Doa yang Tertahan di Atakore dan Leragere
Semoga tiada mata yang serakah menodaimu
Tiada tangan nakal yang merusak asrimu
dan tiada niat tangan jail melukai tanah
dan alam nan indah di Atakore dan Leragere
Begitulah isi hati dan kisah sang ‘ksatria baja hitam’ dari tanah Papua
yang menyusuri setiap sudut keindahan—
dari megahnya cakrawala hingga sucinya
Alam perawan Bukit Cinta dan Bukit Doa lalu doaku: aku kan kembali lagi
Dari Atakore, Atadei, doa ini juga terdaras:
Tuhan, lindungi dan beri nikmat sehat selamanya
Untuk sang gembala dan guru kami, Mgr Dr Leo Laba Ladjar OFM
Di usianya yang sudah sepuh ia bertabur berkat
Gita Lorong Zaman dari Bukit Cinta
Alam tanah Lembata, pesona jantung Lewoleba di sisi Bukit Cinta
Dusun Riang Dua yang hening dalam tasbih sunyi
Pesona pulau mungil: Solor dan Adonara dari bibir Bukit Cinta
Kau bukanlah tanah terasing bagi musafir dari bumi Cenderawasih
Kau tak lebih guratan abadi di lorong-lorong sejarah nurani
Ruang-ruangmu dilingkari pesona, di mana ribuan pasang mata berziarah
Lalu jutaan sukma terhempas, tertunduk oleh pukulan angin cinta yang megah
Lembata, kau tak lagi terjamah oleh hitungan kata
Kemolekan bukit-bukitmu menari dalam simfoni
Spot wisata merajuk rindu dan eloknya Bukit Cinta
menyala di dada setiap peziarah, membakar kenangan
menjadi ukiran abadi yang menempel rapat di dinding jiwa
Lukisan agung Sang Khalik terhampar tanpa cela
tiap lembar sejarahmu basah oleh embun kekaguman
Kau menjadi buah bibir yang menolak reda
disentuh kesejukan angin gunung dan ditenangkan dekap samudra
Ia terekam bukan sekadar di dalam kotak lensa modern nan fana
melainkan terpahat kukuh di relung terdalam sanubari
sebagai kekasih yang takkan pernah lekang oleh gerus memori
Dikau Memelukku Dalam Pesona
Ketika sang ksatria dari ufuk timur tanah Papua
—Satria Yan Margono— menjejakkan raga
Langit menyambut dengan biru terangnya
memeluk bumi tanpa jeda di tanah para lamafa (juru tikam paus)
Ombak mendaratkan salam lewat deburan riuh di lambung Kapal Maria
Sementara dedaunan hijau menari, menggeliat kian kemari
Menyongsong kedatangan sang pengembara
dari tanah fajar pertama kali menyingsing
Engkau menyapa peziarahanku dengan lembaran fakta yang nyata;
Lembata, sejauh mata memandang, adalah hamparan keajaiban
Aku menyapa, dan kau menyambut dengan senyuman jiwa
yang takkan pernah pupus digerus nusa para pelayan Sabda
Laut Lamalera yang garang di beranda bibir Laut Sawu
Gunung Ile Lewotolok yang perkasa
Pantai Waijarang, Bukit Doa dan Bukit Cinta
Hingga Pantai Bean di kaki Uyelewun yang menyedot cinta para misionaris asing
Semuanya berbisik mesra, tak sanggup kubalas hanya dengan dekap dada
Di luar adat dan kebudayaan yang luhur
Kau adalah nusa mempesona yang dipeluk buih lautan
Bermahkotakan pasir dengan sejuta rona dan rupa
Ingatan membentang: pasir kemerahan bagai tetesan darah
Pasir putih di Mingar bagai serpihan salju di puncak sunyi
Semua bernyanyi, mengikuti irama agung Sang Pelukis Abadi
Aku terbuai, tenggelam dalam malam penuh impian,
Menatap gugusan bukit yang berbaris manja memanjakan pandang
Ziarah panjang dan melelahkan membenam dalam jiwa
Kala menyusuri jalanan menuju Loang, kota jumbo di selatan
Menyibak rimbun bukit hijau yang menyejukan peluh di raga
Ada tebing batu yang setia berdiri kokoh di Lewopenutung-Warawatu
Menantang amukan ombak berpuluh-puluh windu kiriman dari Laut Sawu
Di bawahnya, gua-gua karang membentang bisu
tempat para nelayan merebahkan lelah usai menjaring ikan
Di sepanjang jalan yang lengang
ditemani pohon-pohon rindang yang meranggas haus oleh sengatan kemarau
Tiba-tiba tersingkap rahasia yang menghentikan napas
Airnya bening berkaca, pasir putihnya membentang luas tanpa batas
Angin semilir datang membayar lunas segala letih di raga
Pesona Labalekan dari kejahuan mengobati rindu
Pantaslah ia mulai dicari: di sini pariwisata tabu bagi pebisnis
Ia masih murni, masih terlalu perawan
Lewoleba, Lembata, 14-17 Februari 2026
Karya Yance Dou
Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.
Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.
Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.
Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.
Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.










