Puisi: Dikau Memelukku Dalam Pesona dan Gita Lorong Zaman dari Bukit Cinta Karya Yance Dou

Pesona Bukit Cinta di Waijarang, salah satu destinasi wisata di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Sumber foto ilustrasi: mytrip.co.id, 19 Juli 2022

Doa yang Tertahan di Atakore dan Leragere

 

Semoga tiada mata yang serakah menodaimu

Tiada tangan nakal yang merusak asrimu

dan tiada niat tangan jail melukai tanah

dan alam nan indah di Atakore dan Leragere

 

Begitulah isi hati dan kisah sang ‘ksatria baja hitam’ dari tanah Papua

yang menyusuri setiap sudut keindahan—

dari megahnya cakrawala hingga sucinya

Alam perawan Bukit Cinta dan Bukit Doa lalu doaku: aku kan kembali lagi

 

Dari Atakore, Atadei, doa ini juga terdaras:

Tuhan, lindungi dan beri nikmat sehat selamanya

Untuk sang gembala dan guru kami, Mgr Dr Leo Laba Ladjar OFM

Di usianya yang sudah sepuh ia bertabur berkat

 

Gita Lorong Zaman dari Bukit Cinta

Alam tanah Lembata, pesona jantung Lewoleba di sisi Bukit Cinta

Dusun Riang Dua yang hening dalam tasbih sunyi

Pesona pulau mungil: Solor dan Adonara dari bibir Bukit Cinta

Kau bukanlah tanah terasing bagi musafir dari bumi Cenderawasih

Kau tak lebih guratan abadi di lorong-lorong sejarah nurani

 

Ruang-ruangmu dilingkari pesona, di mana ribuan pasang mata berziarah

Lalu jutaan sukma terhempas, tertunduk oleh pukulan angin cinta yang megah

Lembata, kau tak lagi terjamah oleh hitungan kata

 

Kemolekan bukit-bukitmu menari dalam simfoni

Spot wisata merajuk rindu dan eloknya Bukit Cinta

menyala di dada setiap peziarah, membakar kenangan

menjadi ukiran abadi yang menempel rapat di dinding jiwa

 

Lukisan agung Sang Khalik terhampar tanpa cela

tiap lembar sejarahmu basah oleh embun kekaguman

Kau menjadi buah bibir yang menolak reda

disentuh kesejukan angin gunung dan ditenangkan dekap samudra

 

Ia terekam bukan sekadar di dalam kotak lensa modern nan fana

melainkan terpahat kukuh di relung terdalam sanubari

sebagai kekasih yang takkan pernah lekang oleh gerus memori

 

Dikau Memelukku Dalam Pesona

Ketika sang ksatria dari ufuk timur tanah Papua

—Satria Yan Margono— menjejakkan raga

Langit menyambut dengan biru terangnya

memeluk bumi tanpa jeda di tanah para lamafa (juru tikam paus)

 

Ombak mendaratkan salam lewat deburan riuh di lambung Kapal Maria

Sementara dedaunan hijau menari, menggeliat kian kemari

Menyongsong kedatangan sang pengembara

dari tanah fajar pertama kali menyingsing

 

Engkau menyapa peziarahanku dengan lembaran fakta yang nyata;

Lembata, sejauh mata memandang, adalah hamparan keajaiban

Aku menyapa, dan kau menyambut dengan senyuman jiwa

yang takkan pernah pupus digerus nusa para pelayan Sabda

 

Laut Lamalera yang garang di beranda bibir Laut Sawu

Gunung Ile Lewotolok yang perkasa

Pantai Waijarang, Bukit Doa dan Bukit Cinta

Hingga Pantai Bean di kaki Uyelewun yang menyedot cinta para misionaris asing

 

Semuanya berbisik mesra, tak sanggup kubalas hanya dengan dekap dada

Di luar adat dan kebudayaan yang luhur

Kau adalah nusa mempesona yang dipeluk buih lautan

Bermahkotakan pasir dengan sejuta rona dan rupa

 

Ingatan membentang: pasir kemerahan bagai tetesan darah

Pasir putih di Mingar bagai serpihan salju di puncak sunyi

Semua bernyanyi, mengikuti irama agung Sang Pelukis Abadi

Aku terbuai, tenggelam dalam malam penuh impian,

 

Menatap gugusan bukit yang berbaris manja memanjakan pandang

Ziarah panjang dan melelahkan membenam dalam jiwa

Kala menyusuri jalanan menuju Loang, kota jumbo di selatan

Menyibak rimbun bukit hijau yang menyejukan peluh di raga

 

Ada tebing batu yang setia berdiri kokoh di Lewopenutung-Warawatu

Menantang amukan ombak berpuluh-puluh windu kiriman dari Laut Sawu

Di bawahnya, gua-gua karang membentang bisu

tempat para nelayan merebahkan lelah usai menjaring ikan

 

Di sepanjang jalan yang lengang

ditemani pohon-pohon rindang yang meranggas haus oleh sengatan kemarau

Tiba-tiba tersingkap rahasia yang menghentikan napas

Airnya bening berkaca, pasir putihnya membentang luas tanpa batas

 

Angin semilir datang membayar lunas segala letih di raga

Pesona Labalekan dari kejahuan mengobati rindu

Pantaslah ia mulai dicari: di sini pariwisata tabu bagi pebisnis

Ia masih murni, masih terlalu perawan

Lewoleba, Lembata, 14-17 Februari 2026

Karya Yance Dou

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.