JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Uskup Keuskupan Jayapura Mgr Dr Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr, Minggu (26/10) mempersembahkan Misa Syukur 25 Tahun Imamat Suci Pastor Yohanes Djonga, Pr di Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Koya Barat, Dekanat Jayapura, Keuskupan Jayapura, Papua.
Misa dan perayaan syukur Pastor John Djonga, imam Keuskupan Jayapura dan pejuang hak asasi manusia (HAM) Papua tersebut dihadiri ribuan umat Katolik dari berbagai paroki baik dari Dekanat Jayapura, Keerom, Pegunungan Tengah, Pegunungan Bintang di Keuskupan Jayapura maupun keuskupan lain di tanah Papua.
Selain umat Katolik, perayaan syukur 25 tahun imamat Pastor John, imam penerima Penghargaan Yap Thiam Hien Award tahun 1999, dihadiri pula perwakilan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua, Pemerintah Kota Jayapura, Pemerintah Kabupaten Keerom, dan Pemerintah Kota Jayapura, umat Katolik dan warga asal Nusa Tenggara Timur (NTT) serta para kolega jubilaris.
Uskup Jayapura Mgr Matopai dalam kotbahnya mengatakan, umat Katolik yang hadir dalam Misa tersebut bukan sekadar merayakan hari Tuhan, tetapi juga merayakan 25 Tahun Imamat Suci Pastor Yohanes Jonga, Pr, imam kelahiran Kampung Nunur, Desa Mbengan, Kabupaten Manggarai Timur, Pulau Flores, NTT.
Misa dan Perayaan Syukur 25 Tahun Imamat Suci Pastor John, Mgr Matopai, Uskup pertama putra asli Papua kelahiran 1 Januari 1961 di Kampung Uwebutu, pinggiran Danau Taage, Paniai, Keuskupan Timika, Papua Tengah, mestinya dirayakan pada 14 Oktober lalu.
Namun, oleh karena satu dan hal lain, demikian Uskup Matopai, sehingga baru dirayakan pada Minggu 25 Oktober 2026. Sang Uskup menyebut Pastor John sebagai imam pekerja keras dan mudah bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat selama menjadi katekis hingga ditahbiskan lalu mengabdi di Tengah umat dan rakyat Papua.
“John Jonga suka bergaul dengan sembarang orang. Tidak hanya memilih orang besar saja, tapi juga orang–orang kecil, pejabat, kaya atau miskin. Dia memilih semua orang sebagai sahabatnya. John tidak tinggal di kota, tapi dia memilih tinggal di Koya dengan orang-orang Papua sebagai sahabatnya,” ujar Mgr Matopai, Uskup putra pasangan suami-istri ‘Profesor’ Lukas You dan ibu rumah tangga Rosalina Tatogo.
RD Yohanes Jonga mulai berkarya sebagai imam Projo atau Diosesan di tanah Papua setelah ditahbiskan menjadi imam, pelayan Sabda pada 14 Oktober 2001 di Gereja Katolik Santo Fransiskus Asisi APO.
Tampil sebagai penahbis yaitu Uskup Keuskupan Jayapura Mgr Dr Leo Laba Ladjar, OFM. Pastor John Djonga mengambil motto tahbisan, Kamu adalah Sahabat–Ku (Yoh 15:14). Ziarah perutusan John Djonga sebagai pelayan Sabda di bumi Cenderawasih dijalani penuh syukur hingga memasuki 25 tahun pada 14 Oktober 2026.
“Selama 25 tahun bertugas sebagai imam, John Djonga tidak hanya bertugas di satu paroki. John bertugas berpindah–pindah dari satu paroki ke paroki lain di wilayah Keuskupan Jayapura seperti Paroki Santo Mikhael Waris di Wamena dan Yahukimo di Papua Pegunungan,” kata Uskup Matopai.
Pastor John Djonga meninggalkan tanah kelahiran Nunur, Mbengan, Pulau lalu menjejakkan kaki di tanah Papua pada 1986. Ia tiba di Paroki Santo Stefanus Kimbia Lembah Baliem Wamena dan berpindah–pindah tempat tugas.
Pastor John Djonga dikenal pula sebagai imam-aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) ketimbang seorang pastor Katolik. Ia aktif pula mengadvokasi hak-hak masyarakat sipil (civil society) dan selalu bertugas di wilayah–wilayah yang kerap dilabeli “daerah merah”.
Tapi John Jonga tidak pernah takut dan selalu bersuara lantang atas berbagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di tanah Papua tanpa memandang siapa pelaku.
Menurut Uskup Matopai, selama masa tugasnya sebagai imam, John Djonga bertugas di tempat terpencil dan hidup bersama orang Papua dengan penuh tantangan dan keterbatasan sebagai sahabatnya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada sesama manusia di bidang HAM dan perjuangan tentang kesetaraan gender.
“Akhirnya, Uskup Jayapura Mgr Leo Laba Ladjar menjuluki John Jonga dengan pastor perempuan, bukan pastor bencong. John Djonga berjuang di bidang penegakan HAM dan kesetaraan gender,” ujar Uskup Matopai.
Menurut Uskup Matopai, John Djnga juga tidak hanya berkata–kata dengan suara lantang tetapi juga terlihat melalui tulisan. Semangat perjuangannya terus berjalan sampai hari ini di tengah orang–orang kecil, orang–orang Papua sebagai sahabatnya.
“Saya baru tahu dan merasakan bagaimana Pastor John Djonga memperjuangkan hak–hak orang kecil, bukan hanya orang Papua, tapi juga hak semua orang dari berbagai suku yang datang hidup di tanah Papua,” kata Uskup Matopai.
Mgr Matopai mengajak umat Katolik bahwa sebagai sahabat Yesus, kita harus hidup saling mengasihi sebagai sesama manusia. Allah meminta kita untuk saling mengasihi kepada sesama, orang–orang miskin, orang–orang kecil dan orang–orang sengsara dan orang–orang difabel.
Uskup Matopai mengatakan, 25 tahun ziarah pelayanan Pastor John Jonga adalah bukti bahwa firman Allah benar–benar hidup di tengah–tengah umat-Nya. Yesus mengatakan, ‘Inilah perintah-Ku kepadamu agar kamu saling mengasihi’.
Itulah dibuktikan Tuang (Pastor, dalam bahasa Manggarai) John Jonga selama 25 tahun hidup sebagai imam Tuhan di tanah Papua. Namun, ada pengalaman menarik. Tahun 2007 saat membantu warga Papua di perbatasan Kabupaten Keerom ia sempat mendapat ancaman akan dihabisi dan dikubur sedalam 700 meter.
Ancaman tersebut muncul karena Pastor John menyuarakan hak-hak warga Papua yang mengalami intimidasi dan perlakuan diskriminatif. Bahkan ia selalu protes saat apparat melakukan kekeliruan dalam menembak warga sipil hingga tewas.
Perjuangan panjang dan kegigihan dalam melakukan pendampingan kepada warga tanah Papua mengantar Pastor John Djonga meraih penghargaan bergengsi di bidang HAM, Yap Thiam Hien tahun 1999.
Penghargaan bergengsi di Indonesia itu diberikan kepada Pastor John Djinga karena dinilai berjasa besar dalam penegakan HAM, khususnya masyarakat bumi Cenderawasih. Selamat Merayakan 25 Tahun Imamat Suci, Tuang John Djonga. Mori sembeng (Tuhan berkati). (*)










