Oleh Paskalis Kossay
Politisi Senior Papua
MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia Bahlil Lahadalia kembali mencatatkan sebuah prestasi membanggakan. Bahlil dipercaya menjadi Menko Hilirisasi dan Energi merangkap jabatan Menteri ESDM.
Pelantikan Menko Hilirisasi dan Energi bersamaan dengan pelantikan Kapolri baru dan pejabat kementerian/lembaga lainnya hasil reshuffle yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto, Kamis (1/10) di Istana Negara, Jakarta.
Pengangkatan Bahlil Lahadalia sebagai Menko Hilirisasi dan Energi ini cukup menarik perhatian publik. Perjalanan karier Bahlil yang datang dari kampung terpencil jauh di ufuk timur nusantara bisa bersinar di panggung politik nasional dan internasional.
Siapa sebenarnya sosok Bahlil Lahadalia? Ia sering mengaku diri anak kampung. Jika elit politik di Jakarta biasanya mengaku lahir di Menteng, Kuningan, atau Pondok Indah, tetapi Bahlil tidak demikian. Ia selalu mengaku lahir dari kole-kole, sebuah kampung kecil di Fakfak, Papua Barat.
Ayahnya buruh bangunan. Ibunya tukang cuci di rumah tetangga. Pengalaman hidup panjang cukup memrihatinkan. Untuk sekolah ke Jayapura satu-satunya kota provinsi di Papua saat itu, ia harus menjadi kondektur dan sopir angkot.
Kisah inilah yang membuat Bahlil selalu berkata, “saya ini bukan anak Menteng. Saya anak kampung.” Namun justru dari identitas “anak kampung” prestasinya membanggakan jika diukur secara nasional maupun internasional.
Apa saja prestasi yang ditorehkan Bahlil, sehingga masih dipercayakan oleh negara mengemban jabatan yang bersifat vital dan strategis nasional. Berikut dirunut prestasi Bahlil dibidang Energi dan Sumber Daya Mineral dalam konteks nasional dan internasional.
Prestasi Nasional: Menjaga Dapur Ekonomi Nasional
Prestasi pertama Bahlil tercatat saat ia dipercaya menjadi Menteri Investasi/Kepala BKPM pertama di era Presiden Jokowi (2019-2024). Saat itu target investasi sedang lesu akibat Covid-19.
Di tangannya, realisasi investasi melonjak dari sekitar Rp 809 triliun pada 2020 menjadi Rp 1.418,9 triliun pada 2023 atau 101,3 pesrsen dari target nasional. Di mata publik kebijakan dia sering dianggap kontroversial, namun dampak hirilisasi sumber daya energi nasional cukup menentuh kebutuhan nasional.
Kebijakan lain yang ditorehkan Bahlil adalah melarang ekspor bijih nikel mentah, sehingga harus digugat Uni Eropa di WTO, tapi Bahlil tetap bertahan. Hasilnya hari ini Indonesia menguasai lebih dari 50 persen pasokan nikel olahan dunia dan menjadi basis industri baterai kendaraan listrik.
Prestasi berikut berlanjut di Kementerian ESDM. Selama 17 tahun lifting minyak Indonesia tidak pernah mencapai target APBN. Pada 2025 di bawah kepemimpinan Bahlil, lifting mencapai 605.000 barel per hari, sesuai target APBN. Demikian pula PNBP sektor ESDM tercatat Rp 243, 41 triliun. Prestasi yang membanggakan.
Ia juga menerbitkan Permen ESDM Nomor 14 tahun 2025 yang melegalkan sumur minyak rakyat, sebuah keberpihakan nyata yang selama puluhan tahun dianggap illegal. Namun, saat ini boleh dikelola masyarakat untuk menghidupi ribuan warga.
Bagi Bahlil, energi bukan soal megawatt, tetapi soal keadilan. Sehingga ia berkomitmen jelas, listrik harus sampai kekampung-kampung seperti kampungnya masa lalu.
Dari Objek Menjadi Subjek
Di level internasional nama Bahlil mulai diperhitungkan bukan sebagai pengusaha, tetapi sebagai seorang Menteri penjaga ketahanan energi. Pada April 2026, laporan bergengsi JP Morgan Asset Management “Eye on the Market” menempatkan Indonesia sebagai negara peringkat kedua dunia dalam ketahanan energi, di bawah Afrika Selatan dan mengungguli China, di antara 52 negara konsumen energi terbesar.
Capaian ini dinilai karena cadangan batu bara, produksi migas yang kembali naik, dan potensi EBT yang besar. Ini adalah pengakuan internasional yang tidak pernah didapat Indonesia selama satu dekade terakhir.
Selain itu selama kepemimpinan Bahlil, diplomasi energinya juga mulai berbalik. Jika dulu kita justru mendatangi Singapura untuk belajar, tetapi pada Juni 2025, Bahlil menandatangani MoU energi bersih dengan Singapura di Parliament House.
Indonesia akan mengekspor listrik bersih dan mengembangkan teknologi Carbon Capture and Stroge (CCS) lintas batas. Dunia mulai melihat Indonesia bukan lagi sekadar pengekspor bahan mentah, akan tetapi Indonesia sudah menjadi pengekspor energi hijau. Semua terjadi dalam pengelolaan di bawah Menteri Bahlil.
Satu hal prestasi yang dibanggakan lagi adalah negosiasi alot dalam merebut investasi Freeport hingga saham Indonesia menjadi 61-63 pesren dan komitmen investasi hulu migas senilai 31,7 miliar dollar AS menunjukkan bukti nyata model negosiasi ala “anak kampung”, keras di meja perundingan tetapi tetap membuka pintu bagi kepentingan nasional.
Itulah segudang prestasi seorang anak kampung yang tengah menjadi bintang dipanggung politik nasional dan internasional. Tentu saja semua kebijakan Bahlil bukan tanpa dikritik.
Memang gaya kepemimpinannya yang ceplas-ceplos, dianggap kebijakannya terburu-buru. Padahal, ia banyak menghasilkan terobosan baru sehinga negara masih membutuhkan dedikasi nyata seorang Bahlil.
Dalam konteks Indonesia yang masih bergulat dengan ketimpangan Jawa-luar Jawa, kisah Bahlil adalah bukti bahwa ia mampu mempertanggung jawabkan seluruh kemampuannya untuk kepentingan bangsa dan negara di bidang eneri dan sumber daya mineral.
Sebetulnya Bahlil bukan lulusan Perguruan Tinggi ternama seperti ITB atau UI. Ia hanya lulusan perguruan tinggi lokal di Jayapura. Dari anak kampung yang jualan kue, tapi tak heran sekarang menjadi Menteri ESDM.
Bahkan didaulat menjadi Menko Hilirisasi dan Energi, sebuah prestasi yang sangat dibanggakan publik. Ia berkomitmen menjaga lampu tetap menyala untuk 280 juta rakyat Indonesia. Kini kiprahnya diperhitungkan forum energi dunia internasional.









