan kabupaten/kota di Papua silakan berebut di liga dalam negeri.”
Secara regulasi FIFA, langkah seperti itu tentu tidaklah sederhana. Namun munculnya wacana ini bukanlah ancaman. Ia adalah sinyal, alarm. Sebuah alarm bahwa rasa percaya pada keadilan kompetisi domestik mulai menipis di sebagian hati.
Ketika alarm itu berbunyi, tugas kita bersama bukan memadamkannya, melainkan memahami apa yang membuatnya berbunyi. Setiap aspirasi, betapa pun emosionalnya, biasanya lahir dari sebab yang nyata. Mengabaikannya hanya akan memperdalam jurang antara federasi dan masyarakat di tingkat paling bawah, akar rumput (grassroot).
Kritik yang Lahir dari Cinta
Catatan ini tidak dibuat untuk membenci siapa pun. Tidak pula untuk menolak kemenangan lawan. Adhyaksa FC tetap layak diapresiasi atas performa mereka, dan tidak ada satu pun keringat pemain yang pantas direndahkan.
Namun sepak bola Indonesia juga harus belajar menerima kritik sebagai bagian dari proses tumbuh. Karena kritik yang lahir dari kecintaan adalah pupuk, bukan racun. Ia tumbuh dari mereka yang masih percaya bahwa liga ini bisa menjadi lebih baik di hari esok.
Suporter yang bersuara bukanlah suporter yang membenci. Sebaliknya, mereka adalah penjaga setia yang menolak menyerah pada kekecewaan. Pada akhirnya, sepak bola yang menjunjung tinggi sportivitas bukan hanya tentang siapa yang menang.
Ia adalah tentang bagaimana kemenangan itu lahir. Bagaimana pula setiap tim maupun pihak manapun —yang menang maupun yang kalah— bisa pulang dengan rasa percaya bahwa keadilan telah ditegakkan.
Dan bagi rakyat Papua, Persipura akan selalu lebih dari sekadar klub sepak bola. Persipura adalah cerita. Persipura adalah kebanggaan. Persipura adalah bagian dari napas dan identitas tanah Papua.
Selama harapan itu masih ada dan selama cinta itu masih dijaga, kita semua masih punya alasan untuk percaya: bahwa esok, sepak bola Indonesia akan lebih adil daripada hari ini.
Bukan karena kita menutup mata pada luka, tetapi justru karena kita berani melihatnya, menamainya, dan bersama-sama mencari jalan untuk menyembuhkannya.
Sebab sepak bola yang sejati hanya akan tumbuh di tanah yang dirawat oleh keadilan dan dirawat pula oleh kedalaman batin yang tidak pernah berhenti percaya.










