Oleh Ben Senang Galus
Pemerhati masalah Papua, tinggal di Yogyakarta
EKSPLOITASI sistematis sumber daya alam (SDA) Papua yang mengabaikan hak masyarakat adat dan merusak lingkungan, didorong oleh kapitalisme dan struktur kekuasaan imperialisme yang semakin tak terbendung. Fenomena ini mengubah tanah adat menjadi komoditas ekonomi semata, marginalisasi kehidupan budaya dan menempatkan kekayaan Papua sebagai objek ekstraksi, bukan sebagai subyek yang harus dihormati.
Begitu kuatnya imperialisme menjadikan Papua hanya sebagai penyedia bahan baku untuk memenuhi kebutuhan kaum imperialis (baca: Yeli berdasi). Demi tujuan itu, kolonialisme Indonesia menggelontorkan kapital untuk mengeksploitasi sumber daya alam Papua. Eksploitasi berlebihan terhadap SDA, hampir tak terbendung. Inilah yang disebut sebagai epistemisida ekologi secara sistemik.
Dalam Ensklik Laudato Si’ Paus Fransiskus berbicara tentang masalah ekologi sebagai “akibat tragis” dari aktivitas manusia yang tak terkendali. Karena eksploitasi alam yang sembarangan, manusia mengambil risiko merusak alam dan pada gilirannya menjadi korban degradasi ini.
Kemungkinan bencana ekologis sebagai akibat peradaban industri, dan menekankan kebutuhan mendesak akan perubahan radikal dalam perilaku umat manusia, karena kemajuan ilmiah yang sangat luar biasa, kemampuan teknis yang sangat menakjubkan, pertumbuhan ekonomi yang sangat mencengangkan, bila tidak disertai dengan perkembangan sosial dan moral yang otentik, akhirnya akan berbalik melawan manusia”.
Dalam konteks Papua, apa yang menjadi kegelisahan Paus Fransiskus, bisa dibaca sebagai bentuk systemic ecology epistemicide yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan pembunuhan atau pembasmian ekologi secara sistemik. Epistemisida ekologi Papua secara sistemik merujuk pada pemusnahan sistematis sistem pengetahuan lokal/adat Papua tentang pengelolaan ekologi yang digantikan oleh narasi modern-ilmiah yang eksploitatif.
Ini melibatkan devaluasi kearifan lokal (misalnya konsep budaya Lani: keyage wapigwi, Amini Mbanggwi, obak kikwi, irum wakwi/inarum wakwi (menghormati, menghargai, merawat, memelihara, menjaga) alam, digantikan oleh pandangan yang melihat ekologi hanya sebagai komoditas ekonomi.
Di sini nampak adanya dominasi narasi kolonial/ekonomis. Ekologi dipandang sebagai objek industri (misalnya untuk sawit atau nikel) yang terpisah dari relasi spiritual dan eksistensial masyarakat adat dengan tanahnya, seringkali memperdalam beban bagi masyarakat pada umumnya. Ada kehendak bebas perampasan tanah yang menghancurkan “tubuh alam” juga menghancurkan basis pengetahuan dan budaya masyarakat adat yang berakar pada lingkungan tersebut.
Selain itu adan upaya kriminalisasi terhadap masyarakat adat yang mencoba melindungi ekologi, memaksa mereka jauh dari wilayah adat, merupakan tindakan nyata pemutusan akses terhadap pengetahuan tradisional mereka. Proses ini bukan sekadar hilangnya pohon (ekologi) melainkan hilangnya pemahaman manusia yang utuh tentang keseimbangan alam, yang kemudian melegitimasi eksploitasi yang merusak lingkungan.
Di sini nampak sekali adanya systemic violence (kekerasan sistemik) terhadap ekologi Papua, ketika pengetahuan, kosmologi, dan hak masyarakat adat disingkirkan oleh narasi negara/pasar yang mereduksi ekologi menjadi “lahan”, “aset”, atau “cadangan ekonomi”. Dominasi pengetahuan ini melegitimasi deforestasi atas nama pembangunan, membungkam kearifan lokal, dan meminggirkan masyarakat adat sebagai subjek yang sah atas ruang hidupnya.
Kekerasan sistemik terhadap pengetahuan ekologis tradisional masyarakat Papua tidak diakui dalam perencanaan kebijakan, sering dianggap kuno, dan tidak rasional dibandingkan narasi teknokratik. Kekerasan ini menjadi akar struktural dari konflik tenurial, hilangnya keanekaragaman hayati, dan degradasi ekosistem di Papua.
Ekonomi Minyak Goreng
Dampak systemic ecology epistemicide adalah krisis ekonomi, krisis kemanusiaan. Semuanya itu tidak dapat tidak karena mahalnya biaya pembangunan sebagai sebab kemungkinan. Pembangunan membutuhkan biaya besar. Karena membutuhkan biaya besar, mau tidak mau para penguasa kolonial harus mengkapitalisasi alam, mengeruk perut bumi, dengan cara, merampas alam untuk membiayai pembangunan.
Ekonomi Indonesia masih bertumpu pada eksploitasi SDA. Mau tidak mau, semua sumber daya alam termasuk ekologi (hutan) dibabat habis. Banyak yang menyebut ini sebagai ‘ekstraktivisme’. Istilah ini berkembang dan sangat populer di Amerika Latin. Di sana, ekstraktivisme digambarkan sebagai model ekonomi warisan kolonial.
Dalam banyak kasus, orang bicara ekstraktif hanya tertuju pada pertambangan, khususnya mineral dan migas. Namun ternyata tidak demikian. Eduardo Gudynas, aktivis dan penulis Uruguay yang banyak menyoroti ekonomi Amerika Latin, menyebut dua ciri pokok dari ekstraktivisme: pertama, eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam, dan kedua, hasil ekstraksi atau eksploitasi SDA itu diekspor dalam bentuk bahan baku ke pasar global.
Bagi Gudynas, ekstraktivisme bukan hanya pertambangan. Eksploitasi intensif terhadap hidrokarbon dan pertanian, yang diorientasikan pada ekspor, juga termasuk ekstraktivisme. Ia mengambil contoh Brazil. Dalam hal produksi minyak, Brazil hanya digolongan produsen menengah. Jadinya, hampir semua produksi minyaknya diorientasikan untuk kebutuhan internal/domestik. Tetapi, di sisi lain, Brazil sangat menggenjot pertanian, termasuk tanaman untuk menghasilkan bahan bakar berbahan baku nabati (agrofuel) untuk kepentingan ekspor.
Sementara di Papua, ekologi dibabat habis digantikan dengan pohon kelapa sawit untuk menghasilkan, apa yang disebut “ekonomi minyak goreng’, yang bersumber dari kelapa sawit. Antara ekonomi ekstraktif dengan ekonomi minyak goreng bahayanya sama. Sama-sama merusak alam, sama-sama mendatangkan penyakit.
Ekonomi “minyak goreng”, bisa mendatangkan berbagai penyakit yang menyerang organ tubuh manusia dan hewan, penyakit kemiskinan, penyakit kebodohan, penyakit seks, penyakit perjudian, penyakit korupsi, penyakit obesitas, dan sejenisnya.
Bagi masyarakat Papua bisa mendatangkan bencana: mata air menjadi kering, kesuburan tanah berkurang, konflik horisontal dan juga konflik vertikal. Masyarakat akan terusir dari kampung halamannya. Relasi masyarakat Papua dengan ekologi menjadi terputus.
Salah satu penyebab krisis ekologi di Papua bersumber dari energi berbahan ekstraktif atau ekonomi minyak goreng ini. Ada korelasi kuat antara akumulasi kapital dan survival ekonomi, antara stagnasi ekonomi dan kegagalan ekonomi atau antara level pertumbuhan ekonomi suatu negara dan peluang melestarikan demokrasi. Jika statemen tersebut valid, akar berbagai krisis ekologi Papua masa depan bersumber dari krisis energi berbahan ekstraktif dan ekonomi minyak goreng.
Manusia Akan Binasa
Saat ini maupun ke depan masyarakat (atau manusia) Papua sedang menghadapi bencana besar dari epistemisida ekologi. Karena semaju apa pun pengetahuan dan alat kerja manusia, tidak ada sangkut pautnya dengan keberlanjutan dan pemerataan kesejahteraan manusia Papua.
Segelintir manusia yang bermodal besar, memiliki pabrik-pabrik dan perusahaan raksasa (minyak atau emas), memiliki kepentingan lebih hebat dalam mengeksploitasi sumber daya alam, sekadar demi akumulasi keuntungan dan perluasan modalnya.
Kenyataan picik sistem epistemisida ekologi ini, jika kita merujuk pada kondisi saat ini di Papua, sistem ini, yang mengatur kekuatan manusia yang menggunakan fisik, juga psikologi dan moralitas sejak lahirnya manusia Papua. Perampokan yang dilindungi karena ditutupi oleh institusi negara, mengakibatkan manusia akan binasa akibat berkembangnya permasalahan sosial.
Mereka akan mati sebagai korban karena tergelincir oleh keadaan sosial yang sangat akut–masalah buruk, asusila, kejahatan, dan mati kelaparan, tersingkir dari akar sejarahnya.
Alam akan mengurangi unsur lingkungan tempat tinggal, dan pencemaran alam, kotornya sungai, ancaman terhadap keamanan (dari serangan militer), kekuatan produksi pangan dan bahan mentah dihancurkan. Niscaya, petani, tanah menjadi unsur utama dalam ekonomi pasar.
Tapi tidak ada masyarakat yang dapat tahan dengan akibat dari epistemisida ekologi ini, selain kerusakan akibat pabrik setan ini. Bahkan manusia saja tidak menghiraukan kehidupannya akan dibinasakan kalau menghambat aktivitas akumulasi kekayaan pemilik modal, apalagi terhadap alam yang jadi objek eksploitasi, memungkinkan perusakan lingkungan terjadi secara massal dan cepat.
Revolusi epistemisida ekologi dan kapitalisme ekstraktif (fossil-capitalism) memiliki pola hubungan historis dan signifikan melalui eksploitasi bahan bakar ekstraktif. Akibatnya, zona-zona itu menjadi episentrum konflik dan ketegangan berkepanjangan.
Epistemisida ekologi merupakan anak kandung dari globalisasi kapitalisme ekstraktif karena akumulasi kapital hanya dapat dijamin oleh pasokan energi ekstraktif dan akses yang konsisten ke sumber-sumber energi ekstraktif.
Lantas, pertanyaannya, bagaimana kita akan keluar dari perangkap epsitemisida ekologi ini? Apakah kita harus menghentikan model ekonomi yang bergantung pada eksploitasi alam? Ataukah kita harus bersikap anti terhadap segala bentuk aktivitas ekonomi minyak goreng?
Dibutuhkan perluasan kesadaran bahwa epistemisica ekologi penyebab kerusakan alam (lingkungan), yang membuat ribuan manusia mati sia-sia di atas reruntuhan tanah longsor, di atas tanah gersang, di atas timbunan kayu kering, kelaparan, penyakit, badai akibat perubahan iklim, terusirnya penduduk aseli dari tanahnya leluhurnya, dan sebagainya. Juga dibutuhkan perluasan pemahaman bahwa kesejahteraan tak mungkin didapat untuk jangka waktu yang lama jika lingkungan (kapitalisme alam) tak segera dihentikan.
Sebagai solusinya kita bisa menggunakan inovasi berbasis ekonomi rakyat Papua, yakni ekonomi honai. Ini membutuhkan riset dari perguruan tinggi hendaknya digunakan sebagai basis elemen penggerak ekonomi Papua ke depan.
Nah, yang lebih penting dari semua ini ialah hentikan semua kegiatan yang mematikan SDA Papua melalui kegiatan epistemisida ekologi sistemik. Sebab hal seperti ini memelihara konflik berkepanjangan dan dendam kesumat sampai anak cucu.










