DAERAH  

Banyak Gereja dan Sinode Tumbuh Subur di Papua Karena Ada Dana Otsus Tapi Alpa Suara Profetis

Tokoh Gereja di tanah Papua Gembala Dr Socratez Sofyan Yoman, MA. Foto: Istimewa

JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Tokoh Gereja di tanah Papua Gembala Dr Socratez Sofyan Yoman, MA angkat bicara perihal banyaknya gereja dan sinode di tanah Papua, termasuk peran kenabian atau profetis gereja melalui para pemimpinnya.

Socratez menilai, masalah mendasar yang dihadapi umat Kristiani di tanah Papua bukan kehadiran gereja atau sinode besar maupun kecil. Masalahnya, kehadiran gereja atau sinode seperti jamur di musim hujan karena ada kucuran dana otonomi khusus (otsus) Papua.

“Bukan masalah gereja kecil dan gereja besar, tapi masalah mendasar di Papua Barat saat ini adalah banyak gereja atau banyak sinode tumbuh seperti jamur,” ujar Gembala Socratez di Jayapura, Papua, Selasa (27/10).

Socratez menegaskan, kehadiran banyak gereja maupun sinode di tanah Papua karena ada dana bantuan keagamaan otonomi khusus dari pemerintah. Sayangnya, lanjut Socratez, gereja-gereja dan sinode seperti ini alpa dalam menyampaikan suara kenabian, profetis terhadap berbagai tindak kejahatan kemanusiaan dan ketidakadilan di atas tanah Papua.

Menurut Socratez, keberadaan gereja maupun sionode seharusnya tidak hanya diukur dari pertumbuhan organisasi, pembangunan gedung maupun dukungan anggaran.

Namun, lebih dari itu, gereja memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menyuarakan kebenaran serta memperjuangkan keadilan bagi masyarakat. Ia juga menyoroti sikap gereja dan sinode yang dinilainya belum memainkan peran kenabian memadai dalam menanggapi atau respons persoalan kemanusiaan di tanah Papua.

“Gereja-gereja dan sinode seperti ini alpa dalam suara kenabian untuk kejahatan kemanusiaan dan ketidakadilan di atas tanah ini,” kata Socratez, yang juga Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP).

Pernyataan tersebut menempatkan fungsi kenabian sebagai persoalan penting dalam kehidupan bergereja di Papua Barat. Dalam perspektif tersebut, diakui Socratez, gereja tidak hanya dipanggil untuk menjalankan pelayanan keagamaan.

“Gereja melalui para pemimpin harus tampil menyuarakan kebenaran, membela martabat manusia, dan memberikan perhatian terhadap berbagai bentuk ketidakadilan,” kata Socratez,

Kritik Socratez menjadi pengingat bahwa pertumbuhan kelembagaan gereja perlu berjalan seiring dengan pelaksanaan tanggung jawab moral, sosial, dan spiritualnya di tenhah masyarakata.

Gembala yang juga penulis buku produktif terkait papua menambahkan, dukungan pemerintah terhadap kehidupan keagamaan juga menjadi perhatian, terutama ketika dikaitkan dengan independensi gereja dalam menjalankan misi pelayanannya. (*)