TIMIKA, ODIYAIWUU.com — Ratusan orang yang diprakarsai Asosiasi Pencari Kerja Lokal Cartensz Mimika (Apelcami) memadati Bundaran Timika Indah, Timika, kota Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, Selasa (4/8) malam. Mereka berbaur di tengah malam yang hening, khusuk dan larut dalam doa.
Mereka menyalakan lilin di tangan mengenang tujuh tahun berpulangnya Uskup pertama Keuskupan Timika Mgr John Philip Saklil, Pr. Mendiang Uskup Saklil dikenal sebagai sosok gembala yang dekat dengan umat, kaum kecil, dan masyarakat Papua.
Aksi yang berlangsung mulai pukul 19.00–20.30 WIT mengusung seruan Tungku Api Tetap Menyala. Seruan itu dimaknai sebagai ajakan untuk menyalakan kembali semangat kasih, persaudaraan, persatuan, dan kepedulian sosial bagi tanah Papua.
Ketua Apelcami Geelvin Kaviar mengatakan, aksi tersebut bukan sekadar mengenang mendiang Uskup Saklil sebagai gembala dan tokoh gereja Katolik. Namun, lebih dari itu aksi tersebut menjadi ruang doa sekaligus refleksi bagi generasi muda dan para pencari kerja lokal di Mimika.
“Kami ingin semangat Bapak Uskup John Philip Saklil tetap hidup di tengah masyarakat. Bapa Uskup selalu mengajarkan kasih, persaudaraan, dan perhatian kepada orang kecil. Karena itu kami menyerukan agar tungku api itu jangan padam,” ujar Geelvin Kaviar mengutip keuskupantimika.org di Timika, Papua Tengah, Selasa (4/8) malam.
Menurut Geelvin, saat ini Apelcami beranggotakan sekitar 6.000, yang merupakan para pencari kerja lokal. Ia berharap agar semangat yang dibangun melalui aksi seribu lilin dapat mendorong para pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun dunia usaha untuk menghadirkan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih berpihak kepada masyarakat lokal Papua.
“Harapan kami sederhana, agar ada kebijakan yang lebih memprioritaskan pencari kerja lokal, khususnya orang asli Papua dan masyarakat yang sudah lama tinggal di Mimika,” kata Geelvin lebih lanjut.
Selain menyalakan lilin, peserta juga mengheningkan cipta dan memanjatkan doa bersama untuk kedamaian Papua serta bagi para pencari kerja yang masih menantikan kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak.
Bagi banyak umat Katolik di Keuskupan Timika, mendiang Uskup John Saklil adalah gembala yang menaruh perhatian besar pada pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan dialog damai. Dalam berbagai kesempatan semasa hidupnya, ia kerap mengajak umat untuk membangun Papua dengan semangat persaudaraan dan menghindari perpecahan.
Seruan Tungku Api Tetap Menyala yang diangkat asosiasi dinilai sejalan dengan warisan pastoral yaitu menjaga api harapan agar tetap menyala di tengah tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat.
Aksi ini juga berlangsung di tengah masih kuatnya perhatian publik terhadap persoalan ketenagakerjaan di Mimika. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Mimika pada Agustus 2025 mencapai 6,75 persen.
Sekitar 10.470 orang menganggur dari total angkatan kerja sekitar 155 ribu orang. BPS menegaskan, angka resmi tahun 2026 belum dirilis karena Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) tahun 2026 belum dipublikasikan.
BPS juga mencatat, lebih dari 56 persen penduduk bekerja di sektor informal. Sementara pekerja di Mimika didominasi lulusan SMA atau sederajat. Kondisi ini menunjukkan, tantangan ketenagakerjaan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lapangan kerja, tetapi kualitas dan kecocokan keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan industri.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika sebelumnya menetapkan pengurangan pengangguran dan kemiskinan sebagai isu strategis pembangunan daerah. Salah satu tantangan yang sering disebut ialah tingginya arus pencari kerja dari luar daerah yang turut mempengaruhi persaingan di pasar kerja lokal.
Dalam beberapa bulan terakhir, berbagai kelompok pencari kerja (pencaker) lokal di Mimika juga terus menyuarakan perlunya pendataan yang lebih akurat, peningkatan pelatihan kerja serta pengawasan terhadap penempatan tenaga kerja agar masyarakat lokal memperoleh akses yang lebih adil terhadap peluang kerja.
Menjelang akhir kegiatan, nyala lilin yang memenuhi bundaran membentuk pemandangan yang menyentuh. Di tengah gelap malam para peserta berdiri dalam keheningan sambil membawa harapan agar Papua tetap dipersatukan oleh kasih dan keadilan sosial.
Bagi asosiasi, aksi ini bukan akhir tetapi pengingat bahwa perjuangan untuk martabat manusia, persaudaraan, dan kesempatan kerja yang lebih adil harus terus dijaga.
“Tungku api itu harus tetap menyala, bukan hanya di tangan kami, tetapi juga di hati semua orang yang mencintai Papua,” ujar Geelvin. (*)










