OPINI  

Mengenang 25 Tahun Imamat Suci Tuang John Djonga

Markus Haluk, Anggota Tim Kerja Buku 25 Tahun Imamat Pastor John Jonga dan Alumnus STFT Fajar Timur, Abepura. Sumber foto: suarapapua.com, 24 Oktober 2021

Oleh Markus Haluk

Anggota Tim Kerja Buku 25 Tahun Imamat Pastor John Djonga dan Alumnus STFT Fajar Timur, Abepura

SEBELUM memulai catatan ini, terdahulunya penulis menyampaikan Selamat Hari Minggu kepada Uksup Jayapura, Yang Mulia Mgr Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr; sang Jubilaris Tuang (Pastor, dalam Bahasa Manggara, Flores) John Djonga Pr; Pastor Paroki Koya RD Damianus Uropmabin yang hari ini juga merayakan 11 tahun Pesta Imamat Suci serta DPP Paroki Kota Barat; para pastor, suster, biarawan dan biarawati, para frater, Bapak/Ibu, tamu undangan dan saudara-saudari umat Katolik yang dikasihi dalam Tuhan.

Bila penulis awali pertanyaan singkat kepada Gen Z, generasi milenial dan Ibu serta Bapak sekalian di tanah Paua pasca Covid-19, apakah Anda mengenal Pastor John Djonga? Siapakah Pastor John Djonga? Penulis bisa pastikan, tentu tak semua mengenalnya. Sebab hari ini generasi milenial di tanah Papua lebih sering menghafal deretaan nama tokoh dalam karya fiksi seperti novel, roman, cerpen hingga sinema elektronik (sinetron).

Mereka mencari pahlawan di layar monitor handphone dan TV sendiri. Bila hari ini kita tanya siapa pembela dan pahlawan HAM di tanah Papua, gen Z pasti tidak mengingat semuanya. Padahal, pahlawan itu ada di depan mereka: duduk dengan sandal jepit, berbicara dengan logat Flores–Papua—logat gado-gado dengan bahasa khasnya, “pukama”, dengan teriakan keras yang lantang, dan tidak punya akun TikTok.

Pada 1986, tuang (sapaan khas: imam atau pastor dalam Bahasa Manggarai, Flores) John Djonga pertama kali tiba di tanah Papua sebagai orang biasa. Ia datang sebagai seorang tenaga awam, guru katekis Katolik kemudian ditugaskan di Paroki Kimbim-Woogi, Wamena sebelum akhirnya merampungkan studi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura, Jayapura.

Setelah itu, ia bertugas di Timika (kini, Kabupaten Mimika, Papua Tengah) John Djonga berada di tengah masyarakat, termasuk mama-mama Papua, berjuang melawan kejahatan Freeport, dan aktif memimpin pemberantasan miras (minuman keras) di Timika bersama aktivis perempuan suku Amungme Mama Yosepha Alomang.

Selanjutnya, tuang John ditugaskan di Wilayah Waris dan pada 2001 di Paroki APO ia menerima tahbisan imam dengan motto tahbisan, Kamu Adalah Sahabat-Ku (Yoh. 15:14). Lebih dari 15 tahun, ia menjadi pastor di wilayah Keerom dengan seribu satu tantangan dan ancaman.

Penghargaan di Bidang HAM

Atas perjuangan Membela HAM umat Kristus di tanah Papua, nama tuang John Djonga kemudian melambung, menjadi populer hingga dianugerahi penghargaan Yap Thiam Hien Award tahun 2009. Setelah itu, pimpinan Gereja Keuskupan Jayapura menugaskan Tuang John Djong di Wamena, tepatnya di Paroki Hepuba yang kini memekarkan jadi Kuasi Paroki Samenage. Ia bertugas di Hepuba hingga akhir 2020.

Saat ini, Tuang John menikmati masa pensiun di tengah umat di Koya Tengah, umat Papua di wilayah yang awalnya kerap dilabeli stigma negatif. Namun, selama enam tahun belakangan Tuang John ini dengan cinta dan karya yang melampaui perlahan menghadirkan ketenangan dan kehidupan bukan hanya bagi umat Katolik tetapi juga masyarakat.

Sekilas kisah perjalanan karya pelayanan Tuang John Djonga di tanah Papua tentu tidak bermaksud menguraikan tuntas sebab sebagian besar dari kita hidup dan mengalami kehidupan bersamanya. Hal yang hendak disampaikan ialah bahwa Tuang John Djonga tampak seperti pastor pada umumnya. Tidak ada cahaya di kepalanya. Tidak ada jubah yang berkibar.

Tuang John Djonga hanyalah seorang imam Tuhan, hamba yang hina tetapi kepala batu. Namun, ketika kita menelusuri hidupnya, dari yang biasa-biasa itu ia tumbuh menjadi ikon bukan karena ia ingin menjadi ikon, tetapi karena zaman memaksanya memilih: diam dan aman atau bersuara dan disingkirkan lalu siap dikubur sedalam 700 meter dalam tanah Waris. Tuang John Djonga memilih yang kedua.

Ini bukan cerita hoaks yang dibuat untuk mengharukan. Ini fakta. Ini pengalaman nyata yang kita hidupi bersama di tanah yang darahnya masih segar. Tuang John Djonga mengajarkan penulis dan rekan-rekan seperjuangan bahwa iman bukan hanya doa di dalam altar gereja tetapi menukik lebih dalam: tengah pasar dan di dalam honai di pelosok kampung (desa) di atas tanah Papua.

Iman adalah keberanian untuk berdiri di depan moncong senjata dan berkata: “Jangan tembak anak ini. Dia masih 16 tahun. Jangan memperkosa perempuan. Jangan mengeksploitasi sumber daya alam Tanah Papua. Jangan babat hutan. Jangan… jangan dan jangan. Kepada Bapak-bapak ia selalu lantan bersuara, jangan pikir mabuk dan terus korbankan istri. Hentikan semua itu dan hargai mereka sebagai manusia, citra Tuhan yang hidup. Kedepankan jalan damai-dialog, pengakuan atas martabat manusia, dan HAM.”

Iman yang Berlutut di Altar dan Lumpur HAM

Inilah warisan yang ia titipkan: iman yang berlutut di altar sekaligus berjalan di tengah manusia berlumpur HAM; spiritualitas yang tidak hanya menghitung rosario, tetapi juga menghitung korban. Tuang John Djonga meninggalkan jejak dari tanah Congkasae (Manggarai) di ujung barat Flores, Nusa Bunga lalu datang ke Papua bukan untuk mengumpulkan kekayaan. Jika ingin kaya, ia akan memilih hidup nyaman di tanah para tu’a golo (pemimpin) di beo, gendang (kampung) di Manggarai.

Tuang John Djonga datang ke Papua untuk mengumpulkan kekayaan yang lain: air mata mama-mama di tanah Papua di Waris, Arso, Koya Tengah, Timika, Wamena, Tolikara; asap hutan yang dibakar di Merauke; dan suara anak-anak Nduga, Intan Jaya, Maybrat yang ditembak di depan rumah mereka sendiri. Itulah kekayaannya, kekayaan yang tidak bisa dicairkan di ATM mana pun.

Meski tubuhnya berada di tanah Papua, suara kenabian tetap menggema di mana-mana, termasuk di tanah kelahirannya di Pulau Flores. Ia tetap lantang. Suara itu menyeberangi laut, dari tanah Papua ke bukit-bukit di tanah Congkasae dan Nusa Bunga hingga Istana Jakarta dimulai dari Presiden Soeharto hingga di hadapan Presiden Jokowi kemudian bersaksi dan bersuara lantang di Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss. Itulah Tuang John Djonga yang jejak pengabdiannya lengket dalam sanubari masyarakat bumi Cenderawasih.

Dalam kesempatan Minggu, 25 Oktober 2026, penulis bersama tim mempersembahkan buku terkait jejak pengabdian Tuang John Djonga dalam dua seri, Kamu Adalah Sahabat-Ku: Caritas, Virtus et Bonitas, “Terbakar dalam Cinta Kristus” dan Kamu Adalah Sahabat-Ku: Caritas, Virtus et Bonitas, “Perisai Hidup bagi Mereka yang Tertindas”. Komunikasi Pastor Jubelaris dengan Tim Kerja Pak Piter Sambut, Saudari Asrida Elisabet, Frater Leon Sadu, dan Pastor Johan Budi telah terbangun awal tahun 2026. Kemudian penulis juga dihubungi untuk menyumbangkan tulisan terkait kesaksian atas karya pelayanan Tuang John Djonga.

Setelah sekian lama menunggu, sampai dengan waktu yang telah ditentukan hanya baru dua orang yang menulis dan menyumbangkan kesaksian, maka tim meminta agar dilakukan pertemuan untuk evaluasi. Tim kemudian bertemu di ruang pertemuan DPP Paroki Waena dan memutuskan untuk membuka kepada publik. Penulis diminta menjadi bagian tim. Sehingga memulai koordinasi dan konsolidasi dengan meminta kesediaan para pihak, orang-orang yang mengenal Pastor John Djonga untuk menyumbangkan tulisan.

Syukur kepada Tuhan dan Maria, Bunda Gereja, kurang dari tiga minggu 37 orang telah menyumbangkan tulisan kesaksian lalu diklasifikasi dan menjadi dua buku sebagaimana ada saat ini. Buku ini lahir dari rahim fakta, atas keringat dan pengorbanan 40 tahun pastor melakukan pelayanan di tanah ini dan 68 tahun hadir di tengah umat dan rakyat tanah Papua. Mari kita tidak mengkultuskan orangnya, tetapi mewariskan nilainya. Sebab tokoh fiksi akan mati ketika sinetronnya tamat, tetapi nilai seorang gembala yang setia pada kebenaran akan hidup di lintas generasi.

Syukur dan Apresiasi

Untuk itu, kami menyampaikan syukur kepada Tuhan atas berkat-Nya dan terima kasih yang mendalam kepada para pihak yang menyumbangkan kesaksian melalui tulisan dalam buku ini. Semoga kesaksian tentang Tuang John Djonga, sang Jubilaris tetap hidup pada generasi hari ini dan yang akan datang. Sekali lagi, penulis bersama tim menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada semua pihak.

Penulis dan tim juga menyampaikan terima kasih kepada RD Marthen LP Jenarut, Pr, imam Keuskupan Ruteng, Flores sekaligus Sekretaris Eksekutif di Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran-Perantau (KKPPMP) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yang berkenan memberikan epilog dua buku ini. Terima kasih dan apresiasi juga penulis dan tim sampaikan kepada Uskup Jayapura Yang Mulia Mgr Yanuarius Theofilus Matopai You, yang bersedia memberikan prolog dan membiayai penerbitan dua serial buku edisi perdana ini.

Akhirnya, penulis bersama tim menyampaikan terima kasih, apresiasi, dan selamat kepada Tuang John Djonga, Pr, sang Jubilaris yang merayakan 25 Tahun Pesta Perak Imamat, 40 Tahun Berbakti di Tanah Papua, dan akan merayakan HUT ke-68 pada November 2026. Sebagai kado Istimewa, para penulis, kami semua atas nama umat di tanah Papua memberikan kado serial buku di atas.

Kedua buku ini tersedia di halaman gereja dengan doa dan harapan dikoleksi umat. Kami juga menyampaikan titipan doa dan salam dari Bapak Pieter dan Ibu Sun. Mereka tidak dapat hadir bersama kita hari ini di sini karena sedang menyiapkan diri untuk perayaan iman di Flores. Namun, hati mereka ada di sini bersama kita.

Dengan penuh kasih, kami meminta kesediaan Yang Mulia Bapa Uskup untuk berkenan meluncurkan buku ini secara resmi pada kesempatan ini untuk publik. Kita akan mencari waktu dan kesempatan lain untuk mengadakan bedah dan diskusi di Jayapura, dan tempat lain di tanah Papua, Jakarta, dan Flores. Sekali lagi, kami meminta kesediaan Bapa Uskup untuk meluncurkan dua serial buku ini. Terima kasih … Waaa.. waaaa.. waaaa… Tuhan berkati.