Pemprov Papua Tengah dan Scopi Teken MoU Perkuat Pemberdayaan Kopi Melalui Budidaya Berkelanjutan

Asisten II Sekretariat Daerah Papua Tengah Dr H. Tumiran, S.Sos dan perwakilan Sustainable Coffee Platform of Indonesia (Scopi) saat menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang Pemberdayaan Petani dan Pelatih Utama Kopi di Nabire, kota Provinsi Papua Tengah, Senin (10/8). Foto: Istimewa

NABIRE, ODIYAIWUU.com — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah dan Sustainable Coffee Platform of Indonesia (Scopi), Senin (10/8) menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) tentang Pemberdayaan Petani dan Pelatih Utama Kopi di Nabire, kota Provinsi Papua Tengah.

Pemberdayaan petani dan pelatih utama kopi tersebut dilakukan melalui penerapan budidaya kopi berkelanjutan atau good agricultural practices (GAP) dan pascapanen (post-harvest) serta pengembangan ekosistem kopi berkelanjutan.

“Penandatangan nota kesepahaman kerja sama ini menjadi langkah strategis Pemerintah Provinsi Papua Tengah dalam membangun sektor perkebunan,” ujar Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Papua Tengah Dr H. Tumiran, S.Sos di Nabire, Papua Tengah, Senin (10/8).

Menurut Tumiran, sektor perkebunan dimaksud khususnya komoditas kopi agar tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Namun, lenih dari itu yaitu pada peningkatan kualitas, kapasitas petani, nilai tambah, dan kesejahteraan masyarakat.

Tuminar menambahkan, melalui MoU tersebut, Pemprov Papua Tengah bersama Scopi akan mendorong penguatan kapasitas petani dan pelatih utama kopi melalui penerapan praktik budidaya yang baik dan berkelanjutan, mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, hingga penanganan pascapanen.

Selain itu, lanjut Tumiran, Pemprov memandang pengembangan kopi harus dilakukan secara terintegrasi. Pengembangan tidak cukup sekadar menanam dan memperluas areal perkebunan, tetapi harus dibangun sebuah ekosistem kopi yang kuat dari hulu sampai hilir.

“Kerja sama dengan Scopi diarahkan pada peningkatan kompetensi petani, penguatan pelatih utama, master trainers, penerapan standar budidaya berkelanjutan, peningkatan mutu pascapanen, serta pengembangan jejaring dan kemitraan dalam rantai nilai kopi,” kata Tumiran.

Tumiran menjelaskan, dengan pendekatan tersebut petani diharapkan tidak lagi sekadar menjadi produsen bahan baku. Namun, lebih dari itu secara bertahap mampu menghasilkan kopi berkualitas yang memiliki daya saing dan nilai ekonomi lebih tinggi.

“Kerja sama ini juga menjadi bagian penting dari upaya Pemprov Papua Tengah dalam mewujudkan program pengembangan komoditas unggulan daerah, termasuk gerakan penanaman dan pengembangan kopi secara berkelanjutan,” ujar Tumiran.

Menurutnya, Papua Tengah memiliki potensi besar untuk menghasilkan kopi berkualitas dengan karakteristik dan cita rasa yang khas. Potensi tersebut harus dikelola secara serius melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, teknologi budidaya, pascapanen, kelembagaan petani, serta akses terhadap pasar.

“Pemprov akan terus mendorong sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, petani, pelaku usaha, lembaga pendamping, akademisi, dan mitra pembangunan sehingga pengembangan kopi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.

Dalam pengembangan kopi Papua Tengah, diakui Tumiran, petani ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan, bukan sekadar penerima bantuan. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas dan keterampilan petani menjadi salah satu fokus utama.

“Petani perlu mendapatkan pengetahuan dan pendampingan yang berkelanjutan agar mampu menerapkan praktik budidaya yang baik, meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas lingkungan, dan menghasilkan produk kopi yang memenuhi standar pasar,” kata Tumiran.

Selain itu, pemerintah juga akan mendorong terbentuknya kelompok-kelompok tani yang kuat serta kelembagaan petani yang mampu menjadi bagian dari rantai pasok kopi secara berkelanjutan. Pengembangan kopi Papua Tengah diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan nasional, tetapi juga membuka peluang menuju pasar internasional.

“Untuk mencapai tujuan tersebut, kualitas menjadi kunci. Kopi yang dihasilkan harus memiliki standar budidaya, panen, pengolahan, dan pascapanen yang baik sehingga mampu memiliki daya saing dan identitas sebagai kopi Papua Tengah,” katanya.

Kerja sama Pemprov dan Scopi diharapkan menjadi salah satu fondasi untuk membangun ekosistem kopi Papua Tengah yang berkelanjutan, berdaya saing, dan memberikan nilai tambah bagi petani.

“Penandatanganan MoU ini merupakan awal dari kerja sama yang lebih konkret di lapangan. Pemprov akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan program pemberdayaan petani dapat dilaksanakan secara terarah dan berkelanjutan,” kata Tumiran.

Pemprov berharap kerja sama tersebut dapat menjadi momentum untuk melahirkan lebih banyak petani kopi yang terampil, pelatih utama yang kompeten, perkebunan kopi yang produktif dan ramah lingkungan, serta produk kopi Papua Tengah yang semakin dikenal dan dihargai di tingkat nasional maupun internasional.

“Kopi Papua Tengah bukan hanya tentang tanaman, tetapi tentang masa depan petani, peningkatan ekonomi masyarakat, kelestarian lingkungan, dan pembangunan Papua Tengah yang berkelanjutan,” ujar Tumiran. (*)