OPINI  

Menguras Sisa Nurani Pemimpin Jakarta Atas Papua

Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr, Imam Diosesan Keuskupan Jayapura dan alumnus Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol. Foto: Istimewa

Oleh Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou

Alumnus Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol

DI ATAS tanah emas yang terus menangis dalam senyap, Papua bukan sekadar hamparan hijau di ujung garis peta, melainkan jantung yang ditusuk belati ketakutan saban hari. Berpuluh-puluh tahun bumi Cenderawasih tak pernah sungguh-sungguh ditatap sebagai kekasih yang harus dipeluk jiwa dan kemanusiaannya.

Ia justru dieksploitasi, dijadikan ATM tak bertepi, arena transaksi, dan mesin pencetak untung bagi mata penguasa yang buta oleh keserakahan. Di balik kilau rupiah dan triliunan angka APBN yang dialirkan atas nama “keamanan” masih ada yang tersisa.

Ada air mata ibu yang kehabisan ratap di balik pintu gubuknya, ada desa-desa yang mendadak lengang ditinggal penghuninya, dan ada sekolah-sekolah yang pintunya terkunci rapat dibayangi bayang-bayang laras senapan.

Konflik ini dipelihara seperti api di perapian elite —bukan untuk menghangatkan jiwa-jiwa yang kedinginan, melainkan untuk menjaga agar proyek bisnis militer tak pernah habis. Ketika duka dan trauma rakyat Papua dijadikan komoditas, ketika ancaman “dijual” demi mencairkan anggaran, di situlah kedaulatan telah kehilangan nyawanya.

Pos-pos militer yang dibangun bukannya berdiri untuk memeluk rakyat dari ketakutan, melainkan memastikan roda pengerukan emas, kayu, dan kekayaan bumi berjalan mulus tanpa gangguan. Wahai para pemimpin di Jakarta, bisakah kalian mendengar dari balik empuknya kursi kekuasaan?

Teriakan Manusia Ciptaan Allah

Jeritan di lembah-lembah sunyi itu bukanlah gema ancaman yang harus dibalas selongsong peluru, melainkan teriakan manusia yang diperkosa haknya dan merindukan martabat paling mendasar.

Laras senjata yang terus menyalak di balik kabut pegunungan bukanlah sekadar siklus kekerasan tanpa ujung. Ia manifestasi dari jiwa-jiwa yang terdesak dan nelangsa hingga ke batas tubir.

Ketika semua pintu diplomasi dikunci dari dalam, ketika bendera damai dibalas stigma dan pembungkaman, perlawanan lahir bukan karena mereka mencintai perang, melainkan karena diam berarti membiarkan tanah leluhur dikapling, hutan dibabat, dan anak cucu dibiarkan merayap di tanahnya sendiri.

Bagaimana mungkin sebuah bangsa yang mengaku merdeka tega menyaksikan pemilik sah tanah ini hidup sebagai pengungsi di rumahnya sendiri, diintai ketakutan setiap kali melangkahkan kaki di celah bukit?

Malam itu, di tepi pantai dan di batas kota, sejarah mencatat sunyi yang paling kelam. Ketika jemari Arnold Ap memetik dawai Mambesak, ia tidak sedang menghimpun senjata. Ia sedang memanggil kembali ingatan sebuah bangsa yang hampir dilupakan.

Namun, mengapa kebenaran lagu dan keindahan budaya justru disambut dengan timah panas di Pantai Base-G? Ia dibunuh bukan karena membawa bahaya, melainkan karena membawa nyala terang di tengah kegelapan pikiran.

​Lalu sejarah berulang pada sebuah malam di Hamadi. Theys Eluay melangkah memenuhi undangan, percaya bahwa dialog adalah jalan manusia bermartabat. Tapi takdir memeluknya di ujung maut.

Theys tidak pernah kembali pulang bersua istri dan anak-anaknya. Ia menuju rumah-Nya. Tokoh besar itu memenuhi panggilan Tuhan, sang Sabda dan Pemilik kehidupan.

Pada hari yang sama ketika sebuah universitas merayakan ulang tahunnya, seorang pemimpin bangsa kehilangan nafasnya. Satu rumah ilmu disambut pesta, satu jiwa perlawanan dikorbankan.

Tak Akan Memadamkan Kebenaran

Wahai para pemegang kekuasaan, dengarkanlah gema yang tersisa dari tanah ini. Pembunuhan atas tubuh mungkin bisa membungkam suara, tetapi ia tidak akan pernah bisa memadamkan kebenaran yang telah berakar di dada rakyat.

Ilmu yang memihak pada kekuasaan hanya akan melahirkan kesunyian yang menakutkan, tetapi ilmu yang setia pada kemanusiaan akan terus hidup, melampaui tembok-tembok penjara dan rentetan prasangka

Sudah terlalu lama Jakarta memandang Papua hanya melalui kalkulator modal dan kacamata keamanan yang dingin. Kedamaian sejati tidak akan pernah terbit dari sangkur yang dipaksakan atau hegemoni yang menindas.

Kedamaian hanya akan lahir bila ada keberanian moral untuk berhenti menjadikan darah rakyat sebagai pelumas ekonomi, serta kerendahan hati untuk mengakui luka dan keadilan sejarah. Kembalikan senyum anak-anak Papua yang terenggut, pulihkan kehormatan mereka, dan biarkan mereka bernapas tanpa dibayangi trauma kolonialisme bentuk baru.

Dengar dan rasakanlah dengan jiwa, sebelum segalanya terlambat. Selama ketidakadilan ini dipelihara dan nurani ditukar dengan numpuknya kekayaan elite, kalian sebenarnya sedang menimbun bara dalam sekam sejarah.

Jangan biarkan Indonesia tercatat dalam pustaka zaman sebagai negeri yang membesarkan dirinya dengan mengisap darah saudaranya sendiri di tanah Papua, nusa eksotif di uful timur negeri ini.

Cabutlah akar penjajahan itu, karena hanya dengan menjunjung tinggi kemanusiaan di atas kekuasaan, Papua akan menemukan damainya, dan Indonesia akan menemukan kembali jiwanya yang telah lama hilang. Semoga catatan ini afdol menguras sisa empati dalam nurani para pemimpin atas tanah Papua.