Herwin Meiliantina Wanggai Luncurkan Buku Karyanya Berjudul Mama Noken: The Spirit of Noken

Penulis Herwin Meiliantina Wanggai, SIP, M.Pd saat peluncuran buku karyanya berjudul Mama Noken: The Spirit of Noken di Aryaduta Hotel, Tugu Tani, Jakarta Pusat, Sabtu (6/6). Saat peluncuran, Herwin Wanggai didampingi suaminya, Dr Velix Vernando Wanggai, SIP, MPA dan sejumlah tokoh nasional serta tamu undangan dari berbagai kalangan. Sumber foto: Instagram @ingrid_kansil

JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Kecintaan dan penghargaan Herwin Meiliantina Wanggai, SIP, M.Pd terhadap noken (tas tradisional Papua) rajutan mama-mama Papua berujung lahir buku berjudul Mama Noken: The Spirit of Noken.

Buku karya intelektual Herwin Meiliantina Wanggai, istri Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua Dr Velix Vernando Wanggai, SIP, MPA, Sabtu (6/6) diluncurkan di Aryaduta Hotel, Tugu Tani, Jakarta Pusat.

Buku ini tidak sekadar bercerita tentang noken sebagai warisan budaya Papua, tetapi juga tentang perempuan-perempuan Papua yang menjaga kehidupan, merawat nilai-nilai luhur, dan mewariskan harapan kepada generasi berikutnya.

Menurut Herwin Wanggai, buku karyanya itu lahir dari cinta dan kepedulian untuk memastikan bahwa jati diri Papua tetap hidup di tengah perubahan zaman. Karya ini juga menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang angka dan infrastruktur, tetapi juga tentang menjaga nilai, budaya, dan kemanusiaan.

“Buku Mama Noken: The Spirit of Noken mengajarkan bahwa kemajuan tidak berarti meninggalkan identitas. Justru bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membawa akar budayanya melangkah bersama menuju masa depan,” ujar Herwin Wanggai.

Acara peluncuran dihadiri juga sejumlah tokoh nasional seperti Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Bahlil Lahadalia, Wakil Menteri Dalam Negeri Yane Ardian, dan Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi.

Selain itu, Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta, Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Nanny Hadi Tjahjanto serta tokoh perempuan seperti Pengusaha perempuan terkenal di Indonesia Dr Hj. Cri Puspa Dewi Motik, MA, M.Si dan mantan anggota DPR RI Ingrid Kansil.

Melalui buku karyanya tersebut, Herwin Wanggai menghadirkan suara mama-mama Papua yang selama ini bekerja dalam diam. Mama-mama Papua setia menjaga budaya, menguatkan keluarga, dan menjadi fondasi ketahanan masyarakat bumi Cenderawasih.

Acara peluncuran buku ini sekaligus menjadi momen penting dalam mengapresiasi peran perempuan Papua yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga dan penjaga tradisi.

Mama-mama Papua dinilai memiliki kontribusi besar dalam merawat budaya noken yang telah diakui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco) sebagai Intangible Cultural Heritage atau Warisan Budaya Takbenda sejak 2012.

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (Ipemi) periode 2025-2030 Ingrid Kansil saat menghadiri peluncuran buku Mama Noken: The Spirit of Noken mengatakan, buku tersebut bukan sekadar karya literasi namun dokumen berharga terntang peran perempuan Papua dalam menjaga budaya.

“Menurut saya buku ini tidak hanya menjadi karya literasi, tetapi juga dokumentasi berharga tentang peran, perjuangan, dan ketangguhan perempuan Papua dalam menjaga budaya, keluarga, dan kehidupan sosial masyarakat,” ujar Ingrid Kansil melalui akun Instagram, @ingrid_kansil di Jakarta, Sabtu (6/6).

Ingrid menambahkan, melalui buku ini, kita memahami bahwa noken bukan sekadar kerajinan tradisional, melainkan simbol identitas, kearifan lokal, dan semangat hidup masyarakat Papua. Kisah-kisah di dalamnya menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mencintai dan melestarikan warisan budaya bangsa.

“Saya berharap buku Mama Noken: The Spirit of Noken menjadi sumber pengetahuan, motivasi, dan refleksi tentang pentingnya peran perempuan dalam pembangunan dan pelestarian budaya. Selamat atas peluncuran buku ini, semoga membawa manfaat luas dan menjadi jejak literasi yang berharga bagi Indonesia,” kata Ingrid.

Jesse Temata, seorang peserta yang hadir saat peluncuran juga berharap agar buku tersebut memberikan dampak positif bagi karya noken yang telah dihasilkan mama-mama di kawasan Papua Pegunungan.

“Selamat untuk kaka Herwin Wanggai yang malam (Sabtu, 6/6) ini meluncurkan buku Mama Noken: The Spirit of Noken. Selamat dan terima kasih juga untuk kaka Velix Wanggai yang sudah bertemu malam ini. Semoga ke depan bisa berkolaborasi kembali untuk promosi Papua,” kata Jesse melalui akun Instagram, @jesse_temata, Sabtu (6/6).

Tak hanya menulis buku terkait noken. Jauh sebelumnya, termasuk saat mendampingi suami, Velix Wanggai sebagai Penjabat Gubernur Papua Pegunungan, Herwin Wanggai selaku Ketua TP PKK selalu tampil anggun mengenakan noken hasil kerajinan khas Papua Pegunungan di kepala.

Pada momen Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI di Nangroe Aceh Darussalam tahun 2024, Herwin Wanggai memperkenalkan budaya Papua Pegunungan. Penampilan saat itu terlihat sejak kedatangannya ke Aceh hingga momen kejuaraan Angkat Besi PON XXI yang berlangsung di GOR Angkat Besi Seuramoe, Kompleks Stadion Harapan Bangsa, Sabtu (7/9/2024) malam.

Kehadiran Herwin Wanggai mengenakan noken di kepalanya terlihat anggun dan mencuri perhatian bagi masyaraka Serambi Mekkah tetapi juga para pendukung cabang olahraga (cabor) angkat besi yang datang dari berbagai provinsi di indonesia.

Penampilan Herwin Wanggai tersebut merupakan bagian dari memperkenalkan budaya Papua Pegunungan kepada Indonesia pada momen agenda nasional atau PON XXI di Aceh. Selain memperkenalkan budaya Papua Pegunungan, penampilan Herwin Wanggai juga memberikan pesan penting untuk terus mencintai budaya.

Sekedar tambahan, noken adalah tas tradisional masyarakat Papua Pegunungan yang dibawa dengan menggunakan kepala, khusus kaum wanita dan terbuat dari serat kulit kayu. Sama dengan tas pada umumnya, tas ini digunakan untuk membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat Lapago (Papua Pegunungan) biasanya menggunakan noken untuk membawa hasil-hasil pertanian seperti sayuran, umbi-umbian dan juga untuk membawa barang-barang dagangan ke pasar. Noken juga biasa digunakan untuk mengisi anak kecil, sehingga merupakan simbol kehidupan bagi masyarakat Papua Pegunungan.

Noken kemudian didaftarkan ke Unesco sebagai salah satu hasil karya tradisional dan warisan kebudayaan dunia pada 4 Desember 2012. Noken juga ditetapkan sebagai Intangible Cultural Heritage di Unesco, Prancis. (*)