JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Universitas Trisakti (Usakti), Selasa (5/5) kembali menggelar prosesi wisuda sebanyak 1.746 mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai fakultas dan jurusan pada Semester Gasal Tahun Akademik 2025/2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Di hadapan ribuan wisudawan dan wisudawati serta hadirin dari aula megah Plenary Hall JCC, menjadi saksi ziarah perjalanan panjang meraih gelar akademik tertinggi seorang Dr Abraham Kateyau, SE, MH, anak kampung dari pesisir Mimika, tanah Amungsa, bumi Kamoro, lereng gunung Newangkawi, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.
Dalam Sidang Terbuka Wisuda Universitas Trisakti Semester Gasal Tahun Akademik 2025/2026, Bram Kateyau —sapaan akrab Abraham Kateyau— resmi menyandang gelar Doktor (S3) Hukum dari Pogram Doktor Universitas Trisakti, perguruan tinggi yang beken dengan sebutan Kampus Pahlawan Reformasi beralamat di Grogol, Jakarta Barat.
Prosesi sidang wisuda bertajuk The New Generation of Entrepreneur tersebut diikuti ribuan lulusan dari berbagai jenjang, mulai dari diploma hingga doktoral. Dari seluruh peserta, Bram Kateyau tercatat masuk dalam daftar 18 orang wisudawan-wisudawati yang berhasil meraih gelar doktor di bidang hukum.
Bram Kateyau menulis disertasi berjudul Rekonstruksi Tanggungjawab Hukum Bagi Pelaku Penyebaran Berita Bohong di Media Sosial yang Mengandung Diskriminasi Dalam Mewujudkan Keadilan Bagi Masyarakat. Disertasi itu berhasil dipertahankan di hadapan tim penguji lalu mengantarnya meraih doctor Hukum Universitas Trisakti, Jakarta.
“Saya seangkatan Bapak Dr Eltinus Omaleng dan Bapak Dr Methodius Kossay di Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Trisakti. Beliau berdua wisuda duluan dan saya baru kali ini karena masih harus melakukan riset hingga proses perampungan penulisan disertasi dan tugas yang padat sebagai ASN di Kabupaten Mimika,” ujar Bram Kateyau saat dihubungu di Jakarta, Rabu (6/5).
Menurut Bram Kateyau, prestasi akademik tertinggi tersebut diakuinya bukan pekerjaan mudah atau dicapai dengan instan tetapi menuntut kesabaran, ketelitian dalam riset guna menadapatkan aspek kebaruan (novelty).
Perjalanan meraih kualifikasi akademik tertinggi bagi seorang Bram, anak kampung dari pesisir Mimika juga melalui perjalanan panjang penuh onak dan duri. Waktu yang terus bergerak di tengah kesibukannya sebagai abdi negara, tekad meraih gelar akademik tertinggi Bram Kateyau tak pernah padam.
Pendidikan adalah jalan suci bagi seirang Bram Kateyau sehingga lewat jalur itu (pendidikan) ia tempuh guna memperkuat menambah wawasan sekaligus kapasitas diri sehingga kelak memberi kontribusi bagi kemajuan masyarakat tanah Papua, khususnya Mimika dalam tugas pelayanannya.
“Capaian akademik tertinggi ini tentu tidak sekadar saya dan keluarga syukuri sebagai karunia Tuhan paling besar atau menjadi kebanggaan pribadi. Namun, capaian ini sekaligus terselip pesan kecil namun inspiratif tentang arti penting pendidikan bagi generasi muda, khususnya adik-adik putra asli tanah Papua,” kata Bram.
Bram menambahkan, di tengah berbagai tantangan geografis dan sosial serta ketersediaan sumber daya manusia (SDM), generasi muda tanah Papua khususnya di Mimika dan Papua Tengah sesungguhnya memiliki kesempatan yang sama bila didasari semangat belajar, kerja keras, dan pantang menyerah.
“Siapapun, termasuk generasi muda di tanah Papua bisa meraih pendidikan tertinggi kapan dan di mana saja kalua dalam hatinya tertanam jiwa petarung untuk mau belajar, sabar, dan tekun. Di atas semua itu, doa dan kerja keras menjadi pijakan utama yang tidak boleh diabaikan begitu saja,” kata Bram Kateyau.
Rektor Universitas Trisakti Prof Dr Ir Kadarsah Suryadi, DEA dalam sambutannya menegaskan, wisuda merupakan awal perjalanan baru bagi para lulusan untuk berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
“Kami juga menekankan komitmen universitas dalam mewujudkan visi sebagai Entrepreneurial University melalui penguatan pendidikan, riset serta inovasi dan kewirausahaan,” ujar Kadarsah Suryadi.
Acara wisuda bertambah semakak dengan kehadiran Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman yang juga merupakan Ketua Unum Ikatan Alumni Trisakti. Maman dalam sambutannya, mengatakan, Universitas Trisakti merupakan wadah candradimuka yang telah berhasil mencetak lulusan-lulusan terbaik.
“Kampus ini menjadi tempat pembentukan karakter, kompetensi, dan jiwa kepemimpinan. Para lulusan diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi,” kata Maman disambut aplaus wisudawan dan wisudawati serta hadirin yang memenuhi Planery Hall, Jakarta Convention Center.
Prosesi wisuda ini juga dihadiri Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III DKI Jakarta Dr Henri Togar Hasiholan Tambunan, SE, MA. Selain itu, hadir pula perwakilan Ikatan Alumni Trisakti Denon Prawiraatmadja selaku Bendahara Umum yang kini menjabat CEO dan Founder Whitesky Aviation Group, perusahaan penerbangan nasional yang bergerak di bidang layanan charter helikopter.
Selain itu, capaian Universitas Trisakti dalam berbagai pemeringkatan internasional serta tingginya tingkat serapan kerja lulusan turut menjadi bukti kualitas pendidikan yang dihasilkan. Hal ini memperkuat posisi universitas sebagai salah satu perguruan tinggi unggulan di tingkat nasional.
Momen wisuda ini juga menjadi kebahagiaan bagi para orang tua dan keluarga wisudawan yang turut hadir menyaksikan secara langsung pencapaian akademik putra-putri mereka. Keberhasilan ini menjadi simbol kerja keras bersama antara mahasiswa, keluarga, dan institusi pendidikan.
Acara ditutup dengan pesan kepada para wisudawan untuk terus belajar sepanjang hayat, menjaga integritas serta tetap menjalin hubungan dengan almamater. Dengan bekal ilmu dan pengalaman yang dimiliki, para lulusan diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Sidang terbuka ini juga mencerminkan tren meningkatnya minat pendidikan tinggi di Indonesia. Data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia menunjukkan, partisipasi pendidikan tinggi terus bertumbuh dalam satu dekade terakhir, termasuk dari wilayah timur Indonesia seperti tanah Papua.
Abraham Kateyau lahir 13 April 1972 di Jayapura, Papua. Bram tumbuh dan besar di Kampung Keakwa, Mimika Tengah, Mimika, Papua Tengah. Keakwa terletak di wilayah pesisir Mimika yang jauh dari akses pendidikan memadai.
Masa kecil Bram penuh keterbatasan, namun kondisi tersebut tidak memangkas semangatnya untuk terus belajar. Prinsip pendidikan seumur hidup (life-long education) selalu didekap dalam hati Bram Kateyau.
Bram Kateyau memulai pendidikan dasar di SD Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Santo Bonaventura Keakwa, lalu berlanjut ke SMP YPPK Lecocq d’Armanville Kaokanao hingga lulus tahun 1989.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke SMA YPPK Adhi Luhur di Nabire. Saat SMA, cita-citanya meraih pendidikan formal lebih tinggi nyaris kandas akibat keterbatasan ekonomi yang membelit keluarganya. Namun, kondisi itu tidak memadamkan semangatnya.
Pada 1993, Bram sempat diterima di program D3 Olahraga FKIP Universitas Cenderawasih melalui jalur seleksi lokal siswa berprestasi. Pilihan itu kemudian ia tinggalkan karena merasa tidak sejalan dengan arah hidup yang ingin ia bangun.
Keputusan besar tersebut justru membuka jalan baru. Ia kemudian melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ottow Geissler (kini Universitas Ottow Geissler Papua) dan meraih gelar Sarjana Ekonomi pada 2001.
Bagi Bram Kateyay, capaian akademik tertinggi itu bukanlah akhir perjalanan pengabdian di Tengah masyarakat. Ia melihat prestasi itu sebagai pintu awal untuk berkontribusi lebih besar, khususnya dalam bidang hukum, pembangunan daerah maupun pemberdayaan masyarakat adat.
Dari pesisir Keakwa hingga panggung akademik nasional, Langkah Bram Kateyau menjadi kisah inspiratif bagi siapa saja anak muda, terutama generasi muda yang berniat sukses dalam pendidikan formal hingga level tertinggi.
“Saya juga mau sampaikan kepada adik-adik generasi muda tanah Papua, khususnya dari lereng Nemangkawi bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat yang sederhana sekalipun. Jalan meraih mimpin itu mesti dan wajib didasari doa dan kerja keras, kesabaran, dan rela berkorban,” ujar Bram Kateyau.
Bram Kateyau menikah dengan gadis pilihannya, Bernadeta Natalia Benawit Kateyau. Keduanya dikaruniai anak-anak: Roy Kateyau, Rio Kateyau, Charolus Kateyau, Mercy Kateyau, Odilia Kateyau, Patricia Kateyau, dan Alberto Kateyau.
Selamat atas capaian gelar akademik membanggakan, Pa Bram Kateyau. Amolongo, nimao, witimi, saipa. Koyao… amakanie. Tuhan berkati selalu. (*)










