JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Jenazah Redaktur Pelaksana Tiffanews.co.id Merauke, Provinsi Papua Selatan Benyamin Tukan, Sabtu (9/5) sekitar pukul 12.00 WIB dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Rorotan, Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.
Sebelum dimakamkan diadakan Misa pelepasan jenazah di Rumah Sakit Sint Carolus, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. Misa dipimpin Pastor Dr Andreas Bernadinus Atawolo, OFM, imam Fransiskan dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta pukul 10.00 WIB.
Ratusan pelayat yang terdiri dari keluarga, kerabat, dan rekan-rekan wartawan menghadiri Misa pelepasan Bung Tukan —Benyamin Tukan—, jurnalis dan penulis yang lama mendedikasikan diri dalam jurnalistik di tanah Papua, khususnya Papua Selatan.
“Semasa hidup, Almarhum Ben Tukan bukan hanya dikenal sebagai wartawan dan penulis. Beliau juga aktif menulis, meneliti, dan mempublikasikan berbagai karyanya lewat Penerbit Tollelegi yang ia dirikan. Beliau membaktikan dirinya dalam dunia tulis-menulis dan kerja-kerja intelektual bagi sesama,” kata Pastor Andreas Atawolo dalam kotbahnya.
Dalam iman Katolik, kata Pastor Andreas, Almarhum akan masuk surga atas pengabdian dan dedikasi sebagai wartawan dan peneliti semasa hidup. Semangat juang Almarhum dalam menjadi warisan terindah bagi para wartawan dan peneliti dalam menunaikan tugas mereka.
Berto Tukan, ponakan Bung Tukan usai Misa pelepasan menyampaikan sekilas sosok Almarhum. Benjamin Tukan lahir 27 Januari 1973 di Larantuka, kota Kabupaten Flores Timur, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
Bung Tukan lahir sebagai bungsu dari 12 bersaudara pasangan suami-istri Lambetus Tukan dan Marselina Sinagula. Bung Tukan tamat Sekolah Dasar Katolik (SDK) Sarotari Larantuka tahun 1985.
Bung Tukan kemudian masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) Frateran Maumere dan tamat SMPK Santo Gabriel Maumere, Flores tahun 1988. Ia kemudian masuk hingga tamat SMA Santo Darius Larantuka tahun 1991.
Tahun 1995, Bung Tukan kuliah jurusan jurnalistik Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta hingga selesai tahun 1995. Usai merampungkan kuliah di IISIP ia mulai bekerja sebagai jurnalis dan bergabung dengan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta.
“Semasa hidup Bung Tukan juga menjadi editor dan mendirikan Penerbit Tollelegi Jakarta untuk membantu penerbitan buku-buku, termasuk buku-buku bertema Papua,” kata Berto Tukan.
Bung Tukan juga bukan sekadar seorang wartawan, penulis, editor, fasilitator, peneliti, publisher dan aktivis tetapi juga seorang organisator. Bung Tukan merintis Floresbangkit.com, media online pertama di Flores, mungkin NTT.
“Saat ini beliau menjawai wartawan tiffanews.co.id di Merauke, Provinsi Papua Selatan. Selain itu, ia juga mengurus Penerbit Tollelegi, Indonesia Parliamentary Center (IPC), dan Jurnal Timur,” ujar Berto, aktivis muda Jakarta.
Bung Tukan masuk dan menjalani perawatan di RS Sint Carolus pada Senin (4/5). Namun, pada Rabu (6/5) pukul 23.44 WIB ia memenuhi panggilan Tuhan, sang Sabda.
Bung Tukan menikah dengan gadis pilihannya, Theresia Ina Duran Botoor pada 27 Desember 2002. Dari pernikahannya, mereka dikaruniai tiga anak: Celine, Cello, dan Cella.
Perwakilan keluarga, Tarsis Lemba, usai saat prosesi pemakaman menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian selama Bung Tukan sakit hingga Tuhan memanggilnya.
Isak tangis mewarnai prosesi pemakaman Bung Tukan. Istri dan ketiga anak Almarhum dan kerabat tak kuasa menahan air mata. Putri bung Almarhum menitikkan air mata selama prosesi pemakaman ayahanda terkasih.
“Atas nama keluarga, saya menyampaikan terima kasih atas doa dan perhatian selama saudara kami, Bung Tukan selama ini. Kami juga menyampaikan terima kasih atas perhatian selama beliau sakit hingga menghembuskan nafas terakhir. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan ibu dan bapa sekalian,” kata Tarsis.
Di bibir Pantai Cilincing, lagu daerah Larantuka, Bale Nagi mengalun merdu dari pelayat sebagai bentuk perpisahan dengan Almarhum Bung Tukan. Selamat jalan, jurnalis hebat dan rendah hati. Damailah di sisi-Nya. (*)
Bale Nagi
Lia lampu menyala di Pante Uste – e
(Lihat, ada cahaya lampu di Pantai Uste)
Orang bekarang di angin sejo – e
(Nelayan sedang menangkap ikan di kesejukan angin malam)
Inga pa mo ema jao – e
(Terkenang Bapak Ibu nun jauh disana)
Inga ade mo kaka jao – e
(Terkenang juga para saudara)
Pengga ole ma wura lewa Tanjo Bunga – e
(Berlayar melintas Arus Ole dan Arus Wura meninggalkan Tanjung Bunga)
Malam embo ujan po rinte – e
(Malam berembun. Ada rintik hujan)
Tanjo Bunga meking jao – e
(Tanjung Bunga semakin jauh – menghilang)
Sinyo tedampa pi Nagi orang – e
(Akhirnya terdampar di negeri orang lain)
Reff :
Bale Nagi…Bale Nagi, Sinyo – e
(Pulanglah, pulanglah ke kampung/rumah)
No-e kendati nae bero – e
(Walaupun menggunakan sampan kecil nelayan)
Bale Nagi .. Bale Nagi Sinyo – e
(Pulanglah, pulanglah ke kampung/rumah)
No – e , kendati nae bero – e
(Walaupun menggunakan sampan kecil nelayan)










