Puisi: Mazmur Syukur 40 Tahun di Atas Tanah Papua dan Fajar dari Nusa Para Lamafa Karya Yance Dou

Pantai Lewolein, salah satu destinasi eksotik di Lembata, pulau tempat kelahiran Pastor Willem Warat Bunga, OFM, imam Saudara Dina yang merayakan 40 Tahun Imamat pada 21 September 2026. Sumber foto: nttmediaexpress.com,Sabtu, 3 Juni 2023/Emanuel Dile Bataona

Fajar dari Nusa Para Lamafa

 

Di tanah hijau yang mempesona

di antara hembusan angin lewotana, leu awuq (kampung halaman) Lepanbatan

seorang putra sulung Warat dilahirkan ke dunia

Laksana bisikan lembut Roh Kudus, suara ilahi bergema di relung kalbu:

“Inilah anak yang Ku-kasihi, namailah dia Willem.”

 

Hati sang ibunda tersentuh sinar surgawi, menyimpan rahasia itu dalam diam:

“Akan menjadi apakah gerangan anak ini kelak?”

Ketika air mata haru membasahi pipinya, sang ayah menatap penuh cinta

Suka cita membuncah, tak tertampung oleh dada

terpanjatlah pujian dan syukur ke hadirat Sang Pencipta

 

Asam membubung tinggi menyentuh langit lepanbatan, nusa paus

ujung asapnya menunjuk ke arah timur Leragera, tempat fajar perdana menyingsing

Bumi bertengadah, dan Sang Pemilik awan berfirman:

“Anak ini akan membawa terang di ufuk timur.”

 

Panggilan Kedinaan Fransiskan

 

Dalam naungan kasih ibunda dan hikmat sang ayah, bocah itu bertumbuh

Langkah-langkah kecilnya berbisik mantap:

“Ibu, Ayah, aku harus ke gereja, aku harus menimba ilmu.”

 

Dari lepanbatan, nusa para lamafa (juru tikam), ia menapak jenjang pengetahuan

namun sabda di dalam dada terus bergelora: “Aku harus ke Seminari!”

Bukan harta yang ia cari, bukan takhta yang ia dapati

Ia memilih jalan kedinaan, jalan kecil Sang Santo Fransiskus dari Asisi

 

Ketika dunia menyodorkan aneka warna dan pesona

ia menutup telinga dan mendedikasikan hatinya

Ia jatuh cinta pada jubah cokelat —pakaian berwarna tanah

lambang kesederhanaan, cinta bagi sesama, dan belas kasih bagi semesta

 

Mazmur Syukur 40 Tahun di Atas Tanah Papua

 

Dalam lorong-lorong waktu, ia setia menjawab wasiat San Damiano

Dianyamnya ajaran Kristus bagai menenun sebuah noken kehidupan

 

Ia tidak memilih kenikmatan fana

melainkan jalan kesucian yang siap merangkul derita dan pengorbanan

Tekadnya makin bulat saat fajar Papua menyapa dadanya

 

Di Moanemani, Dogiyai, cahaya Ilahi menembus sukmanya

sebagaimana Rasul Paulus disapa terang di jalan Damsyik

 

Dari kejauhan, terpesona kami melihat langkah sang rasul muda berjubah warna tanah

di Gereja Santa Maria Immaculata Moanemani

Suaranya menggelegar penuh kuasa Ilahi

menembus awan kelam dan memulihkan jiwa-jiwa yang dahaga

 

Ia hadir sebagai gembala yang bersahaja

Sebagaimana Yesus mengasihi Zakeus, demikianlah Kristus merangkul kesederhanaannya

Lembata menenun panggilannya, Papua menjadi ladang pengutusannya

 

Mari kita alungkan kidung pujian dan nyanyikan Mazmur bagi Tuhan!

Dari Timika, Agats, Merauke hingga Jayapura

empat puluh tahun sudah ia melangkah sebagai Rasul Kedinaan Fransiskan

 

Di puncak pesta Yubileum ini, mewakili insan dan bumi Papua

tiada kado terindah selain ungkapan syukur yang mendalam

Bersama saudaramu, Papua M Dou, kami saling berjabat tangan dan menyapa hangat:

“Kipo Moti Wauwa, Pater Willem!”

 

Biar doa-doa kami membumbung melewati pintu fajar

diiringi tarian dan nyanyian Gowai, Tupe, dan Ugaa

 

Bersama leluhur, masyarakat, dan alam Papua yang senantiasa memelukmu, kami mengucapkan: Selamat Pesta 40 Tahun Hidup Membiara sebagai Fransiskan di tanah Papua, Pater Willem Warat Bungan, OFM

 

Semoga Sang Pemilik Cahaya senantiasa menyertai setiap langkah pelayananmu

 

Jayapura, 21 September 2026

Karya Yance Douw

(Mengenang Peringatan 40 Tahun Imamat Pater Willem Warat Bungan, OFM, Senin, 21 September 2026)

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.