NABIRE, ODIYAIWUU.com — Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah (UKM), Perindustrian, dan Perdagangan Provinsi Papua Tengah mendukung penuh kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat) pengembangan sumber daya manusia (SDM) generasi muda orang asli Papua dalam mengembangan potensi diri.
“Pihak Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah (UKM), Perindustrian, dan Perdagangan Papua Tengah sangat mendukung kegiatan diklat pengembangan SDM generasi muda putra-putri asli tanah Papua yang kami lakukan selama ini meski minim dukungan,” ujar Ketua Yayasan Pengembangan Talenta Papua Pastor Didimus Kosi, OFM di Nabire, kota Provinsi Papua Tengah, Kamis (15/4).
Menurut Pastor Didimus, kabar gembira itu diperoleh usai bertemu Kepala Bidang Perindustrian Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah (UKM), Perindustrian, dan Perdagangan Almince Mote, SP dan Kepala Seksi Perwilayahan dan Pemberdayaan Industri Kecil Menengah (IKM) Demianus Giay di Nabire, Kamis (15/4).
Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui dinas tersebut, lanjut Pastor Didimus, imam putra asli Papua dari Ordo Saudara Dina, akan memberikan perhatian khusus kepada generasi muda yang menganggur, putus sekolah, terbelit mengkonsumsi aibon, dan lain-lain.
“Banyak dari generasi muda orang asli Papua tidak punya lapangan kerja sehingga yayasan juga menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Mimika, Pemprov Papua Tengah, YPMAK dan gereja Keuskupan Timika melaksanak diklat pengembangan diri mereka,” kata Pastor Didimus lebih lanjut.
Selain itu, lanjut Pastor Didimus, diklat juga menyentuh aspek pengembangan ekonomi kreatif skala kecil, tataboga, pertukangan, mesin, listrik, pengelasan, pengembangan marketing dan kegiatan produktif lainnya sehingga kelak membantu mereka mandiri secara ekonomi.
“Setelah bertemu dengan pihak Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui dinas ini, mereka sangat mendukung kegiatan yayasan. Pemerintah daerah dan semua stakeholder memiliki semangat yang sama mendorong kemandiran generasi muda orang asli Papua melalui diklat yang kami lakukan selama ini. Kami sadar, generasi mudah Papua penentu masa depan dan hal itu memerlukan kerja kolaboratif,” ujar Pastor Didimus.
Selamat ini, lanjut Pastor Didimus, perhatian Pemerintah Kabupaten Mimika, DPRK Mimika, Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), lembaga pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia yang dibentuk sejak Desember 2019, masih sangat minim bahkan terkesan melupakan generasi muda tanah Papua di tengah gemerlap korporasi kelas dunia yang mengeksplorasi sumber daya alam (SDA) di wilayah adat tanah Amungsa, bumi Kamoro.
“Kami berdoa dan berharap agar perhatian Pemprov Papua Tengah melalui dinas ini terwujud sehingga banyak generasi muda orang asli Papua dibantu memiliki pengetahuan dan ketrampilan agar mandiri secara personal bahkan kolektif di atas tanah leluhurnya. Kami yakin, pemerintah masih punya hati untuk generasi muda Papua yang kurang beruntung,” ujar Pastor Didimus.
Pastor Didimus, mengakui, pengalaman hidup sebagai seorang anak asli Papua sekaligus anggota Ordo Saudara Dina menggerakkan hatinya untuk menyapa dan ‘memeluk’ setiap anak yang terlantar dan terabaikan.
Anak-anak asli tanah Papua yang termarginalkan di tanah leluhurnya di hadapan PT Freeport Indonesia, anak usaha raksasa tambang dunia Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc di Arizona, Amerika Serikat. Wajah anak-anak asli Papua yang dilihat itu ibarat wajah Yesus yang tersalib di palang penghinaan. Kegelisahan seolah mendera batin imam Fransiskan ini.
“Di dalam diri setiap anak yang terlantar, saya melihat dan menemukan wajah Yesus yang tersalib. Pengalaman spiritual bersama Tuhan Yesus dan Bunda Maria menggerakkan saya untuk memberikan perhatian kepada anak-anak terlantar dan terlupakan, anak-anak yang putus sekolah, yang ada di tanah Papua, secara khusus di Mimika,” kata Pastor Didimus.
Mengapa imam Saudara Dina ini terpanggil ambil bagian dalam kegelisahan anak-anak asli tanah Papua, ada jawaban di balik itu. Bagi Pastor Didimus, anak-anak adalah harapan masa depan suatu bangsa. Anak-anak juga merupakan harapan Gereja. Pada anak-anak terletak hidup atau matinya suatu generasi suku, bangsa dan Gereja.
“Maka, seyogianya anak-anak sejak usia dini, bahkan sejak di dalam rahim mamanya mendapatkan perhatian serius. Ironisnya, di tanah Papua, secara khusus di Mimika masih banyak anak putus sekolah dan terlantar. Mereka adalah anak-anak Tuhan sekaligus merupakan anak-anak dari negara Indonesia yang kita cintai ini,” katanya.
Secara pribadi, ia bersama rekan-rekan yang mengelola yayasan ini mengalami perjumpaan dengan anak-anak yang putus sekolah dan terlantar di Mimika. Mereka berasal dari stasi Santo Agustinus, Paroki Santo Stefanus Sempan, Keuskupan Timika, tahun 2016. Perjumpaan itu membuat imam ini dan pengurus yayasan gelisa.
“Kenyataan itu mendorong kami berpikir keras, bagaimana cara untuk memberikan perhatian kepada anak-anak terlantar itu? Mereka yang putus sekolah, isap lem aibon, konsumsi minuman keras, narkoba, seks bebas dan lain-lain. Kami berpikir bagaimana caranya agar anak-anak putus sekolah dan terlantar ini memiliki masa depan yang baik? Itulah sejumlah pertanyaan yang terus merasuk benak kami,” ujarnya.
Menurutnya, anak-anak yang didampingi semakin hari semakin bertambah jumlahnya. maka ia bersama rekan-rekannya berpikir perlu ada sebuah lembaga. Lembaga ini memberikan perhatian kepada anak-anak putus sekolah dan terlantar di Mimika. Melalui sejumlah pertemuan dengan orang-orang baik, yang memiliki hati untuk anak-anak di Mimika, di antara Abrahan Timang, dan kawan-kawannya yayasan ini lahir. (*)










