Siswa Difabel Jadi Pemimpin Upacara, Presiden: Pemerintah Tak Hanya Fokus Fisik Pendidikan

Siswa asal Kabupaten Paniai Degi Degei saat tampil menjadi pemimpin upacara saat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2026 di lapangan MEPA Boarding School, Nabire, kota Provinsi Papua Tengah, Sabtu (2/5). Foto: Dokumen Cristian Degei

NABIRE, ODIYAIWUU.com — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2026 menyuguhkan pemandangan berbeda saat berlangsung upacara bendera dalam rangka Hardiknas di lapangan MEPA Boarding School, Nabire, kota Provinsi Papua Tengah, Sabtu (2/5).

Di tengah jalannya upacara peringatan Hardiknas 2026 yang berangsung khidmat, ratusan pasang mata mengarahkan mata kepada Degi Degei, siswa asal Kabupaten Paniai, Papua Tengah.

Ribuan pasang mata siswa-dan siswi serta peserta bukan menyasar Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa, SH, Wakil Gubernur Deinas Geley, S.Sos, M.Si, anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Fokopimda), jajaran pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah, dan tamu undangan.

Ribuan pasang mata peserta apel Hardiknas tingkat Provinsi Papua Tengah melabuh pada sosok Degei. Siswa anak asli Papua ini juga bukan berada di barisan utama podium bagi para petinggi provinsi di wilayah Meepago. Namun, pada seorang Degei, yang didapuk menjadi pemimpin upacara.

Bermodal kaki kanan yang menopang tubuhnya, Degei berdiri lebih dari satu jam tanpa goyah memimpin jalannya upacara. Suaranya tegas, aba-abanya jelas, dan sikapnya tenang.

Dalam suasana hening dan khidmat, ia memimpin jalannya upacara hingga menyentuh detik-detik akhir. Gubernur Nawipa yang juga seorang pilot senior tanah Papua, bersama jajaran pemerintah, Forkopimda, dan tamu undangan setia menyaksikan keteguhan seorang Degei yang melampaui batas fisik.

Tak ada raut menyuguhkan lelah yang bersarang dari siswa tersebut. Tak ada gestur Degei mengabarkan ia segera menyerah di tengah menunaikan tugasnya sebagai pemimpin upacara meski bermodal kaki kanan miliknya.

Pemandangan langka itu mengirim pesan penting dan inspiratif bahwa keterbatasan fisik seorang Degei tidak pernah memangkas semangat yang membara dalam dinding hati anak asli tanah Papua dari bibir Danau Paniai tentang arti terdalam proses pendidikan.

Tak berlebihan usai upacara peringatan Hardiknas tingkat Provinsi Papua Tengah tahun 2026, Degei berbicara dengan nada ringan tanpa dijejali beban yang bersarang dari dirinya. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai sosok yang harus dikasihani, melainkan sebagai pribadi yang utuh dan percaya diri.

“Buat apa malu, saya tidak malu dengan saya punya kaki. Saya tidak capek, cuman betis saja yang tadi sakit sedikit,” ujar Deki Degei kepada wartawan di Nabire, Papua Tengah, Sabtu (2/5).

Kalimat Degei, siswa kelas 10 B Sekolah Menengah Pertama (SMP) Satu Atap (Satap) Silas Gobai Pugaida, Distrik Ekaa Topaiya, Kabupaten Paniai, terdengar sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan keteguhan yang tidak semua orang miliki.

Menurut Degei, perjalanannya menuju titik ini tidak mudah. Namun, ia memilih tidak menjadikan masa lalu sebagai pusat cerita hidupnya. Bisa saja Degei berguru pada frasa ini: masa lalu adalah guru terbaik. Experience is the best teacher.

Ketika disinggung soal kehilangan kaki kirinya, ia lebih memilih diam. Matanya sembab lalu sejenak air mata Degei jatuh dari kedua bola mata yang memerah meski tak berdurasi panjang. Degei lalu mengembalikan suasana batin lalu bersemangat di tengah para peserta upacara.

Diamnya bukan tanda lemah. Justru dari situ terlihat jelas bahwa Deki tidak ingin dikenal karena luka, melainkan karena langkah yang ia tempuh hari ini.

Di balik sikapnya yang tenang, tersimpan mimpi besar menjadi Kepala Dinas Pendidikan kelak demi mengabdi dunia pendidikan di atas tanah Meepago atas nama cinta akan generasi bumi Cenderawasih. Sebuah cita-cita yang lahir dari keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan suci mengubah masa depan.

Degei menapaki jalannya dengan etos kerja membubung didasari doa dan disiplin. Ia aktif dalam organisasi sekolah seperti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), tekun belajar, dan rajin membaca. Baginya, keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti, tetapi pemicu dan pemacu melangkah jauh lewat jalur pendidikan formal.

Degei tak melihat dirinya sebagai “berbeda”. Ia merasa utuh, mampu, dan memiliki masa depan yang harus diperjuangkan. Hal yang juga dialami teman-teman dengan karunia Tuhan anggota tubuh yang utuh.

Doa dan dukungan orang tua menjadi salah satu kekuatan yang ia pegang dalam merenda masa depan lewat Pendidikan, jalan sunyi. Namun lebih dari itu, ada dorongan kuat dari dalam dirinya terus merawat semangatnya tetap maju meski mengoleks keterbatasan fisik.

“Tidak ada alasan dengan saya punya kaki, saya akan berjuang sampai mimpi saya terwujud,” kata Degei optimis. Ia juga menitip salam sederhana untuk semua peserta upacara. “Koyao….”. Sapaan khas dan hangat dalam bahasa Mee sebagai symbol sekaligus refleksi kedekatan dan rasa persaudaraan.

Kehadiran Degei di lapangan upacara MEPA Boarding School, Nabire menjadi refleksi nyata tentang makna pendidikan paling hakiki. Bahwa pendidikan bukan sekadar urusan di ruang kelas atau kurikulum. Lebih dari itu, Pendidikan dimaknai Degei tentang arti keberanian untuk berdiri meski dalam kondisi fisik tak sempurna.

Di tengah wacana besar tentang pendidikan inklusif, sosok seperti Degei menjadi bukti bahwa kebijakan tidak boleh berhenti pada konsep, tetapi harus hadir nyata dan dirasakan langsung oleh mereka yang selama ini berada di pinggiran.

Tugas sebagai pemimpin upacara pada momentum Hardiknas 2026 adalah sisi lain dan rona pendidikan di daerah yang masih menjadi pergumulan masyarakat dan para pemimpinnya. Degei bertekad menapaki masa depan dengan langkah yang jauh lebih kuat dari kebanyakan.

Presiden Republik Indonesia H. Prabowo Subianto, Rabu (29/4) menegaskan, komitmen pemerintah dalam mempercepat perbaikan infrastruktur pendidikan nasional melalui renovasi sekolah dalam skala besar.

Saat meninjau hasil renovasi SMAN 1 Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4), Presiden mengatakan, pemerintah menargetkan perbaikan 70.000 sekolah pada 2026 setelah sebelumnya melakukan renovasi sekitar 17.000 sekolah di berbagai daerah.

“Pemerintah tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik pendidikan. Pemerintah juga menaruh perhatian pada peningkatan kualitas serta kelengkapan fasilitasnya,” ujar Presiden Prabowo.

Menurut Kepala Negara, langkah ini menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan mendukung proses pendidikan yang optimal bagi generasi masa depan Indonesia.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Prof Dr Abdul Mu’ti, M.Ed mengatakan, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum refleksi bahwa pendidikan adalah proses menemukan dan menumbuhkembangkan fitrah, kodrat alamiah manusia atau potensi sebagai makhluk Tuhan yang mulia.

“Peringatan Hardiknas adalah momentum untuk kita melakukan refleksi, meneguhkan, dan menghidupkan spirit pendidikan nasional. Hakikatnya pendidikan adalah proses yang dilaksanakan secara tulus, penuh kasih dan sayang untuk memanusiakan manusia,” ujar Abdul Mu’ti pada peringatan Hardiknas tahun 2026, Sabtu (2/5).

Menurutnya, pendidikan adalah proses menemukan dan menumbuhkembangkan fitrah, kodrat alamiah manusia, atau potensi sebagai makhluk Tuhan yang mulia. Inti proses pendidikan adalah memuliakan. Bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara meletakkan dasar dan nilai pendidikan dengan sistem among; asah (ilmu), asih (kasih sayang), dan asuh (pendampingan, pembinaan).

Menteri Mu’ti menjelaskan, sesuai amanat Undang-undang Dasar 1945 dan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, hakikatnya pendidikan padalah proses mencerdaskan kehidupan, membangun watak dan peradaban bangsa.

“Pendidikan adalah proses menumbuhkembangkan potensi manusia sehingga menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, mandiri, sehat jasmani dan rohani, jujur, bertanggung jawab, demokratis, dan kepribadian utama lainnya,” ujar Mu’ti.

Sesuai dengan Asta Cita Presiden, kata Mu’ti, pendidikan adalah usaha bersama untuk membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul, kuat, dan tangguh untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju, makmur, dan bermartabat. (*)