Uskup Timika Mgr Bernardus Misa Penerimaan Sakramen Krisma di Paroki Bunda Maria Serui

Uskup Keuskupan Timika Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru, OSA (tengah) disambut dengan tarian adat setibanya di Bandara Stevanus Rumbewas, Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua, Sabtu (24/10). Sumber foto: RRI/Ricky

SERUI KOTA, ODIYAIWUU.com — Uskup Keuskupan Timika Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru, OSA, Sabtu (24/10) tiba di Serui Kota dalam rangkaian kunjungan pastoral di Dekanat Teluk Cenderawasih, Keuskupan Timika, Papua Tengah.

Umat Katolik Paroki Bunda Maria Serui, Kepulauan Yapen dan umat Katolik Dekanat Teluk Cenderawasih tampak gembira penuh syukur kepada Tuhan atas kunjungan gembala umat bersama rombongan.

Prosesi penyambutan dilakukan oleh Paroki Bunda Maria Serui, Dewan Paroki, pengurus serta umat sebagai ungkapan sukacita atas kunjungan gembala umat Katolik di wilayah Dekanat Teluk Cenderawasih.

Pastor Paroki Bunda Maria Serui, RD Floribertus Yosepch Swastantoro, Pr mengatakan, kunjungan Uskup Bernardus Baru merupakan bagian dari agenda pelayanan pastoral, khususnya untuk menerimakan Sakramen Krisma kepada umat yang telah dipersiapkan sejak lama.

Selain itu, kunjungan ini juga menjawab kerinduan umat untuk bertemu secara langsung dengan sang gembala setelah Uskup pertama Timika Mgr John Philipus Gaiyabi Saklil, Pr tutup usia pada 3 Agustus 2019.

“Kerinduan umat untuk dikunjungi oleh gembalanya itu akhirnya terjawab, dan baru kali ini bersama dengan Bapak Uskup Mgr Bernardus Bofitwos Baru, OSA, kerinduan umat terjawab dan ini menjadi sukacita bagi seluruh umat,” ujar Pastor Floribertus mengutip rri.co.id di Serui Kota, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua, Sabtu (24/10).

Pastor Floribertus berharap agar kehadiran Uskup Timika Mgr Bernardus dapat menjadi berkat dan rahmat bagi umat di Serui, stasi-stasi di Dawai maupun Waropen sehingga semakin bersemangat dalam mendalami iman dan memperkuat persekutuan.

Sementara itu, Uskup Timika Mgr Bernardus mengatakan, kunjungan ke Serui merupakan pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di wilayah tersebut. Ia mengaku terkesan dengan keindahan alam Serui, terutama sungai-sungai dan lingkungan alam yang masih terjaga serta memperlihatkan keharmonisan antara manusia dan alam.

“Saya kira harapan saya Serui tetap lestari dan alamnya jangan dirusak karena itu yang sekarang diperjuangkan sesuai dengan dokumen Ensiklik mendiang Paus Fransiskus tentang Laudato Si’. Alam, manusia, dan Pencipta merupakan satu kesatuan,” kata Uskup Bernardus.

Uskup Bernardus dalam kesemoatan tersebut mengajak masyarakat untuk memanfaatkan kekayaan alam secara bijaksana tanpa merusaknya, demi menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang.

Uskup Bernardus menambahkan, kunjungan pastoralnya di Serui tidak hanya berfokus pada penerimaan Sakramen Krisma, tetapi juga mencakup pertemuan bersama pastor paroki dan dewan paroki. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk mendengarkan kondisi umat sekaligus melihat perkembangan pelayanan Gereja Katolik di berbagai bidang.

Selain itu, perhatian juga diberikan terhadap penyelenggaraan pendidikan Katolik, pelayanan kesehatan serta berbagai kegiatan sosial yang berlangsung di lingkungan paroki. Melalui pertemuan tersebut, diharapkan terbangun komunikasi yang baik antara pimpinan keuskupan, para pelayan Gereja, pengurus, dan umat dalam mendukung pelayanan pastoral.

Setelah melaksanakan agenda di Serui, Uskup Bernardus juga melanjutkan kunjungan pastoral ke Stasi Waropen, Kabupaten Waropen, Papua untuk bertemu dan melayani umat di wilayah tersebut. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan antara gembala dan umat sekaligus memahami kebutuhan pelayanan Gereja di daerah-daerah.

Melalui kunjungan pastoral tersebut, umat Katolik di Paroki Bunda Maria Serui dan Dekanat Teluk Cenderawasih diharapkan semakin memperdalam iman, memperkuat persaudaraan serta meningkatkan keterlibatan dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat.

Pesan untuk menjaga kelestarian alam juga menjadi pengingat agar umat senantiasa membangun kehidupan yang harmonis, saling mengasihi, menghormati, dan mendukung satu sama lain demi terwujudnya kedamaian di tanah Papua.

Mgr Bernardus Bofitwos Baru lahir 22 Agustus 1969 di Dusun Bokraby (Bakrabi), Distrik Mare, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Ia terlahir sebagai anak kelima dari delapan bersaudara dari pasangan suami-istri Amus Awitayawan Baru (Alm) dan Sawoazaka Bame (Almarhumah) serta Salomina Bohoato Bame (Almarhumah).

Kakak dan adik Uskup Bernardus yaitu: Sofia Baru (petani), Lea Baru (petani), Amandus Baru (PNS), Benyamin Baru (PNS), Alexander Baru (petani), Amus Awitayawan Baru, dan Anna Baru (petani).

Semasa hidup, pasutri petani ini menyibukkan diri menanam dan merawat kebun miliknya tak jauh dari Bokraby. Panenan kebun seperti keladi, petatas, kasbi (ubi kayu), pisang, dan jagung menjadi menu bagi anak-anak mereka semasa kecil.

“Ayah kami suka berburu babi hutan, kanguru pohon, kuskus, dan pasang jerat babi hutan. Orangtua kami saling mengasihi satu sama lain. Mereka juga sangat mencintai kami semua. Ayah dan kedua ibu kami meninggal sejak adik Uskup Bernardus masih duduk di SMP Don Bosco Fakfak,” ujar Benyamin Baru, kakak kandung Uskup Bernardus di Timika, kota Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (14/5 2025).

Bernardus kecil masuk SD YPPK Suswa dan tamat tahun 1985. Ia kemudian lanjut di SMP Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Santo Don Bosco Fakfak hingga tamat tahun 1987.

Setelah itu melanjutkan studi di SMA YPPK Santo Agustinus Sorong hingga selesai tahun 1990, Bernardus lalu melanjutkan kuliah Diploma 3 (D-3) di Institut Pastoral Indonesia (IPI) Filial Malang di Semarang, Jawa Tengah hingga lulus tahun 1995. Setelah itu merampungkan studi S-1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura, Jayapura, tahun 1999.

Sebelum ditunjuk jadi Uskup, sebagai imam ia aktif dalam berbagai aktivitas sosial dan pelayanan kemasyarakatan. Uskup Bernardus pernah dipercaya mengemban tugas sebagai Direktur Sekretariat Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Ordo Santo Augustinus, Vikariat Papua dan dosen STFT Fajar Timur, Abepura. Uskup Bernardus juga dikenal sebagai imam yang pintar dan rendah hati.

Semangat belajar tak pernah padam dalam hati Uskup Bernardus. Tahun 2005, ia terbang ke Roma lalu masuk Fakultas Teologi Misi di La Pontifi cia Università Urbaniana atau Universitas Kepausan Urbaniana.

Ia kemudian meraih gelar doktor bidang Misiologi setelah mempertahankan disertasi berjudul Traditional Ritual Symbols in Youth Initiation and Religious Beliefs Among the Maybrat of West Papua: A Missiological Study tahun 2018.

Sederet tugas dari pimpinan OSA pernah diemban Uskup Bernardus. Tahun 2007–2014 didapuk sebagai pimpinan Ordo Santo Augustinus (OSA) wilayah Papua, pimpinan para calon pastor OSA atau magister novis tahun 2005–2007. Pernah pula mengajar para calon pastor OSA di Postulat dan Novisiat OSA di Sorong tahun 2005–2016, dan Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) Santo Benediktus, Sorong periode 2007-2012.

Tak sampai di situ. Uskup Bernardus, putra petani kecil dari Bokraby, juga aktif dalam gerakan pemberdayaan dan pengembangan budaya Papua dan masyarakat adat, kampanye perlindungan hutan atau ekologi di tanah Papua.

Pada tahun 2006–2012 ia tercatat sebagai Anggota Dewan Konsultatif Keuskupan Manokwari–Sorong. Sejak 2006 hingga saat ini, ia menjadi pembina kaum muda dan mahasiswa Katolik asal Maybrat di Yogyakarta.

Sejak 25 Januari 2023, ia menjabat Ketua STFT Fajar Timur sebelum akhirnya ditahbiskan menjadi Uskup Timika di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Rabu (14/5 2025). (*)