Gubernur Dedi Turun Tangan Proses Kepulangan Warga Asal Jawa Barat yang Terlantar di Yahukimo

Gubernur Provinsi Jawa Barat Dedi Mulyadi. Sumber foto: setda.bogorkab.go.id, 6 Maret 2025

BANDUNG, ODIYAIWUU.com — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membantu proses pemulangan lima warga asal Kabupaten Sumedang yang telantar di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan.

Kelima warga tersebut sebelumnya menjadi sorotan publik setelah video mereka meminta bantuan karena mengaku telantar di Papua viral di media sosial. Dalam video tersebut, mereka menceritakan kondisi yang dialami setelah berangkat ke Papua untuk bekerja sebagai kuli bangunan.

Namun setelah lebih dari tiga minggu berada di lokasi, merujuk Kompas.com, Jumat (13/3) pekerjaan yang dijanjikan tidak kunjung mereka dapatkan sehingga mereka kehabisan bekal dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kasus ini kemudian mendapat perhatian dari pemerintah daerah, termasuk Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir serta Gubernur Dedi Mulyadi yang turut membantu proses pemulangan para warga tersebut.

Bagaimana awal mula lima warga Sumedang bisa terlantar di Papua? Kelima warga tersebut diketahui berasal dari Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang. Mereka berangkat dari Jakarta pada 14 Februari 2026 menuju Dekai, kota Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.

Keberangkatan mereka bermula dari tawaran pekerjaan sebagai kuli bangunan untuk proyek pembangunan barak TNI atau Kodim di wilayah tersebut. Tawaran tersebut datang dari seorang kenalan mereka yang disebut bernama Deni atau Den Bray.

Salah satu warga menjelaskan bahwa orang yang mengajak mereka bekerja mengaku sudah sering membawa pekerja ke berbagai proyek di luar daerah. “Yang mengajak itu teman saya sendiri namanya Deni atau panggilannya Den Bray, orang Bandung yang istrinya orang Cisurat,” ujar Dedi Mulyadi.

Mereka pun berangkat dengan harapan memperoleh pekerjaan. Namun setelah tiba di Papua dan berada di lokasi selama lebih dari tiga minggu, pekerjaan yang dijanjikan tidak pernah ada kejelasan. Mereka mengaku tidak ada pihak yang benar-benar mengarahkan atau memberikan pekerjaan sebagaimana dijanjikan sebelumnya.

Apa yang terjadi setelah mereka tiba di Yahukimo? Setibanya di Papua, mereka terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Sentani, kemudian melanjutkan perjalanan ke Dekai. Di lokasi tersebut mereka sempat dijemput menggunakan kendaraan milik TNI.

Mereka juga sempat bekerja di kontraktor bernama PT Intan. Namun mandor yang menjanjikan pekerjaan, yaitu Den Bray, disebut tidak pernah muncul lagi setelah mengantar mereka hingga bandara keberangkatan.

Karena tidak ada kepastian pekerjaan, kelima warga tersebut akhirnya dibantu oleh mandor lain bernama Mukhlis yang berasal dari Jayapura. Untuk sementara waktu mereka diminta membantu pekerjaan di bawah pengawasan Mukhlis.

Namun setelah sekitar satu minggu bekerja, mereka mengaku belum menerima upah karena sistem pembayaran dilakukan setiap dua minggu sekali.

Masalah lain kemudian muncul ketika mereka mulai terserang penyakit malaria yang membuat kondisi fisik mereka menurun dan tidak dapat bekerja secara maksimal.

Mengapa mereka akhirnya meminta bantuan untuk pulang? Selain karena sakit dan tidak memiliki kepastian pekerjaan, mereka juga mengaku khawatir dengan kondisi keamanan di wilayah tersebut.

Dalam percakapan melalui video call dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, salah satu warga menyampaikan keinginan mereka untuk segera pulang ke kampung halaman.

“Kami ingin pulang saja Pak. Di sini rasanya sudah tidak aman, banyak penyakit dan kami takut karena kondisi daerah sini (rawan KKB),” kata Dedi.

Permintaan tersebut akhirnya mendapat respons dari Dedi Mulyadi yang menyatakan siap membantu proses kepulangan mereka ke Jawa Barat.

Bagaimana upaya Dedi membantu kepulangan mereka? Setelah mengetahui kondisi para warga tersebut, Dedi segera melakukan komunikasi langsung dengan mereka. Ia kemudian menyampaikan rencana untuk membantu memfasilitasi kepulangan mereka ke Sumedang.

Namun sebelum memulangkan mereka, Dedi meminta agar dilakukan pengecekan terhadap kemungkinan adanya warga Jawa Barat lain yang mengalami kondisi serupa di wilayah tersebut.

“Begini Pak, saya minta cek dulu ada berapa total warga Jawa Barat di sana agar kalau dipulangkan bisa sekalian dan tidak ada kecemburuan. Saya akan bantu siapkan tiket pesawatnya,” ujar Dedi.

Untuk memastikan proses pemulangan berjalan lancar, Dedi juga berkoordinasi dengan Komando Distrik Militer (Dandim) di Yahukimo. Hal ini dilakukan karena wilayah tersebut tidak memiliki transportasi umum yang mudah diakses.

Melalui koordinasi tersebut, pihak TNI bersedia membantu mengantar para warga menuju bandara menggunakan kendaraan taktis.

“Bapak, saya sudah telepon Pak Dandimnya. Beliau akan mengawal Bapak ke bandara menggunakan mobil rantis. Nanti kita urusin tiket pesawatnya dari Dekai ke Sentani, lalu ke Soekarno-Hatta menggunakan maskapai Trigana Air,” ujar Dedi.

Mendengar kabar tersebut, kelima warga Sumedang itu mengaku sangat bersyukur dan menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Jawa Barat yang telah membantu mereka.

“Hatur nuhun pisan Bapak Dedi, terima kasih banyak atas bantuannya sehingga kami semua warga Jawa Barat bisa pulang,” ujar salah satu warga.

Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan di luar daerah, terutama jika informasi mengenai pekerjaan tersebut tidak jelas. (*)