Oleh Yance Dou
Imam Keuskupan Jayapura; Alumnus Magister Teologi Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol
ADA jurang yang terbentang sunyi antara bibir yang mengucap dan kaki yang melangkah. Di dalam ruang dada manusia, kerap kali gema janji menjelma menjadi angin hampa. Kita berdiri di persimpangan jalan; menatap raut wajah Bapa yang penuh harap, lalu menyerahkan jawaban-jawaban yang terbelah. “Baik, Bapa, aku pergi.”
Namun langkah itu mati sebelum sempat diayunkan. Kata “Ya” yang manis berhembus santun di udara, namun tertinggal tanpa jejak ketaatan. Ia adalah janji yang layu di tangkai, mengecewakan dada tempatnya bersandar.
Di sudut yang lain, terdengar penolakan yang keras. “Aku tidak mau.” Sebuah ketusan mendasar yang merobek kehangatan relasi, meninggalkan beban batin yang sesak, serta menanam luka dalam hati Sang Ayah. Meski belakangan anak itu tersentak, menyesali kekerasannya, dan akhirnya melangkah pergi menggarap ladang—bukankah bayang-bayang penolakan itu telah sempat menggoreskan sembilu?
Betapa fakta hidup kita sering kali menjadi panggung bagi ketidakonsistenan. Kita berjanji tetapi mengabaikan; kita menolak namun kemudian meratapi. Kita sadar, “ya” tanpa kesetiaan adalah sarang kosong.
Ketaatan yang sejati tidak diukur dari keindahan suara saat menyanggupi, melainkan dari jejak-jejak debu di kaki yang sungguh-sungguh bekerja di ladang-Nya. Mutu iman dan martabat hidup kita tidak pernah dimeteraikan oleh ucapan, melainkan oleh keberanian aksi yang menjelma dalam kasih.
Gugatan Kesetiaan dan Pintu Kerajaan
Di hadapan Kristus, setiap topeng kepatuhan yang semu perlahan runtuh. Ia tidak memanggil kita untuk menjadi pujangga janji, melainkan saksi-saksi yang konsekuen.
Allah telah mencurahkan seluruh benih kasih-Nya melalui Kristus, Putra-Nya —sebuah undangan terbuka yang melintasi bukit dan lembah jiwa, menawani kita kemurahan hati Ilahi yang tak bertepi. Namun, Allah tidak pernah memaksa. Di dalam jemari kita, Ia menaruh karunia bernama kebebasan.
Mereka yang memilih untuk tekun mendengar dan dengan setia menggembalakan perintah-Nya dalam tindakan nyata, itulah mereka yang membuka jalan menuju Kerajaan Bapa.
Di sana, pertobatan bukan sekadar air mata yang mengering di pipi, melainkan sebuah pembalikan arah hidup secara total —sebuah metamorfosis jiwa dari kegelapan menuju terang-Nya.
Lalu, terdengarlah sabda-Nya yang menggetarkan tembok-tembol kebanggaan diri: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, para pemungut cukai dan para perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Mengapa mereka? Sebab mereka mengenal perihnya luka dan tidak menyembunyikan kebusukan jiwanya di balik jubah kesucian palsu. Ketika rahmat mengetuk, mereka bertobat tanpa syarat, meruntuhkan keangkuhan, dan membiarkan diri dibasuh oleh air mata kerendahan hati.
Nabi Yehezkiel pun telah menyerukan kebenaran yang abadi ini sejak purbakala: “Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, maka ia akan menyelamatkan nyawanya.”
Di atas garis pertobatan itulah jiwa yang paling berjelaga sekalipun diberi kepastian: bahwa belas kasih Allah sanggup menghapus masa lalu yang kelam, lalu merentangkan jalan baru menuju fajar masa depan yang penuh harapan.
Madah Pengampunan Jiwa yang Rapuh
Di dalam kesadaran akan betapa rapuhnya langkah ini, jiwa kita berlutut di hadapan Takhta Kerahiman. Bersama Pemazmur, kita melantunkan doa yang lahir dari kedalaman hati yang terluka oleh dosanya sendiri.
Doa yang keluar dari relung jiwa: “ingatlah segala rahmat dan kasih setia-Mu, ya Tuhan, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kau ingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya Tuhan.”
Betapa sering kelakuan kita menjadi badai yang menentang kehendak Suci-Mu. Kita kerap melupakan bahwa seluruh napas ini ditopang oleh rahmat yang telah ada sebelum bumi dibentuk.
Namun, tatkala kita menyadari keretakan diri, kita tahu ke mana harus berlari: bukan pada kebenaran diri sendiri, melainkan pada kemurahan Allah yang senantiasa mengingat kita melalui kacamata kasih setia-Nya.
Menatap Kristus, Menjumpai Sesama
Gema pertobatan tidak boleh berhenti di dalam ruang sunyi doa pribadi. Rasul Paulus merajut rahmat itu ke dalam tenunan hidup bersama. Ia mengingatkan bahwa persaudaraan yang rukun dan penuhkasih adalah tanah yang subur tempat cinta kepada Tuhan dapat tumbuh mengakar mendalam.
Untuk berjalan bersama, ada tembok yang harus dirobohkan: sikap egois dan dahaga akan kepentingan diri sendiri. Kita dipanggil untuk memblokir setiap benih kesombongan, lalu menggantinya dengan empati —sebuah solidaritas yang tulus untuk mengerti, merangkul, dan menghargai keberadaan orang lain.
Sebab lihatlah Kristus! Dialah mahakarya solidaritas yang tak tertandingi. “Dalam hidup bersama hendaklah kamu bersikap seperti Kristus.” Walau Ia adalah Putra Allah yang bertakhta di atas segala takhta, Ia tidak menggenggam ke-Allahan-Nya sebagai kesombongan. Ia menanggalkan keagungan-Nya, memilih rupa seorang hamba, dan berjalan di bumi dalam kerendahan yang murni.
Ia memilih menjadi miskin demi mengangkat martabat kaum yang terpinggirkan, menyentuh yang terbuang, dan mengalirkan selimut hangat bagi jiwa-jiwa yang kedinginan.
Teladan kemiskinan dan pengosongan diri-Nya adalah panggilan bagi kita: untuk tidak menyembah kelimpahan diri sendiri, melainkan menjadikannya jembatan bagi sesama, saling membagi kasih dan berkat tanpa menghitung untung dan rugi.
Kristus Sang Penyempurna
Kini, dari seluruh peziarahan kata dan perenungan jiwa ini, terbitlah hikmat yang menuntun arah melangkah: Memandang Yesus Sang “Ya” Sejati Ia adalah satu-satunya Pribadi yang menjawab “Ya” kepada kehendak Bapa tanpa pernah berpaling.
Seluruh hidup-Nya, dari palungan hingga kayu salib, adalah benang emas ketaatan yang tak pernah putus. Kepada-Nya kita berpatok; pada setia-Nya kita bersandar. Membuka hati bagi pertobatan yang membebaskan. Pertobatan adalah jalan pembebasan.
Di dalamnya, Allah membebaskan kita dari racun kesombongan dan kebiasaan merasa lebih benar dari orang lain. Pertobatan memalingkan kita dari kejahatan dan menyatukan kembali jiwa kita dengan sumber Kehidupan.
Jalan menuju Kerajaan-Nya senantiasa terbuka bagi mereka yang berhati lembut dan rendah hati. Di mana pun kita berada, mari kita usung semangat kerukunan dan persaudaraan sejati, membiarkan Roh Kristus memegang kendali atas setiap tutur kata, prasangka, dan perbuatan kita.
Kristuslah yang memulihkan retak hidup kita; Dialah Sang Penyempurna yang mengikat janji-janji kita yang rapuh menjadi ketaatan yang murni. Selamat Hari Minggu kepada umat Kristiani. Semoga rahmat, kasih, dan berkat Tuhan senantiasa menaungi dan memenuhi hidupmu beserta seluruh keluarga.










