WASHINGTON, ODIYAIWUU.com — Pendiri sekaligus Ketua Umum Analisis Papua Strategis dan APS Center for Development and Global Studies Laus DC Rumayom, Kamis-Senin (19–25) berada di Amerika Serikat.
Laus Rumayom, dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, menghadiri One Ocean Week Seattle Summit di Bell Harbor International Conference Center, Washington DC, Amerika Serikat.
Rangkaian acara dalam One Ocean Week Seattle Summit yang diselenggarakan Maritime Blue tersebut memadukan dialog kebijakan tingkat tinggi dengan inovasi praktis, program budaya, dan pelibatan generasi muda mengingat upaya memecahkan tantangan kelautan membutuhkan kerja sama atau kolaborasi multi pihak (stakeholder).
One Ocean Week Seattle Summit adalah sebuah forum strategis global yang mempertemukan para pemimpin untuk inovasi, kolaborasi, dan aksi kelautan dari berbagai belahan dunia dengan kemampuan teknologi dan Perusahaan yang membentuk ekonomi biru (blue economy).
Setiap Oktober, Seattle menjadi titik temu dunia bagi ekonomi biru (blue economy). One Ocean Week Seattle menghadirkan para pemimpin kelautan, inovator, investor, pembuat kebijakan, seniman, dan berbagai komunitas dari seluruh penjuru dunia.
Selama tujuh hari, para peserta akan terlibat dalam serangkaian pertemuan puncak, pameran, dan perayaan yang semuanya ditujukan untuk satu tujuan yaitu masa depan maritim yang berkelanjutan dan inklusif.
“Kehadiran kami selaku peserta Forum One Ocean Week Seattle Washington yaitu menyampaikan pandangan dalam bahwa geopolitik maritim Indonesia menempatkan wilayah timur Indonesia secara khusus tanah Papua sebagai simpul strategis konektivitas perdagangan global, gerbang penghubung dengan kawasan Pasifik Selatan serta titik temu kepentingan kekuatan besar di Indo-Pasifik,” ujar Laus Rumayom dari Washinton DC, Amerika Serikat, Jumat (23/10).
Menurut Rumayom, Tenaga Ahli Madya Kantor Staf Presiden 2019-2024 selaku pendiri APS, Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia khususnya tanah Papua memiliki posisi strategis dalam geopolitik maritim pasifik.
Pertama, Papua sebagai pintu gerbang Pasifik dan poros maritim. Kota-kota seperti Sorong, Jayapura, dan Merauke diproyeksikan menjadi simpul logistik, energi serta jalur penghubung perdagangan antara Indonesia dan kawasan Pasifik serta Australia.
Kedua, persaingan kekuatan global di Indo-Pasifik. Wilayah sekitar Papua dan Pasifik beririsan langsung dengan dinamika persaingan strategis antara Amerika Serikat, Tiongkok serta aliansi keamanan regional seperti Australia-UK-US (AUKUS) yang meningkatkan kehadiran militer dan kerja sama pertahanan di negara tetangga seperti Papua Nugini.
Ketiga, kerentanan dan keamanan laut. Perairan timur Indonesia menyimpan kerentanan terhadap aktivitas penangkapan ikan secara (illegal fishing), penyelundupan serta tantangan penegakan kedaulatan jauh dari pusat pemerintahan.
Keempat, penguatan infrastruktur. Pemerintah terus mendorong pembangunan konektivitas pelabuhan dan sarana penunjang wilayah timur untuk memperkuat kedaulatan ekonomi nasional dan integrasi maritim. (*)










