OPINI  

Ekspansi Music Tourism di Indonesia dan Pencegahan Dampak Ekologis

Sang Pandu Nayenggita Pulangasih, Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Foto: Istimewa

Oleh Sang Pandu Nayenggita Pulangasih

Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

MULAI dari The Weeknd dan Avenged Sevenfold hingga YE, pariwisata musik (music tourism) di Indonesia berkembang pesat. Namun, bagaimana dengan aspek ekologisnya? Salah satu upaya untuk mengembangkan industri pariwisata di Indonesia adalah melalui penyelenggaraan pertunjukan musik berskala internasional.

Saat ini, Indonesia tengah aktif mengadakan konser-konser semacam itu. Sebagai contoh, musisi asal Kanada, Abel Tesfaye atau lebih familiar dikenal dengan nama The Weeknd baru-baru ini membawakan 42 lagu setiap malamnya, termasuk lagu-lagu hit seperti “Starboy,” “Blinding Lights,” dan lainnya.

Sementara itu, band legendaris asal California, Avenged Sevenfold, dijadwalkan untuk menggelar konser di Jakarta International Stadium pada Oktober 2026 sebagai bagian dari rangkaian tur mereka.

Selain itu, pada bulan yang sama (Oktober), musisi ternama Kanye West —yang menggunakan nama panggung YE —juga dijadwalkan untuk tampil di Indonesia. Berbagai acara ini menjadi daya tarik utama yang mendatangkan wisatawan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Selain konser berskala internasional, penampilan dari musisi lokal juga layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Selama setahun terakhir, lagu-lagu karya musisi Indonesia telah memberikan dampak yang signifikan bagi pendengar di dalam negeri —bahkan di platform spotify, tingkat minat terhadap karya musisi lokal telah melampaui minat terhadap K-Pop.

Survei yang dilakukan oleh lembaga jajak pendapat Jakpat menunjukkan bahwa minat terhadap musisi lokal berkisar antara 74 persen hingga 77 persen, sementara K-Pop hanya mencapai 40 persen.

Perpaduan antara musisi senior —seperti Sheila on 7, Dewa 19, dan Slank— dengan talenta-talenta muda seperti Tulus, Hindia, dan lainnya, telah mendapatkan tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia.

Tak heran jika konser yang menampilkan para artis ini menjadi daya tarik utama, yang turut memengaruhi keputusan masyarakat dalam menentukan destinasi perjalanan mereka.

Saat ini, pariwisata berbasis musik (wisata musik) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, yang menghubungkan pertunjukan musik, pengalaman perjalanan, mobilitas pengunjung serta aktivitas ekonomi di suatu destinasi.

Festival musik, khususnya, tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai daya tarik wisata yang mendorong pergerakan pengunjung dan memacu aktivitas ekonomi di wilayah sekitarnya.

Di Indonesia, pertumbuhan festival musik menghadirkan peluang bagi pengembangan industri kreatif dan pariwisata. Namun, pertumbuhan ini juga harus ditinjau dengan mempertimbangkan konsekuensi ekologis yang menyertainya.

Peningkatan jumlah pengunjung dan skala acara dapat menyebabkan timbulan limbah yang lebih besar, konsumsi energi dan sumber daya yang lebih tinggi, peningkatan emisi dari sektor transportasi, serta tekanan tambahan terhadap lahan dan infrastruktur lingkungan.

Oleh karena itu, pengembangan wisata musik sebaiknya tidak hanya dievaluasi berdasarkan manfaat ekonominya saja, melainkan juga berdasarkan bagaimana kegiatan tersebut direncanakan dengan tetap memperhatikan batasan ekologis destinasi terkait.

Ekspansi Music Tourism dan Potensi Tekanan Ekologis

Berkembangnya, musik tourisme di Indonesia menunjukkan bahwa festival musik memiliki potensi-potensi yang cukup besar untuk mendorong aktivitas pariwisata dan ekonomi kreatif.

Dampak yang ditimbulkan dari adanya festival bisa dibilang cukup luas. mulai dari banyaknya transportasi yang dibutuhkan untuk mengantarkan pengunjung dari lokasi asal hingga tempat penyelenggaraan acara, kebutuhan akodomasi mendorong aktivitas ekonomi di sekitar tempat acara, selain transportasi, penyedia makanan dan minuman juga meningkat dari biasanya.

Namun peningkatan kegiatan ekonomi tersebut dapat membawa dampak ekologis yang mengikutinya. hal itu ditentukan oleh bagaimana besaran skala festival yang diadakan.

Apabila semakin besar skala festivalnya, maka akan semakin banyak jumlah pengunjung yang hadir. Apabila semakin banyak pengunjung yang hadir maka akan semakin banyak sumber daya yang dibutuhkan untuk menyokong kesuksesan penyelenggaraan acara tersebut.

Persoalan-persoalan yang sering ditemukan pada konser-konser, yang pertama adalah banyaknya sampah yang terproduksi dari kegiatan konser ini. Sampah yang muncul seperti sampah makanan dan minuman, pamphlet atau material lain untuk promosi kegiatan maupun peralatan sekali pakai yang digunakan sewaktu-waktu seperti jas hujan apabila hujan.

Selain sampah penggunaan listrik terbilang cukup besar yang menjadi daya terselenggaranya konser-konser musik di Indonesia. Mulai dari panggung, tata cahaya lampu (lighting), sound system hingga fasilitas-fasilitas pendukung menjadi penambah kebutuhan energi selama acara berlangsung.

Dalam menjangkau venue tempat terjadinya acara, pengunjung secara mobile menggunakan kendaraan-kendaraan yang menambah emisi, khususnya dari penggunaan kendaraan pribadi. Perlu diingat bahwa penonton bukan berasal dari daerah sekitar saja, kemungkinan berasal dari luar kota atau bahkan berasal dari luar negeri sekalipun.

Contohnya pada persiapan konser Kanye West atau YE, yang diproyeksikan akan kedatangan 15.000 wisatawan dari mancanegara yang tersebar di 73 negara dengan dominasi wisatawan dari Australia yang paling banyak

Pencegahan Dampak Ekologis Melalui Pendekatan “Regenerative Tourism”

Dalam konteks tersebut, pendekatan regenerative tourism menawarkan perspektif yang melampaui orientasi pengurangan dampak negatif. (Bellato, Frantzeskaki, dan Nygaard, 2023) menjelaskan pariwisata regeneratif sebagai pendekatan yang berupaya mentransformasikan hubungan antara pariwisata dan sistem sosial-ekologis (Bellato, 2024).

Pendekatan ini menempatkan kesehatan sistem kehidupan, karakteristik tempat, dan hubungan timbal balik antara manusia dan alam sebagai pertimbangan penting dalam pengembangan pariwisata.

Perspektif tersebut relevan untuk mengkaji music tourism karena keberhasilan festival tidak cukup diukur melalui peningkatan jumlah pengunjung, pendapatan, atau efektivitas pengelolaan sampah.

Perlu pula dipertanyakan apakah perencanaan dan penyelenggaraan festival mampu menghindari tekanan ekologis yang tidak dapat ditoleransi, menjaga fungsi ekosistem, serta menghasilkan kontribusi positif bagi lingkungan dalam jangka panjang.

Pendekatan regenerative tourism dapat digunakan untuk melihat bagaimana dampak lingkungan dari perkembangan music tourism diantisipasi sejak tahap perencanaan. Upaya ini dapat dimulai dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan sebelum festival dilaksanakan, menentukan jumlah pengunjung sesuai dengan kemampuan lokasi, serta mengurangi penggunaan bahan sekali pakai.

Selain itu, penyelenggara juga perlu memperhatikan kebutuhan energi dan air serta dampak transportasi yang ditimbulkan oleh mobilitas pengunjung. Meskipun demikian, langkah-langkah tersebut belum cukup untuk menyebut sebuah festival sebagai pariwisata regeneratif.

Pengurangan sampah dan emisi memang penting, tetapi pendekatan regeneratif tidak berhenti pada upaya menekan dampak negatif. Lebih jauh, pendekatan ini juga mempertanyakan bagaimana kegiatan pariwisata dapat berkontribusi terhadap pemulihan dan terjaganya fungsi ekosistem.

Oleh karena itu, pengembangan music tourism perlu dilihat bukan hanya dari keberhasilan penyelenggara dalam mengelola kegiatan secara efisien, melainkan juga dari sejauh mana keputusan yang diambil sejak awal mempertimbangkan kondisi lingkungan dan keberlangsungan ekosistem di sekitar lokasi festival.

Penting untuk berfokus pada langkah-langkah konkret. Pertama, terkait masalah umum seperti limbah, prinsip-prinsip pariwisata regeneratif dapat diterapkan. Sebelum konser berlangsung, masyarakat setempat, promotor, dan penyelenggara dapat menyusun strategi.

Tujuannya, meminimalisir limbah yang dihasilkan oleh para pedagang —terutama mereka yang menjual makanan dan minuman di lokasi acara. Salah satu contohnya adalah kampanye yang mendorong pengunjung untuk membawa barang-barang yang dapat digunakan kembali dari rumah.

Kedua, kebutuhan energi untuk penyelenggaraan konser dapat dipenuhi dengan berbagai cara; misalnya, seperti yang terlihat pada konser Coldplay tahun 2023, sepeda statis dapat digunakan untuk mengisi daya baterai guna mendukung kebutuhan energi pertunjukan.

Ketiga, emisi karbon yang timbul akibat perjalanan menuju lokasi acara dapat dikurangi melalui kolaborasi antara masyarakat setempat, penyelenggara, dan promotor —seperti dengan mendorong pengunjung untuk berjalan kaki atau menyediakan pilihan transportasi umum yang memadai dalam skala besar.